Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2011

Belajar Mendengarkan

Hari Minggu (27/01) adalah hari dimana saya tepat berusia 24 tahun 1 bulan. Saya memutuskan untuk menghabiskan sore bersama Klab Klassik di Tobucil. Karena agendanya adalah peserta boleh datang dengan lagu favorit dan akan dibahas oleh narasumber musik, maka saya tertarik. Mungkin kalau temanya main musik klasik atau bahas hal-hal keklasikkan lainnya, saya tidak akan tertarik karena ... aduh, itu jauh diluar nalar saya. Saya ingin tahu apa kata narasumber tentang musik-musik di luar klasik.
Setelah banyak memilih, akhirnya jatuh pada Daft Punk - Something About Us. Seperti yang sudah saya duga, dari sekian lagu yang akan saya bawa, saya akan memilih ini sebagaimana saya memilihnya pertama kali. Saya suka lagu ini semenjak awal saya mendengarkannya. Menurut saya, lagu ini manis.
Bandung agak kurang seru karena saat itu hujan. Saat saya datang, pertemuan belum dimulai hingga waktu menunjukkan sekitar pukul setengah empat. Di sana saya bertemu Marty, teman menulis saya di writer's …

Jurnal Kecemasan

Saya melewati beberapa hal menarik di minggu ini. Pertama, saya datang ke kelas filsafat untuk pemula di Tobucil yang sudah saya tunggu-tunggu setelah sekian lama karena membahas topik yang menarik: mitos. Saya suka mitos tapi tidak tahu apa-apa tentangnya. Bagaimana seseorang bisa suka pada sesuatu yang tidak diketahui? Banyak pengetahuan yang saya dapat tapi tidak akan saya tuliskan di sini karena terlalu banyak dan saya terlalu malas menuliskannya. Mitos, yang merupakan hasil proyeksi manusia terhadap model ideal, mungkin terjadi saat manusia memperhatikan kehebatan alam dan merasakan sebuah ketergetaran. Misalnya manusia mengkreasi sebuah cerita saat ia melihat petir yang menggelegar. Oh, ya ampun, akhirnya saya menuliskan juga.
Lalu ... lalu apa? Tidak ada. Jadi saya hanya melewatkan satu hal menarik di minggu ini.
Saat Sabtu pagi sampai siang, saya pelatihan bersama Pak Fidelis Waruwu yang semoga saya selalu ingat kata-kata dan berdoa agar suatu hari saya bisa sepertinya. Sabtu si…

Untukmu

Nah, kalau kamu sih perlakuannya beda. Meski sama-sama harus keluar, kamu enggak akan aku tarik paksa lalu aku tendang setelahnya. Kalau kamu akan aku gandeng tangannya, berjalan ke arah pintu keluar sambil mengobrol tentang keseharian. Setelah di ambang pintu, tidak akan kututup pula pintunya. Malah akan aku antar ke ruangan lain dimana kamu pertama kali berasal: teman.
Tugasku sudah selesai.

Ketidaktahuan

Bumi terus berputar. Dunia berkembang pesat. Manusia terus berbicara apa yang mereka pikirkan. Konflik dengan diri, dengan sesama manusia, dengan Tuhan, ternyata tidak juga terhindarkan.

Dunia kerja menyebalkan. Orang dewasa apalagi. Konstruksi sosial pun mulai menuntut. Pacar selingkuh. Beberapa orang mulai mengeluh. Hubungan pertemanan yang merenggang.

Di saat seperti ini, ketidaktahuan terkadang menjadi hal yang baik. Tutup mata, tutup telinga, matikan semua perasa, pura-pura tidak tahu saja. Biar benang maya terus kusut di luar sana karena beberapa masalah mungkin tercipta untuk tidak diselesaikan dan tidak dipikirkan.

Kau tidak perlu tahu semua hal di dunia. Tidak tahu sesuatu kadang lebih baik ketimbang tahu.

Ignorance is bliss.

Walau ke Ujung Dunia

Semalam (14/02) Andika, Neni, dan saya pergi ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) untuk menghadiri acara Baladawai Soundversation. Dua artis ternama yang menjadi bintang tamu adalah Maya Hasan dan Tohpati. Acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa pendidikan Seni Musik angkatan 2007 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Wah, agak bangga juga saya sebagai almamater UPI karena kampus bisa mengadakan acara sebesar ini dan bisa mendatangkan artis sebesar itu.
Awalnya saya tidak tertarik amat untuk datang, tapi Neni mempersuasi saya untuk ikut karena dia ingin melihat Maya Hasan. Gimana nanti deh--pikir saya--karena saya pun punya rencana lain. Tapi--pikir saya lagi--ini adalah kesempatan saya, setelah sekian lama, nonton konser musik bersama teman-teman. Sekali mendayung dua tiga acara terlampaui. Setelah datang ke acara lain, akhirnya saya datang juga di Baladawai Soundversation ini.


