Jurnal Kecemasan

Saya melewati beberapa hal menarik di minggu ini. Pertama, saya datang ke kelas filsafat untuk pemula di Tobucil yang sudah saya tunggu-tunggu setelah sekian lama karena membahas topik yang menarik: mitos. Saya suka mitos tapi tidak tahu apa-apa tentangnya. Bagaimana seseorang bisa suka pada sesuatu yang tidak diketahui? Banyak pengetahuan yang saya dapat tapi tidak akan saya tuliskan di sini karena terlalu banyak dan saya terlalu malas menuliskannya. Mitos, yang merupakan hasil proyeksi manusia terhadap model ideal, mungkin terjadi saat manusia memperhatikan kehebatan alam dan merasakan sebuah ketergetaran. Misalnya manusia mengkreasi sebuah cerita saat ia melihat petir yang menggelegar. Oh, ya ampun, akhirnya saya menuliskan juga.

Lalu ... lalu apa? Tidak ada. Jadi saya hanya melewatkan satu hal menarik di minggu ini.

Saat Sabtu pagi sampai siang, saya pelatihan bersama Pak Fidelis Waruwu yang semoga saya selalu ingat kata-kata dan berdoa agar suatu hari saya bisa sepertinya. Sabtu siang hingga menjelang sore, saya mencoba tidur siang, lalu Sabtu sore menuju malam, saya menghabiskan waktu di writer's circle yang mulai membosankan tapi saya berjuang untuk tidak menunjukkan. Sabtu malam hingga malam lagi, saya dan Sapta makan di Cabe Rawit yang entah kenapa saya kehilangan selera makan hingga Minggu siang ini. Teman saya itu banyak cerita tentang pekerjaannya dan mengingatkan saya pada pekerjaan saya, tentang masa depan saya, tentang kecemasan saya, tentang mimpi-mimpi saya, dan tentang hal-hal yang ingin saya lupakan. Dan siang ini, saya tiba-tiba teringat bahwa tadi malam, saya melihat makhluk ini di depan pintu.


Saya mencoba mengacuhkannya tapi ia terus mengikuti saya hingga kamar. Lalu saya mandi, lalu saya memakai pakaian tidur, lalu mematikan lampu (saya tidak bisa tidur jika lampu menyala), dan saya beringsut masuk ke dalam selimut. Maka saat itu ia loncat dari lantai dan berdiri kaku di ujung tempat tidur, memperhatikan saya yang terlalu lelah dan tidak bisa mengurus hal-hal seperti ini.

Lalu paginya saya terbangun, menemukan dua jejak biru di lengan saya yang jika dipencet, sakit rasanya. Agak menyesal kenapa saya mengacuhkannya. Mungkin jika saya ajak dia ngobrol, saya dapat pencerahan.

Semuanya jadi terlalu random. Semoga kau bisa membaca jurnal ini. Saya .. sangat .. cemas.

Comments

Muheinz is me said…
jurnal kegalauan meureun,hehe.
Neni said…
aww, bisa2nya tidur diawasi makhluk tak dikenal..
saya merinding ini bacanya...hiiiiyy..
Nia Janiar said…
@Zein: Galau mah beda deui, Zen.. penyebab dan akibatnya. Ahaha..

@Neni: Ati2 ya, Neni, katanya mau ke kost2an Neni ceunah..
Sundea said…
Agak2 surealis gini, ya, Ni? Gue baru liat post yang ini ...

Btw, gue setuju, mungkin mustinya makhluk itu lo ajak ngobrol. Ajak minum Teh Sariwangi bersama.

Btw, gue rasa makhluk aneh itu cuma kesepian. Sebenernya dia ngerasa cuma lo yg bisa jadi temennya.

Komentar ini terjadi dengan begitu random ... hehe ...

Kalo suatu kali lu ketemu lagi sama makhluk itu, salam dari gue ...
Nia Janiar said…
Iya, De.. gue juga tidak mencium aroma yang membahayakan ketika dia dateng.. kayaknya dia butuh temen. Mudah-mudahan ketemu lagi.

Popular Posts