Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2011

Psychedelic Party

Berbekal niat yang tinggi, saya datang ke Ruku yang tidak mudah ditempuh oleh pejalan kaki karena letaknya sangat jauh sekali. Belum lagi saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, membuat perjalanan terasa berat.
Lantas apa yang membawa saya harus bersusah payah menuju Ruku yang letaknya nun jauh di sana? Adalah Zeke Khaseli yang membawa saya ke sana. Terang terus saya belum pernah mendengar namanya dan juga musiknya. Embel-embel dan klaim pembawaan psikedelik pada Zeke Khaseli membuat saya penasaran seperti apakah musik psikedelik (walaupun saya sudah disarankan mendengarkan The Great Gig in The Sky dari Pink Floyd) atau setidaknya menurut Zeke Khaseli?

Dibuka dengan Midget Couple Role Model dan diakhiri dengan Pig Paranoia, pada akhirnya saya tidak bisa menyimpulkan sesuatu tentang musik psikedelik. Saya hanya bisa mengkorelasikan nada-nada yang dikeluarkan instrumen Zeke Khaseli dengan pengalaman psikedelik yang saya miliki; sebuah repetisi instrumental visual yang panjang yang kadang …

Otoritas Ada Pada Pemilik Gedung

Beberapa belakangan ini, rumah menjadi topik yang menarik perhatian saya. Mungkin karena: 1. Teman saya menulis di statusnya; Otoritas ada pada pemilik gedung. Saya tidak tahu maksudnya tapi saya pinjam kalimatnya sebagai judul utama blog ini. 2. Giuliana Rancic, seorang presenter acara gosip E! di Amerika, pernah mengeluhkan ini di acaranya karena merasa kondominium suaminya itu bukan rumahnya. Guliana kesulitan menata barang-barangnya, misalnya saat memasukkan pakaiannya ke lemari pakaian dan malah disimpan di koper karena dia merasa sedang "menginap" di rumah suaminya. 3. Kakak sepupu saya merasakan hal yang sama.

Saya belum berkeluarga namun saya tahu rasanya sebagai nebengers dan hidup di dalam bangunan yang dimiliki oleh seseorang. Rasanya serba terbatas dan tidak enak untuk mengembangkan kreativitas (misalnya mengecat dinding). Tapi saya sadar bahwa saya ini hanya saudaranya, bukan dalam hubungan yang lebih intim seperti suami atau istri.
Hal yang paling menarik pada Giuli…

Gloomy Sunday

Jika kau duduk di depan sebuah kotak warna-warni barang beberapa hari saja, kau akan melihat seorang polisi yang menjadi bintang televisi karena lipsync lagu India di internet. Dalam sekejap, ia diundang kesana-kemari, dielu-elukan layaknya seorang legend, bahkan masuk ke program berita prestisius di salah satu stasiun televisi. Lalu industri, ibarat mercusuar, langsung menyorot lampu ke arahnya. Pemuda itu ditawarkan uang banyak dan dilelang ibarat barang.
Aksinya hanya satu. Tidak, ia tidak membuat lagu maha jenius. Ia hanya pemuda biasa menyanyikan ulang lagu India. Dan ibarat jamur yang diganggu lalu tumbuh jamur-jamur lain, maka sebentar lagi akan muncul di televisi orang-orang yang bernasib seperti si pemuda.
Melihat keadaan seperti ini, agaknya para penikmat musik yang ... (saya agak kesulitan menulis disini: berkualitas? non-mainstream? agaknya label itu terlalu eksekutif. "Berbeda selera" terdengar lebih baik) dan tidak melihat musik sebagai hiburan datar, harus mengu…

