Konflik

Perlu diamini bahwa psikologi dan filsafat membuat saya berubah banyak. Salah satunya adalah kemampuan keluar dari diri untuk merefleksi apa yang telah saya lakukan lalu saya mencoba memperbaiki hal yang buruknya. Psikologi dan filsafat membuat saya mencintai kearifan dan kebijaksanaan. Maka dari itu, saya mencoba arif dan bijak dalam hidup dengan mencoba memahami perasaan orang lain. Saya jadi terlihat bijak, mungkin bahasa filsafatnya. Dewasa, bahasa psikologinya. Tua, bahasa awamnya.

Aduh, dulu saya ini temperamental sekali. Saya mudah marah dan mudah tersinggung pula. Kalaupun sekarang masih terlihat begitu, percayalah ... saya dulu lebih parah. Selain memanfaatkan ilmu untuk diri sendiri, saya mencoba masuk ke ranah hubungan saya dengan orang lain. Walaupun berimbas baik, tapi hubungan menjadi sebuah proses yang lama--terutama saat konflik. Kenapa? Karena saat saya konflik, saya jadi merasa harus bisa menahan emosi saya dengan berempati, memikirkan bagaimana rasanya jika saya berada di tempatnya, apakah ini kesalahan persepsi saya saja, lalu mencari solusi yang baik untuk berdua.

Saya jadi kelihatan baik. Tapi lama kelamaan saya jengah juga. Apalagi saya jadi harus memburu orang lain yang konflik dengan saya untuk menanyakan alasan/pendapatnya kenapa ia demikian, semata-mata untuk kebaikan atau ketenangan hati saya. Perlu diingat bahwa tidak semua orang mau memberikan alasan, penjelasan, dan penyelesaian. Ketimbang mencari penyelesaian, kadang mereka menyalahkan. Padahal, untuk saya, jika kalau masalah sudah selesai, maka saya akan mudah melupakan. Namun jika tidak selesai, akan saya ingat-ingat, ungkit-ungkit, dan bahkan dendam. Tapi justru itu semua adalah hal-hal yang saya hindarkan karena hal-hal itu tidak membawa apa-apa kecuali menggerogoti saya dari dalam.

Lalu kenapa saya harus mencoba mengerti perasaan orang lain sementara orang lain tidak mengerti saya? Saya mulai berpikir enak sekali jadi orang yang tidak sensitif, tidak peduli, dan jahat. Saat berkonflik, rasanya mudah sekali mereka mengeluarkan semua perasaan-perasaannya, legal menyalahkan orang lain, berkata kasar tanpa peduli menyakiti. Yaa.. paling dijauhi. Tapi kalau tipe orangnya tidak sensitif dan tidak peduli, pasti itu tidak akan menjadi masalah. Tidak apa-apa masalah tidak selesai, yang penting hati puas.

Bolehlah sekali-kali jadi orang jahat saat berkonflik.

Comments

Sundea said…
Kalo lo nggak sensitif, lo nggak akan bisa nulis sebagus begini, Ni ... =)
Nia Janiar said…
Dea, elu tau bener deh cara ngebesarin hati orang. Hehe :)

Popular Posts