Lepas II

Dalam tulisan kali ini, rupanya saya harus berterima kasih kepada ibu saya karena telah mengajarkan saya tentang merelakan dan memaafkan orang lain. Tiba-tiba saya ingat pada tulisan saya. Kira-kira begini:

Kedua orang tua saya masih ada di dunia. Kematian yang paling menyakitkan yang pernah saya alami dan menimpa orang terdekat adalah kematian kakak tertua ibu saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ingat sekali saat saya masih kelas empat. Itu adalah satu-satunya kematian yang membuat saya menangis setulus-tulusnya, yang menyesakkan dan mengguncang kedua bahu saya sehebat-hebatnya, bukan nangis pura-pura atau ingin masuk ke dalam lingkungan duka saja.

Tidak terbayang jika kehilangan paling dekat karena saya belum pernah merasakan. Mungkin hati ini rasanya seperti dijejali ribuan jarum, lalu lama kelamaan waktu membuat kita lebih bijak sehingga kita baru bisa rela. Sepertinya, karena Tuhan tahu sakitnya ditinggalkan--untuk melatih manusia belajar melepaskan di hari nanti--ia sengaja membuat kejadian-kejadian yang membuat manusia kehilangan hal-hal kecil misalnya hilang uang, hilang barang kesayangan, hilang seseorang.

Bukan, bukan berarti orang itu ke alam baka, tapi kualitas keadaan psikologisnya tidak sebesar yang lalu sehingga kita harus belajar bahwa perasaan orang lain bisa meluruh dan di saat yang bersamaan kita harus melepaskan, kita harus bisa merelakan.

Maka, untuk melatih kehilangan yang sangat besar di suatu hari nanti, saya harus belajar melepaskan sekali lagi. Membiarkan hal yang selama ini saya pegang dan saya yakini untuk terbang melayang.


mohon agar saya jangan dibawa ke tempat dimana dulu saya berjuang setengah mati supaya bisa keluar


Tentunya saya tidak akan membebat seseorang untuk bisa tinggal bersama saya, merantai kedua kakinya lalu menjangkar di hati saya agar tidak bisa kemana-mana. Dan bagi saya, kata-kata yang saya kutip itu seperti doa: harus berulang agar kejadian.

Lepas, lepaslah kawan. Relakan hal-hal yang sudah kadaluarsa. Daripada kau menyimpannya dan membuat dirimu sendiri sakit.

Kalau saya harus melepaskan satu balon lagi, maka itu tidak mengapa. Karena mungkin hidup memang begitu adanya.

Comments

Anonymous said…
aku suka...ijin publikasi boleh????

-bolehbaca-
Nia Janiar said…
Monggo..

Popular Posts