Psychedelic Party

Berbekal niat yang tinggi, saya datang ke Ruku yang tidak mudah ditempuh oleh pejalan kaki karena letaknya sangat jauh sekali. Belum lagi saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, membuat perjalanan terasa berat.

Lantas apa yang membawa saya harus bersusah payah menuju Ruku yang letaknya nun jauh di sana? Adalah Zeke Khaseli yang membawa saya ke sana. Terang terus saya belum pernah mendengar namanya dan juga musiknya. Embel-embel dan klaim pembawaan psikedelik pada Zeke Khaseli membuat saya penasaran seperti apakah musik psikedelik (walaupun saya sudah disarankan mendengarkan The Great Gig in The Sky dari Pink Floyd) atau setidaknya menurut Zeke Khaseli?


Dibuka dengan Midget Couple Role Model dan diakhiri dengan Pig Paranoia, pada akhirnya saya tidak bisa menyimpulkan sesuatu tentang musik psikedelik. Saya hanya bisa mengkorelasikan nada-nada yang dikeluarkan instrumen Zeke Khaseli dengan pengalaman psikedelik yang saya miliki; sebuah repetisi instrumental visual yang panjang yang kadang mengalir tidak diketahui. Pedar di sana, pendar di sini. Absurd di sana, absurd juga di sini. Jadi subjektif tentunya karena saya sudah pernah mengalami pengalaman psikedelik. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Rupanya Zeke Khaseli pintar dalam menciptakan ambience psikedelik dalam tata panggungnya. Ia membawa alien, presiden Obama, penyihir, robot, dan makhluk-makhluk ganjil, bahkan ada beberapa benda lain seperti bola, kursi goyang, dan mainan kuda-kudaan yang belakangan diketahui itu idenya Ariani Darmawan dan Budi Warsito. Selain itu juga ada dukungan visual yang ditembak dari infokus berisi gambar-gambar surealis--bukan pendar warna-warni yang bergemintang di sana sini. Juga empat lampu sorot ditutup kertas minyak berwarna merah sehingga menciptakan suasana tersendiri di atas panggung.

Neowax

Zeke Khaseli dan Laudya Cheryl

Mendengar Zeke Khaseli agaknya membuat saya rindu untuk mengalami pengalaman psikedelik lagi. Musik-musik menjadi tipis, menjadi sebuah serat-serat yang saling berjauhan. Dunia menjadi serba detail dan apa yang dilihat oleh mata menjadi seraba hidup dan absurd. Sementara badan memberat, pikiran terasa keluar meninggalkan rada. Namun, jauh dari kerinduan, saya lebih sebal jika harus kehilangan kontrol pada diri sehingga mengurangi kenikmatan itu sendiri.

"Alam sudah ada di dalam dirimu, tinggal kamu keluarkan saja," ujar Haris K Gumelar, sang vokalis.

Comments

Popular Posts