Skip to main content

Pemakluman

Agaknya saya punya standar "manusia dewasa" yang tinggi. Untuk saya katakan dewasa, seorang manusia tidak harus memiliki umur yang besar, tapi harus memiliki kualitas ini ini ini dan itu itu itu. Karena menurut saya, dewasa bukan kuantitas, melainkan kualitas.

Hari ini saya mau berbicara tentang kualitas. Saya lupa dengar dari siapa, tapi katanya orang dewasa itu tidak meminta pemakluman. Sebaliknya, orang dewasa itu harusnya memaklumi, memahami, atau mengerti. Memaklumi siapa? Mungkin memaklumi orang yang lebih muda (remaja) karena mereka belum memiliki jalan pikiran yang stabil dan memaklumi orang yang lebih tua karena jalan pikiran sudah membatu adanya (rigid). Manusia dewasa, yang harusnya memiliki value (nilai) atau prinsip, lebih fleksibel dalam menjalani hidup. Fleksibel itu maksudnya ada kompromi dalam pikiran yang disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.

Saya setuju sekali ketika teman saya, Sapta, mengajarkan saya untuk bisa memaklumi orang tua. Dia menganalogikan dengan batu tapi saya lupa. Intinya adalah justru kita--manusia dewasa--aneh jika minta pemakluman dari orang tua. Sama anehnya seperti kakak sepupu saya yang sedang stres lalu meminta pemakluman dari anak berusia empat tahun (dia sadar dan dia mengakui kesalahannya. Hebat.)

Namun pada kenyataannya, ah, kadang yang saya harapkan itu tidak saya dapat dari orang-orang yang awalnya saya anggap dewasa.

Beberapa orang yang lebih tua dari saya menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Oke, saya dengarkan karena mungkin saya bisa belajar sesuatu dari pengalaman hidupnya. Saya pikir proses bercerita ini hanya berbagi pengalaman saja tapi ternyata tidak. Ada beberapa dari mereka yang meminta pemakluman misalnya, "Nia, 'kan saya tuh begini. Jadi harusnya kamu kalau berhubungan sama saya harus gini gini gini, jangan gitu gitu gitu ..." Wah, saya kecewa. Seharusnya saat manusia memiliki kekurangan dan mengetahuinya, jangan dijadikan pembenaran, tapi harusnya dilawan.

Kasus di atas itu berhubungan dengan labeling diri. Saya tidak suka orang yang melabel diri (walaupun saya juga masih melakukannya), terutama orang yang melabel diri agar ia bisa bertindak secara legal dengan labelnya lalu meminta pemakluman. Label, mungkin bisa juga disebut diagnosis, harusnya menjadi suatu tanda bahwa harus diberikan intervensi tepat adanya. Misalnya, "Oke, saya ini broken home, tapi masa lalu yang tidak enak ini harus saya lawan." Bukannya jadi pemakluman bahwa ia bisa melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain lalu bilang, "Kan saya ini broken home."

Paham maksudnya?

Saya sadar semua orang ingin dipahami, ingin dimaklumi. Tapi saya lebih sadar kalau manusia juga memiliki pilihan untuk memperbaiki diri.

Comments

vendy said…
Gue yakin ini bisa dicapai pada suatu kondisi dimana gue berhenti berasumsi dan cuma bisa mengalir.

Cuma ya itu . . .
Nia Janiar said…
Cuma ya itu apa hayooo?

Tapi gak ikut mainstream juga bisa kok..
GlamorousGirl said…
nice blog!love it!
come and check out my blog on:
http://www.bloglovin.com/en/blog/2187105/glamourgirl
http://glamourgirl-bg.blogspot.com
or vote for me on:
http://hypeed.com/ai30#p485
Sundea said…
Dewasa itu terdiri dari kata "Dewa" dan "Asa". Hmmmm ...

(pasti lo mau protes lagi karena gue nggak jelas dan nggak menjelaskan secara lengkap ... ngikngingik ... *grin*)
Nia Janiar said…
Dewa = tinggi
Asa = harapan

Dewasa = harapan yang tinggi.

Hihihi.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…