Skip to main content

Menulis

Saya mau bercerita tentang dunia menulis karena ini mulai agak menyesakkan.

Dalam menulis, saya banyak sekali mendapatkan dukungan, baik dari keluarga, teman, dan bahkan orang yang tidak saya kenal. Misalnya ada yang tiba-tiba mengirim email untuk bercerita kebermanfaatan tulisan saya (artikel) dan memberi semangat untuk terus produktif dalam menulis. Mendapat umpan balik yang baik membuat saya yakin bahwa saya memiliki minat dan bakat di bidang menulis.

Saya baru sadar bahwa sedari kecil saya suka menulis. Tidak hanya diary, tapi juga cerita pendek. Tulisan-tulisannya masih banyak terpengaruh oleh komik horor jepang. Semenjak kenal novel bagus, saya mulai meninggalkan komik. Kini tulisan saya terpengaruh oleh Sapardi Djoko Darmono dan Ayu Utami. Sapardi mengajarkan saya untuk menulis sederhana namun bermakna, tanpa kata-kata njelimet agar terkesan pintar (diamini oleh Remy Sylado yang berkata bahwa orang pandai adalah orang yang menjelaskan sesuatu menjadi sederhana). Ayu Utami mengajarkan tema sosial yang sebetulnya saya minati sedari dulu.

Pernah dikirimkan ke penerbit, ke koran, dan ke lomba, tapi pun pernah tidak ditolak. Sementara itu saya mulai ikut komunitas menulis yang akhirnya membawa saya ke sebuah jaring laba-laba besar yang setiap sudut jaringnya saling terkait. Saya jadi banyak kenalan. Namun dirasa komunitas pun tidak membawa saya kemana-mana, hanya sebuah keyakinan bahwa saya hanya mampu saja namun produk akhirnya tidak ada.

Ini dia. Produk ini yang saya cemaskan. Agaknya istilah penulis baru sah dipakai jika saya sudah membuat sebuah produk, misalnya buku, sudah diterbitkan di koran atau majalah apa, atau menang di sebuah ajang yang sangat besar. Ibarat istilah doktor baru sah jika orangnya sudah mengeluarkan disterasi.
Selain itu saya juga merasa mimpi dan potensi yang ini harus terlaksana dan tidak boleh terbengkalai seperti halnya dalam musik. Ini harus terwujud. Karena saya tidak mau bangun di suatu pagi lalu saya menyesal kenapa saya tidak memperjuangkan mimpi saya dan ternyata semuanya sudah terlambat (atau lebih baik terwujud sedari dulu).

Lama-lama kelihatannya saya jadi ambisius dan jadi meletakkan beban di pundak sendiri. Sangat jauh dari niat awal saya menulis. Ini jadi tidak menyenangkan.


Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…