Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2011

Anak Tani Mengembara ke Kota

Semalam adalah hari yang membahagiakan bagi saya karena ketika saya merindukan datang ke pameran seni, Andika mengajak saya untuk pergi ke Selasar Sunaryo. Sebelumnya saya agak clueless tentang jadwal pameran di Selasar Sunaryo karena saya merasa akhir-akhir ini jarang menerima/mengetahui undangan. Andika bilang bahwa Selasar Sunaryo memang sedang jarang mengadakan pameran.
Pameran itu berjudul Mesin Jawa: Babad Keluarga (Java's Machine: Family Chronicle), sebuah pameran instalasi karya Jompet Kuswidananto. Ia mencoba menggambarkan masyarakat Jawa ketika pertama kali mendapatkan modernisasi dan globalisasi dengan masuknya mesin-mesin ke tanah Jawa. Seperti yang dikatakan kuratornya, Agung Hujatnikajennong, selain menerima, masyarakat Jawa juga harus bertahan dari sikap puritanisme dan bentuk-bentuk hagemoni melalui pemaksaan kehendak, paham, standarisasi, dan sebagainya.

Pilar-pilar tanpa dinding mengajak para pengunjung untuk masuk ke dalam konfigurasi ruang yang sekat batasnya sen…

Memperpendek Jarak

Saya mesti mengamini tulisan teman saya yang berjudul Drop Expectations. Terkait dengan tulisan saya sebelum ini (Menulis), agaknya saya harus pintar-pintar menurunkan harapan dan memperpendek jarak 'diri saya sekarang' (real self) dan 'diri yang saya inginkan' (ideal self). Gap atau jarak ini nih yang biasanya bikin orang menjadi gila.

Ini bukan berarti saya tidak boleh berharap. Menurut saya, berharap itu perlu. Harapan bisa menjadi sebuah tujuan atau standard dimana saya mau menempatkan diri saya nanti. Namun jika ketinggian dan terlalu dipikirkan, tidak baik juga. Saya hidup di sekarang (present). Saya tidak hidup di masa lalu (past) dan di masa depan (future). Jadi, betul, lepaskan sedikit tali kekang pada diri sambil melakukan hal yang terbaik karena untuk merubah masa lalu dan masa depan adalah sekarang.

Menulis

Saya mau bercerita tentang dunia menulis karena ini mulai agak menyesakkan.
Dalam menulis, saya banyak sekali mendapatkan dukungan, baik dari keluarga, teman, dan bahkan orang yang tidak saya kenal. Misalnya ada yang tiba-tiba mengirim email untuk bercerita kebermanfaatan tulisan saya (artikel) dan memberi semangat untuk terus produktif dalam menulis. Mendapat umpan balik yang baik membuat saya yakin bahwa saya memiliki minat dan bakat di bidang menulis.
Saya baru sadar bahwa sedari kecil saya suka menulis. Tidak hanya diary, tapi juga cerita pendek. Tulisan-tulisannya masih banyak terpengaruh oleh komik horor jepang. Semenjak kenal novel bagus, saya mulai meninggalkan komik. Kini tulisan saya terpengaruh oleh Sapardi Djoko Darmono dan Ayu Utami. Sapardi mengajarkan saya untuk menulis sederhana namun bermakna, tanpa kata-kata njelimet agar terkesan pintar (diamini oleh Remy Sylado yang berkata bahwa orang pandai adalah orang yang menjelaskan sesuatu menjadi sederhana). Ayu Utami mengaja…

Pemakluman

Agaknya saya punya standar "manusia dewasa" yang tinggi. Untuk saya katakan dewasa, seorang manusia tidak harus memiliki umur yang besar, tapi harus memiliki kualitas ini ini ini dan itu itu itu. Karena menurut saya, dewasa bukan kuantitas, melainkan kualitas.
Hari ini saya mau berbicara tentang kualitas. Saya lupa dengar dari siapa, tapi katanya orang dewasa itu tidak meminta pemakluman. Sebaliknya, orang dewasa itu harusnya memaklumi, memahami, atau mengerti. Memaklumi siapa? Mungkin memaklumi orang yang lebih muda (remaja) karena mereka belum memiliki jalan pikiran yang stabil dan memaklumi orang yang lebih tua karena jalan pikiran sudah membatu adanya (rigid). Manusia dewasa, yang harusnya memiliki value (nilai) atau prinsip, lebih fleksibel dalam menjalani hidup. Fleksibel itu maksudnya ada kompromi dalam pikiran yang disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.
Saya setuju sekali ketika teman saya, Sapta, mengajarkan saya untuk bisa memaklumi orang tua. Dia menganalogikan d…

Konflik

Perlu diamini bahwa psikologi dan filsafat membuat saya berubah banyak. Salah satunya adalah kemampuan keluar dari diri untuk merefleksi apa yang telah saya lakukan lalu saya mencoba memperbaiki hal yang buruknya. Psikologi dan filsafat membuat saya mencintai kearifan dan kebijaksanaan. Maka dari itu, saya mencoba arif dan bijak dalam hidup dengan mencoba memahami perasaan orang lain. Saya jadi terlihat bijak, mungkin bahasa filsafatnya. Dewasa, bahasa psikologinya. Tua, bahasa awamnya.
Aduh, dulu saya ini temperamental sekali. Saya mudah marah dan mudah tersinggung pula. Kalaupun sekarang masih terlihat begitu, percayalah ... saya dulu lebih parah. Selain memanfaatkan ilmu untuk diri sendiri, saya mencoba masuk ke ranah hubungan saya dengan orang lain. Walaupun berimbas baik, tapi hubungan menjadi sebuah proses yang lama--terutama saat konflik. Kenapa? Karena saat saya konflik, saya jadi merasa harus bisa menahan emosi saya dengan berempati, memikirkan bagaimana rasanya jika saya bera…

Pengumuman: Transendensi di Tingkat Atas

Kalau dari para pembaca pernah membaca Kain Malam, Aurora, dan Angst, maka tulisan itu akan berlanjut dengan label "Transendensi:" di awal judul, sehingga tidak perlu saya penuhi tulisan dengan tautan ke tulisan awal.
Sebaiknya tempat tidak perlu ditunjukkan karena mungkin merusak imajinasi saja. Tapi saya terlalu senang sehingga saya ingin berbagi dengan para pembaca. Tadi siang, saya ke atas. Sepertinya Ia sedang murung.

Rajah

Seni rajah merajah ini sebenarnya sudah saya lirik dari lama. Agaknya akan bagus jika sebuah gambar yang bermakna berada di kulit saya selamanya. Namun agama saya tidak memperbolehkan karena tidak boleh mengubah apa yang sudah diciptakan olehNya. Oh, baiklah. Mungkin jika saya tidak beragama bukan agama saya sekarang, saya pasti akan merajah gambar ini di tengkuk dan punggung saya: