Skip to main content

Single

Ehm, jadi begini, saudara-saudara ... jadi begini. Jadi saya akan menghabiskan beberapa menit ke depan mengeluh, marah-marah, dan protes terhadap apa yang sudah saya lalui beberapa jam ke belakang.

Alkisah saya baru diminta menjadi pager ayu pernikahan keponakan saya yang usianya 3 tahun lebih muda. Harusnya yang menjadi pager ayu itu abege-abege SMP atau SMA, bukan tante-tante yang sudah dewasa di usia 24 seperti saya (masih muda, namun saya kepingin sarkas). Namun karena saya single (bisa diartikan belum menikah dan belum punya pacar), maka dinobatkanlah tante ini sebagai ketua pager ayu (yang akhirnya membawahi dua pager ayu dan pager bagus anak sekolahan) dan berlagak layaknya mucikari.


Lalu selanjutnya kejadiannya begini: Nia, kamu dong yang bawa seserahannya. Nia, bawanya satu-satu aja, jangan langsung tiga. Nia, kamu bagiin dong snack-nya (nih gue kasih snake sekalian) ke orang-orang yang datang pas akad nikah. Nia, kamu jaga di depan. Nia, apa sudah dicek tempat resepsinya. Dikit-dikit Nia, dikit-dikit Nia. Nia, Niaa, Niaa!!

Begini. Bukannya saya tidak mau menolong saudara saya yang nikahan. Bagi saya aturan mainnya di sini tidak adil. Yang membuat saya tidak suka ada dua hal: pertama, saya tidak suka diperintah. Tidak ikhlas? Emang! Menyebalkan? Baru tahu? Kedua, kenapa single ini membuat saya jadi harus melakukan ini itu sementara yang tidak single bisa berbeha-beha (berleha-leha maksudnya, tapi ya tadi.. saya lagi ingin sarkas)? Ini namanya sudah jatuh ketimpa tangga. Ini apaan sih?

Ini sangat tidak adil. Kalau yang namanya acara pernikahan itu dilakukan oleh sebuah keluarga besar sebagai tim, maka semuanya terlibat dong! Mau yang janda, duda, single, kumpul kebo ... semua mendapat tugas yang sama. Kalau gini ngerjain namanya! Gila, saya paling enggak suka konstruksi sosial yang satu ini!

Lucunya, kalau saya kemukakan ini ke saudara saya, yang terjadi hanyalah misinterpretasi. Dianggap sirik-lah, dianggap ingin keburu nyusul-lah. Bukaaan, bukan itu. Justru saya bangga saya belum menikah karena kesempatan saya mengeksplor potensi saya lebih besar. Lagian kalau nyuruh saya cepet-cepet nikah, emang situ mau biayain resepsi dan kehidupan setelahnya? Enggak ,'kan? Diam saja, gimana? Kalau saya enggak mau nikah, gimana?

Dan tadi pun saya sudah di-booking untuk bulan Mei. Yea, rite.

Comments

BeluBelloBelle said…
whoahahahahaha lucu sekali cerita yang satu ini, tapi bener loooh yang SINGLE pasti dapet banyak BERKAH suruh2 dari orang-orang sekitar. hehehe biasanya kalau BERKAHNYA dilaksanakan dgn tulus entar ada kado yang super duper BIG turun secara AJAIB dariNYA.

Yaa berarti selamat datang bulan MEI dan BERKAH MEI (^_^)
Nia Janiar said…
Hahahaha.. gue mau pura2 sakit atau lembur ah di bulan Mei..
e-c-h-y said…
ya emang gitu.
Gw ama kakak gw aja digituin.
Kalo di rumah keluarga,emak gw sibuk nyuruh gw ini itu,cuci piring,bla..bla...kakak gw yg notabene udh nikah mah anteng2 aja gak disuruh2.
Auk dah ga ngerti gw!
Sundea said…
Pasang tarif aja, Ni, sapa tau bisa jadi profesi.

Yang nikah senang, elu riang, uang pun datang =D
Nia Janiar said…
@Echy: Kasian bener ya lu.. *ngomong sambil ngaca* Ahahaha...

@Dea: Ide bagus! :D
Begy said…
Udah lama ga mampir ke blog Nia. Tampilan baru nih hehe. Btw itu yang nikah Fardin ya? Kok aku ga diundang hiks
Nia Janiar said…
Bukan, Fardini kok, Beg. Hehe.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…