Acara dibuka dengan lagu Anak Jalanan yang diaransemen oleh Basscom. Basscom itu adalah Unit Kegiatan Maha…

Lepas II

Dalam tulisan kali ini, rupanya saya harus berterima kasih kepada ibu saya karena telah mengajarkan saya tentang merelakan dan memaafkan orang lain. Tiba-tiba saya ingat pada tulisan saya. Kira-kira begini:
Kedua orang tua saya masih ada di dunia. Kematian yang paling menyakitkan yang pernah saya alami dan menimpa orang terdekat adalah kematian kakak tertua ibu saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ingat sekali saat saya masih kelas empat. Itu adalah satu-satunya kematian yang membuat saya menangis setulus-tulusnya, yang menyesakkan dan mengguncang kedua bahu saya sehebat-hebatnya, bukan nangis pura-pura atau ingin masuk ke dalam lingkungan duka saja.
Tidak terbayang jika kehilangan paling dekat karena saya belum pernah merasakan. Mungkin hati ini rasanya seperti dijejali ribuan jarum, lalu lama kelamaan waktu membuat kita lebih bijak sehingga kita baru bisa rela. Sepertinya, karena Tuhan tahu sakitnya ditinggalkan--untuk melatih manusia belajar melepaskan di hari nan…

Manusiawi

Iseng, saya cari di internet tentang manusiawi. Menurut KBBI, manusiawi adalah bersifat manusia (kemanusiaan): hal itu terjadi karena kesalahan -- saja. Maka, kalau boleh saya intepretasikan, maka manusiawi itu hanya dimiliki oleh manusia yang berbuat salah.
Jadi, kalau orang menyalahkan orang lain karena suatu masalah dan memuji diri karena suatu keberhasilan, maka namanya manusiawi karena begitulah sifat manusia. Tapi kalau orang yang melakukan derma--agaknya jarang dinamakan manusiawi karena, ya tadi, label manusiawi baru dikemukakan saat terjadi karena kesalahan.
Kadang istilah manusiawi menjadi pengecualian sendiri terhadap sebuah kesalahan. Contoh seperti yang ada di gambar ini yaitu ada seseorang yang menguap karena mengantuk/bosan. Itu tidak apa-apa karena itu manusiawi. Tapi bukankah seorang prajurit seharusnya selalu sigap dan terjaga? Bagaiaman jika musuh datang saat kondirinya tidak sigap? Ah, tapi tidak apa-apa, toh namanya manusia dan mengantuk itu manusiawi.
Padahal istila…

Random

Paving block. Hujan. Lembab. Saya takut ini membubarkan rencana menulis lalu hewan-hewan akan berebut masuk ke kandang yang luasnya tidak seberapa, lalu mereka akan berhimpitan, lalu para kijang akan saling menyakiti karena tanduknya saling menggores tidak sengaja. Lalu si babi, babi yang jorok itu, akan semakin jorok karena kandangnya becek padahal mungkin dia senang-senang saja karena bahkan babi memakan tinjanya sendiri. Babi memakan apapun!

Teringat dengan seorang teman yang pernah diancam dirinya akan dicacah lalu cacahannya diberi ke babi. Diam-diam di dalam hati kuamini karena dia itu sialan sekali.

Menulis. Menulis. Menulis. Kini apalagi yang harus kutulis sementara si monyet bergondok itu terus berisik, menjerit, dan mungkin menertawakan monyet-monyet yang ada di depannya yang membawa kamera. Dia pasti mengkomunikasikan sesuatu. Mungkin ia rindu dengan monyet bernama Isabela saat ia masih berada di Kalimantan. Isabela adalah nama pemberian orang luar negeri yang mengkonservasi …

Pengumuman: Dilema

Saya akui bahwa semenjak SMP saya ituinternet freak. Saya bisa berlama-lama di depan internet, menghabiskan banyak waktu, dan banyak uang untuk internet. Apalagi dengan adanya social networkseperti Friendster, Live Connector, Blogspot, Multiply, wah ... saya sering update hal personal tentang saya dan menjadi tidak lebih dariattention whore.
Sampai sekarang. Facebook dan Twitter.
Namun agaknya saya mengalami sebuah kesalahan. Saya lupa itu adalah tempat umum yang terbalut dalam dunia maya yang dibaca oleh banyak orang. Saya terlalu terbuai oleh nikmatnya menyalurkan perasaan melalui kata-kata dan dengan GR-nya saya yakin bahwa saya punya niat baik yaitu berbagi pengalaman keseharian dengan orang lain. Padahal siapa juga ya mau dibagi, ya?
Saya lupa bahwa kata-kata begitu mencerminkan kepribadian seseorang. Medianya ya brand yang sebut di atas tadi. Saya lupa bahwa orang lain itu begitu sok tahu dan judgmental. Hih. Serem.
Tapi apa yang seharusnya saya tuliskan? Informasi tentang Green Pea…

Dive

I wish I could dive dive dive into the deep blue sea until no one could see me.