Hunting Heritage Bersama NatGeo

Jadi, tadi pagi adalah kali pertama saya hunting (berburu foto dan tulisan) bersama forum National Geographic Indonesia regional Bandung. Tema yang diusung saat itu adalah heritage, oleh karenanya kegiatan dilakukan dikisaran Braga dan kawasan Pecinan. Maksud awalnya adalah peserta hunting membidik foto atau membuat karya tulis tentang bangunan-bangunan kelas A (bangunan bersejarah yang boleh direnovasi namun yang fisiknya sama sekali tidak boleh berubah), B (sama dengan A tapi boleh berubah sedikit), dan C (boleh berubah bahkan digusur).

Awalnya peserta janjian di The Kiosk Braga pukul 8 pagi namun akhirnya pindah ke Alfamart juga. Saat saya, Rulli (saudara laki-laki), dan Ratih (pacarnya Rulli) datang, baru beberapa orang yang berkumpul. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya briefing dan pembagian kelompok dimulai: beberapa orang ke kawasan alun-alun dan beberapa orang ke kawasan Pecinan. Awalnya saya, Rulli, dan Ratih memilih ke Pecinan. Namun yang ke alun-alun hanya tiga orang, akhirnya kami memilih gabung ke alun-alun.


Kami (saya, Rulli, Ratih, Mas Christ, Mbak Rika, Cipoet, Ryan, satu orang dari WALHI) melewati kawasan padat, disambung ke pertokoan eks Yogya Banceuy, lanjut ke Sumur Bandung, naik ke menara Mesjid Agung yang setinggi 19 lantai, dan berakhir di Gedung Indonesia Menggugat untuk sharing. Sambil menunggu sharing dan membaca ulang tulisan saya di kertas, agaknya perjalanan tadi menyimpang tema heritage yang dimaksud karena saya jadinya menulis tentang kepadatan terselubung, kotornya jalanan, dan mistisisme di Sumur Bandung. Betul, ternyata. Ketika menulis atau memotret, peserta harus memiliki pedoman batasan-batasan agar masih di dalam rel tema. Selain itu tulisan saya jadinya hanya berupa hasil observasi kasat mata saja dengan data yang didukung dari opini masyarakat yang terkadang tidak valid juga (tapi bisa untuk menggambarkan dinamikanya).


Saya pikir aksi nyata dari forum National Geographic Indonesia regional Bandung ini patut diapresiasi sebagai bentuk konsistensi dan semangat untuk membuat sebuah komunitas aktif dan memiliki tujuan. Tentunya harus ada kegiatan lagi yang lebih terstruktur karena antusiasme para peserta bisa dijadikan indikator bahwa acara hunting bersama seperti ini cukup menarik dan ditunggu-tunggu untuk mendapatkan sesuatu: bisa ilmu, bisa teman, atau bahkan souvenir.

Comments

BeluBelloBelle said…
Huaahauahua...mau kapan lagi ya bakalan ada acra kayak gini...mupeng berat :)

SERUUUUU ^^V
Nia Janiar said…
Nanti bakalan ada, Bel. Hunting dinamika sosial masyarakat Bandung kayak anak jalanan, pengangguran, dll.

Popular Posts