Hikayat Piringan Hitam: Digital vs Analog

Hari ini (10/04) adalah hari yang bersejarah bagi saya--yang mestinya patut dirayakan dengan tumpengan--karena saya mendengarkan musik dari piringan hitam untuk pertama kalinya. Sebuah player dan beberapa piringan hitam yang dibawa Ismail Reza untuk acara Klab Klassik di Tobucil, membuat yang datang terkagum-kagum dengan keganjilan dan keklasikkan di dunia serba digital seperti ini.
Sambil menunggu yang lain datang, satu per satu piringan hitam diputar di atas turn table. Namanya sama dengan yang dipakai disc jockey, bedanya adalah turn table disc jockey memiliki karet yang kuat sehingga bisa dibuat scratching. Setelah mendengarkan lagu-lagu dari Louis Armstrong, Getz/Gilberto, Stanley Clarke, Azimuth, Sunn O)))/Boris, dan lain-lainnya, membuat teman-teman berkomentar bahwa mendengarnya seperti sedang menyaksikan pertunjukkan secara langsung dan karakter atau atmosfir lagu lebih terasa.
Diiringi sayup lagu-lagu di piringan hitam, Kang Tikno menceritakan proses pembuatan dari format a…

Single

Ehm, jadi begini, saudara-saudara ... jadi begini. Jadi saya akan menghabiskan beberapa menit ke depan mengeluh, marah-marah, dan protes terhadap apa yang sudah saya lalui beberapa jam ke belakang.
Alkisah saya baru diminta menjadi pager ayu pernikahan keponakan saya yang usianya 3 tahun lebih muda. Harusnya yang menjadi pager ayu itu abege-abege SMP atau SMA, bukan tante-tante yang sudah dewasa di usia 24 seperti saya (masih muda, namun saya kepingin sarkas). Namun karena saya single (bisa diartikan belum menikah dan belum punya pacar), maka dinobatkanlah tante ini sebagai ketua pager ayu (yang akhirnya membawahi dua pager ayu dan pager bagus anak sekolahan) dan berlagak layaknya mucikari.

Lalu selanjutnya kejadiannya begini: Nia, kamu dong yang bawa seserahannya. Nia, bawanya satu-satu aja, jangan langsung tiga. Nia, kamu bagiin dong snack-nya(nih gue kasih snake sekalian) ke orang-orang yang datang pas akad nikah. Nia, kamu jaga di depan. Nia, apa sudah dicek tempat resepsinya. Dikit…

Hunting Heritage Bersama NatGeo

Jadi, tadi pagi adalah kali pertama saya hunting (berburu foto dan tulisan) bersama forum National Geographic Indonesia regional Bandung. Tema yang diusung saat itu adalah heritage, oleh karenanya kegiatan dilakukan dikisaran Braga dan kawasan Pecinan. Maksud awalnya adalah peserta hunting membidik foto atau membuat karya tulis tentang bangunan-bangunan kelas A (bangunan bersejarah yang boleh direnovasi namun yang fisiknya sama sekali tidak boleh berubah), B (sama dengan A tapi boleh berubah sedikit), dan C (boleh berubah bahkan digusur).
Awalnya peserta janjian di The Kiosk Braga pukul 8 pagi namun akhirnya pindah ke Alfamart juga. Saat saya, Rulli (saudara laki-laki), dan Ratih (pacarnya Rulli) datang, baru beberapa orang yang berkumpul. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya briefing dan pembagian kelompok dimulai: beberapa orang ke kawasan alun-alun dan beberapa orang ke kawasan Pecinan. Awalnya saya, Rulli, dan Ratih memilih ke Pecinan. Namun yang ke alun-alun hanya tiga orang…

Sendiri

Pada akhirnya semua manusia akan berdiri di kakinya sendiri.
Saya tahu dan saya mengerti. Dengan kata lain, manusia tidak boleh bergantung kepada orang lain, secara finansial dan emosional. Karena orang lain mempunyai kehidupan sendiri dan membawa diri yang harus diurus. Apalagi jika bukan suami atau istri, bukan pula pacar, hanya teman. Oke, finansial bisa dicari. Tapi emosional?
Pernah saya sombong merasa bahwa diri ini adalah sosok mandiri. Kesombongan berakhir hingga kemarin malam, di tengah rasa takut dan cemas terhadap hidup, saya menyadari orang-orang yang sangat penting bagi saya (significant others) secara fisik dan psikis sudah jauh dari saya. Ah, ternyata saya juga emotionally dependent.
Parahnya mereka semua tidak ada di Bandung dan tidak semuanya terhubung dengan internet. Kata-kata pun tidak cukup untuk bercerita, apalagi terbatas oleh beberapa karakter saja. Mereka punya kehidupan masing-masing dan tidak boleh saya rongrong minta afeksi dengan porsi yang sama seperti dulu…