Hikayat Piringan Hitam: Digital vs Analog


Hari ini (10/04) adalah hari yang bersejarah bagi saya--yang mestinya patut dirayakan dengan tumpengan--karena saya mendengarkan musik dari piringan hitam untuk pertama kalinya. Sebuah player dan beberapa piringan hitam yang dibawa Ismail Reza untuk acara Klab Klassik di Tobucil, membuat yang datang terkagum-kagum dengan keganjilan dan keklasikkan di dunia serba digital seperti ini.

Sambil menunggu yang lain datang, satu per satu piringan hitam diputar di atas turn table. Namanya sama dengan yang dipakai disc jockey, bedanya adalah turn table disc jockey memiliki karet yang kuat sehingga bisa dibuat scratching. Setelah mendengarkan lagu-lagu dari Louis Armstrong, Getz/Gilberto, Stanley Clarke, Azimuth, Sunn O)))/Boris, dan lain-lainnya, membuat teman-teman berkomentar bahwa mendengarnya seperti sedang menyaksikan pertunjukkan secara langsung dan karakter atau atmosfir lagu lebih terasa.

Diiringi sayup lagu-lagu di piringan hitam, Kang Tikno menceritakan proses pembuatan dari format analog menjadi digital. Dalam musik yang keluar dari piringan hitam, terasa betul detail-detail alat musik dan bahkan suara nafas manusia yang hilang dalam format digital karena tidak bisa menangkap frekuensi yang dibuat akibat suara dikompres habis-habisan dan karakter alat musik menjadi tidak diperhatikan. Detail dari alat musik menjadi hal yang penting karena dapat membuat ciri khas sebuah band. Koes Plus, misalnya.

Dalam proses digital, rekaman dipisah per track. Misalnya untuk menciptakan sebuah lagu, maka orang tersebut merekam vokalnya dulu, gitarnya dulu, atau alat musik lainnya sehingga jika ada kesalahan, hanya salah satu track yang dihapus. Sementara proses rekaman analog itu dilakukan secara keseluruhan. Jika ditengah-tengah vokalis melakukan kesalahan, maka semua instrumen harus diulang dari awal.


Saya bertanya mengapa jika piringan hitam sedemikian berkualitasnya karena dapat mengeluarkan detail-detail dari musik harus diturunkan derajatnya menjadi serba digital. Jadi Kang Tikno berkisah seperti ini: piringan hitam itu awalnya ada di Perang Dunia I dan dibuat di Jerman. Awalnya piringan hitam dipakai militer sebagai alat rekam atau penyadap (lihat film King's Speech dimana piringan hitam dijadikan alat rekam). Diawali dari Les Paul di tahun 1954 yang meminta agar piringan hitam diperbanyak. Karena produksinya susah dan mahal, lalu--semata-mata mencari kemudahan--lalu industri meyakinkan bahwa piringan hitam sudah usang dan sudah tidak zaman. Maka, di tahun 1985-an, piringan hitam sudah jarang ditemukan.

Jangan-jangan selera ditentukan oleh industri, bukan industri yang menentukan selera.

Ismail Reza juga bilang bahwa kedatangan CD pertama kali diiringi promosi besar-besaran bahwa CD dapat merekam suara 20Hz - 20.000Hz. Namun belum tentu potensi CD ini bisa dimaksimalkan terkait dengan kemampuan engineer untuk menciptakan suara seperti itu. Selain dari kemampuan engineer, jelas terjadi penurunan kualitas dari piringan hitam, kaset, CD, MP3, atau lagu-lagu yang diunduh. Semua detail terkikis seiring perjalanan dan sudah--menurut istilah Kang Tono--tidak berat dan tidak kering. Kesan-kesan visual, seperti yang dikatakan Kang Diecky, bisa dikomunikasikan dengan baik oleh analog yang disebut-sebut lebih humanis. Detail-detail yang diberikan bisa membantu pendengarnya membayangkan dimana si drummer berada, bagaimana si gitaris memainkan gitarnya, dan seterusnya.

Omong-omong tentang visual, apa ya rasanya berada di bawah pengaruh mushroom sambil mendengarkan piringan hitam? Sepertinya efek visualnya lebih menggila.

Kalau dilihat dari cover piringan hitam yang menyediakan ruang besar untuk menceritakan setiap detail yang ada di musik, maka cover design pun masuk ke dalam satu kesatuan penceritaan dari sebuah lagu seperti Tarkus (1971) yang covernya diisi dengan cerita bergambar tentang makhluk Tarkus yang beregenerasi setelah berperang dengan makhluk lain yang diceritakan dalam musik selama 25 menitan tanpa jeda. Selain itu pun cover memberi ruang untuk musisi bercerita sehingga pendengar bisa merasa dekat dengan musisinya.

Satu piringan hitam hanya berisi beberapa buah lagu untuk menunjukkan jelas kualitas diutamakan ketimbang kuantitas. Kualitas baru bisa didapat jika pendengar mau duduk dan mendengarkan. Sementara itu biarkan musik memberikan jeda-jeda untuk pendengar agar bisa memaknai di setiap rincian nada.

Sekarang coba kau tengok ratusan atau ribuan musik digital yang telah kau unduh dengan cuma-cuma. Tidakkah sekali-kali kau ingin merasakan duduk berlama-lama untuk menghayati setiap detail barang satu lagu saja?

Comments

Nia, tulisannya keren :) boleh di share di blog tobucil juga ga?
Nia Janiar said…
Monggo, mbak Tarlen.. :)
BeluBelloBelle said…
Jadi inget perangkat piringan hitam lama yang sudah tak berfungsi di rumah-tinggal bagian radio-nya saja yang masih giat berbicara hehehehe...

Hmm ini infonya bagus banget Nia. (^_^) - mari kita share di tempat lain.
Makasih yaaa udah dikeluarin artikel ini :)
dududu di damdam
Nia Janiar said…
Wah, punya? Udah gak berfungsi? Gak bisa dibenerin yah?

Popular Posts