Otoritas Ada Pada Pemilik Gedung

Beberapa belakangan ini, rumah menjadi topik yang menarik perhatian saya. Mungkin karena:
1. Teman saya menulis di statusnya; Otoritas ada pada pemilik gedung. Saya tidak tahu maksudnya tapi saya pinjam kalimatnya sebagai judul utama blog ini.
2. Giuliana Rancic, seorang presenter acara gosip E! di Amerika, pernah mengeluhkan ini di acaranya karena merasa kondominium suaminya itu bukan rumahnya. Guliana kesulitan menata barang-barangnya, misalnya saat memasukkan pakaiannya ke lemari pakaian dan malah disimpan di koper karena dia merasa sedang "menginap" di rumah suaminya.
3. Kakak sepupu saya merasakan hal yang sama.


Saya belum berkeluarga namun saya tahu rasanya sebagai nebengers dan hidup di dalam bangunan yang dimiliki oleh seseorang. Rasanya serba terbatas dan tidak enak untuk mengembangkan kreativitas (misalnya mengecat dinding). Tapi saya sadar bahwa saya ini hanya saudaranya, bukan dalam hubungan yang lebih intim seperti suami atau istri.

Hal yang paling menarik pada Giuliana dan kakak sepupu saya adalah mereka sama-sama seorang istri yang tinggal di bangunan milik suami. Mungkin rumahnya atas nama suami, dibangun dengan biaya suami, dan direncanakan pembangunannya oleh suami. Dalam reality show-nya, Guiliana sendiri jelas-jelas ditunjukkan bahwa ia tidak diberi peran untuk ikut menyumbang ide pembangunan rumahnya. Kakak perempuan saya pun demikian.

Oke, mungkin suami lebih paham dengan tata ruang. Jadi sebaiknya istri yang mengisi pernak-pernik interiornya saja.

Tapi ternyata suami pun lebih pandai mengisi interior ketimbang istri. Oke, istri boleh mem-booking dapur sebagai kerajaan kecilnya. Karena bukankah takdir istri yang sering kau sebut-sebut itu adalah melakukan pekerjaan domestik seperti memasak atau mencuci?

Saya tidak tahu nasib teman saya atau Guiliana, yang pasti kakak sepupu saya pun tidak mendapat wilayah kecilnya. Tidak dapur, tidak pula menghias--menjejak sedikit saja barang kesukaannya untuk memberi tanda bahwa ia juga tinggal di situ, hidup di situ. Ketika ia mau menata ulang atau mau melakukan sesuatu dengan dapurnya, ia tidak berani karena suami tidak memperbolehkan.

Yang menjadi permasalahan di sini adalah jika perempuan tidak dilihat dilihat sebagai partner hidup yang tinggal bersama, yang diberi kebebasan berpendapat dan didengar pula, yang juga dijalin komunikasi dua arah, maka penanggungjawab ada dipihak yang memiliki gedung tapi tidak otoriter.

Namun jika begitu caranya, maka perempuan tidak boleh ongkang-ongkang kaki dan berharap penuh pada suami. Pertama, mungkin bisa udunan biaya rumah (namun akhirnya akan ada peributan itu rumah milik siapa jika mau bercerai). Kedua, jika memang suami sudah keburu kaya dan keburu mampu membuat rumah, maka perempuan juga harus punya rumah/tanah/investasi di tempat lain untuk kasus terburuk. Tidak bermaksud mendoakan, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Jika kau memang bernasib kurang baik (sudah tidak kaya, punya suami otoriter pula), maka terima dan ikhlaskan sajalah. Jika harta dan tahta bisa membikin ego suami terpenuhi, maka beri makanlah sekali-kali namun bukan berarti kau meniadakan egomu sendiri.

Lagipula, suruh siapa kau menikahinya?

Comments

Neni said…
hahahhaa, entah kenapa nada tulisan ini terkesan sedikit sarkastis....hehehe..
Tapi bener banget tuh, ga enak banget tinggal di rumah orang lain. Tapi setelah baca ini, lebih ga enak nasib istri yg tidak punya hak 'memiliki' rumah yg dimiliki bersama2 suami...
Nia Janiar said…
"entah kenapa nada tulisan ini terkesan sedikit sarkastis."

ember :)

Popular Posts