Skip to main content

Walau ke Ujung Dunia

Semalam (14/02) Andika, Neni, dan saya pergi ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) untuk menghadiri acara Baladawai Soundversation. Dua artis ternama yang menjadi bintang tamu adalah Maya Hasan dan Tohpati. Acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa pendidikan Seni Musik angkatan 2007 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Wah, agak bangga juga saya sebagai almamater UPI karena kampus bisa mengadakan acara sebesar ini dan bisa mendatangkan artis sebesar itu.

Awalnya saya tidak tertarik amat untuk datang, tapi Neni mempersuasi saya untuk ikut karena dia ingin melihat Maya Hasan. Gimana nanti deh--pikir saya--karena saya pun punya rencana lain. Tapi--pikir saya lagi--ini adalah kesempatan saya, setelah sekian lama, nonton konser musik bersama teman-teman. Sekali mendayung dua tiga acara terlampaui. Setelah datang ke acara lain, akhirnya saya datang juga di Baladawai Soundversation ini.



Acara dibuka dengan lagu Anak Jalanan yang diaransemen oleh Basscom. Basscom itu adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UPI. Baik tapi tidak ada yang istimewa dari pertunjukkannya. Lalu acara dilanjut lagi dengan Berto Pah, seorang pemuda asal Kupang - NTT yang membawa alat musik Sasando dan mencoba memainkan lagu Lilin-Lilin Kecil. Mengapa mencoba? Karena saya dan Neni tidak bisa melihat nada lilin-lilin kecil yang kami ketahui dalam aransemen baru lagu ini. Saya agak simpati dengan Berto Pah yang mungkin sudah jauh-jauh dari NTT tapi performanya kurang maksimal dan kendala teknis yang makin memperburuk tampilannya.

Catatan untuk pihak soundsystem: Kendala teknis dalam acara ini secara signifikan menganggu.



Walau dengan sentuhan musik baru seperti keroncong atau gitar cadasnya Agung Burgerkill, lagu-lagu Chrisye lain dimainkan ulang dengan biasa. Namun dari semua itu, saya paling suka ketika Maya Hasan mulai mengiring lagu Seperti Yang Kau Minta. Sayangnya, Maya Hasan--yang saat itu memakai dress merah dengan harpa merah--tidak berperan sebagai pemain utama (hanya pengiring saja), tapi saya cukup puas dengan Orkestra Bumi Siliwangi dan vocalist yang bisa membawa emosi sedih lagu ini.


Akhirnya Tohpati Trio (Tohpati, Indro Hardjodikoro, dan Demas Narawangsa) menutup acara ini dengan empat lagu. Lagu Janger dan Gembala betul-betul membuat penonton terkesima dibuatnya. Mereka "seolah-olah" saling adu memainkan alat musik (jam session), sambil tertawa-tawa di atas panggung, mereka menularkan emosi senang dan seru ke penontonnya. Jelas dengan Kemampuan Tohpati dan Indro, saya terkesima dengan kemampuan drum Demas Narawangsa.

Sungguh, Tuhan menganugerahkan kemampuan pada manusia agar musik bisa berbicara melalui jemarinya. Telinga saya betul-betul dimanjakan.

Setelahnya, mereka dan Orkestra Bumi Siliwangi membawa suasana megah dalam hati penonton dengan lagu Mahabarata. Namun kemegahan ini tidak berlangsung lama karena acara ditutup dengan lagu Negeriku (dinyanyikan oleh semua penyanyi yang mengisi acara) yang mengingatkan saya pada acara hari kemerdekaan yang biasa dipasang di televisi swasta. Sebuah anti-klimaks.

Jelas. Saya adalah penonton yang rewel dan sulit terpuaskan.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…