Random

Paving block. Hujan. Lembab. Saya takut ini membubarkan rencana menulis lalu hewan-hewan akan berebut masuk ke kandang yang luasnya tidak seberapa, lalu mereka akan berhimpitan, lalu para kijang akan saling menyakiti karena tanduknya saling menggores tidak sengaja. Lalu si babi, babi yang jorok itu, akan semakin jorok karena kandangnya becek padahal mungkin dia senang-senang saja karena bahkan babi memakan tinjanya sendiri. Babi memakan apapun!

Teringat dengan seorang teman yang pernah diancam dirinya akan dicacah lalu cacahannya diberi ke babi. Diam-diam di dalam hati kuamini karena dia itu sialan sekali.

Menulis. Menulis. Menulis. Kini apalagi yang harus kutulis sementara si monyet bergondok itu terus berisik, menjerit, dan mungkin menertawakan monyet-monyet yang ada di depannya yang membawa kamera. Dia pasti mengkomunikasikan sesuatu. Mungkin ia rindu dengan monyet bernama Isabela saat ia masih berada di Kalimantan. Isabela adalah nama pemberian orang luar negeri yang mengkonservasi dan berdedikasi pada kelestarian primata. Pasti namanya Bella. Bella Swan.

Sebetulnya Bella Swan mengingatkan pada film Twilight yang dicaci maki oleh kelompok kami. Padahal tidak boleh begitu karena semua hal ada pasarnya dan kami harus menonton yang sesuai pasar kami.

Hujan. Tolong jangan hujan. Nanti Neni bisa semakin galau. Segalau Bekantan, si monyet cantik berhidung mancung yang berada di pojok dengan mata yang menerawang sambil membawa sepotong pepaya di tangan dan mengunyahnya dengan dramatis. Kunyahan membuat aku teringat dengan Neni yang mengaku tidak pernah mengunyah makanan yang masuk mulut, layaknya buaya yang kulihat di sini. Dia terdiam kaku, berjemur sampai kulitnya pecah-pecah juga tidak peduli di sekitarnya banyak sampah.

Aku mau itu, perahu merah itu yang mengelilingi danau buatan yang luasnya tidak seberapa. Agak miris karena mengingatkanku bahwa tahun ini aku tidak akan liburan demi pencerahan masa depan.

Cerah. Mudah-mudahan hari ini cerah dan tidak hujan. Hujannya nanti pada saat kami makan saja, Tuhan. Kalau hujan, semuanya orang di sini akan berlarian, seperti semut yang sedang asik mengerubungi makanan namun karena satu sentuhan, mereka berlarian. Semua tukang pun akan berlarian dari tukang kacang, tukang topi singa, dan tukang balon cair.

Tunggu, aku mau balon itu! Balon cair mengingatkan pada keceriaan di hari Minggu!

Minggu. Minggu besok aku harus ke Jakarta, saudara menikah di sana. Sabtunya ada yang lamaran. Eh, tunggu, kenapa orang tampak terburu-buru?





Latihan menulis dari http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/02/stream-of-consciousness.html

Comments

alavya-shofa said…
ini yang namanya stream of consciousness teh ni? pingin nyobain aaaah..
Nia Janiar said…
Sebenernya Nengnong udah melakukannya waktu nulis di RL pertama kali.
alavya-shofa said…
oohhh..yang kayak gitu yah (meski gak ngerti jadi stream consciousness itu bahasa sederhananya apa). Baiklahhh..
Nia Janiar said…
Di-share doongg hasilnya. Hehe.

Popular Posts