Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2011

Seribu Cerita di Pangandaran

Dalam rangka tugas meliput dan survey, saya pergi ke Pangandaran. Beruntung pada saat perencanaan, Eka juga berniat pergi ke sana bersama Sidik dan Woyo (teman bikers Eka). Maka, dengan dua buah motor besar dan bagasi di belakang, berangkatlah kami dari Bandung pukul 04.30 dan sampai pukul 10.30. Beberapa insiden yang terjadi di jalan membuat perjalanan ini berbiaya besar. Apa yang membuat biaya besar? Simak terus hingga selesai.
Sesampainya di sana, kami tidak langsung check in ke penginapan, tapi langsung pergi ke (Cukang Taneuh) Green Canyon, 30km dari Pantai Barat Pangandaran. Di muka Green Canyon, tampak suasana yang begitu ramai. Harga sewa 1 perahu di sana adalah Rp75.000,00 dengan harga yang sudah ditentukan dan dikoordinir dengan baik (jadi tidak ada bargain). Kami dapat urutan ke 160, harus menunggu sekitar 20 antrian yang kira-kira menghabiskan waktu 45 menit per perahu. Namun nyatanya kami tidak menunggu 900 menit karena perahu yang disediakan cukup banyak dan mobilitasny…

Ibu Tua

Mother is God in the eyes of a child.
Jika ibu adalah Tuhan, maka saya adalah seseorang yang jungkir balik untuk ia sebagai kiblat. Jika hidup adalah semesta, saya adalah planet, maka ibu adalah matahari saya. Saya mengorbit padanya. Walaupun hubungan kami kaku, bukan tipe ibu-anak yang penuh afeksi secara verbal maupun non verbal, tidak pula saling bercerita, namun kami nyaman berada di dalamnya.
Saat saya kecil, saya sering menemaninya pergi ke pasar karena saya berharap akan dibelikan sesuatu seperti mainan, namun pada kenyataannya ibu jarang sekali membelikan mainan. Mau saya cemberut sejelek apapun, ia bersikeras untuk tidak membelikan. Hal lain yang saya ingat, ketika jalan di lorong pasar, ia berada jauh di depan sementara saya ada di belakang--tidak mampu melampaui langkahnya yang cepat. Kini keadaan jadi terbalik, di usia ibu yang beranjak tua, ia sering mengeluh bahwa saya berjalan terlalu cepat. Maka saya sering menggandengnya dan berjalan pelan untuk menyamakan langkahnya.
Ib…

Arogansi Para Anti-Mainstream

Banyak teman-teman saya yang anti-mainstream. Mereka menyukai dan melakukan hal-hal yang tidak disukai mainstream. Mereka tidak akan mendengarkan musik mainstream, nonton film mainstream, bergaya yang tidak mainstream, cara berpikir yang melawan mainstream, dan lainnya. Mereka tidak akan menikmati beberapa produk industri sangat besar dan tidak akan memakai celana pensil warna-warni atau legging, dan lainnya.
Agaknya menjadi anti-mainstream bisa dibagi menjadi dua kelompok: 1) Mereka punya selera unik yang tidak sesuai dengan orang kebanyakan atau, 2) Eksklusivitas agar terlihat berbeda dan keren.
Untuk kelompok pertama, saya pikir tidak ada masalah karena selera adalah hak asasi manusia. Namun untuk kelompok dua, ada tendensi negatif dari orang-orang anti-mainstream terhadap orang-orang mainstream. Percayalah bahwa teman-teman saya pun banyak yang--menurut saya--berada di kelompok dua.
Saat Twilight atau Beiber ramai dibicarakan orang, para kaum anti-mainstream kelompok dua pun juga r…

Travelmate

Saya suka jalan-jalan ke tempat yang baru, eksotis, dan memiliki sebuah tantangan. Tentunya ketika jalan, jauh lebih enak jika ada teman karena: 1) bisa berbagi suka dan duka, 2) share cost, 3) menjaga satu sama lain. Mencari teman jalan (travelmate) juga harus satu ideologi: sama-sama nekat, sama-sama mau mencoba hal-hal baru, dan sama-sama mau diajak susah.
Beberapa kali ini, saya jalan dengan Eka. Sejauh ini saya merasa cocok dan sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga ritme jalannya sudah diketahui. Jadi, boleh jika ia dibilang travelmate saya. Eka juga orangnya nekat seperti saya, mau diajak dan mengajak susah, aware terhadap situasi, dan oke banget dalam budgeting. Saya dan Eka tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun sejauh ini masih bisa ditolerir. Agaknya saya akan merekomendasikan Eka sebagai travelmate saya, pun (mudah-mudahan) sebaliknya.


Keterpakuan dalam travelmate juga membuat diri ini menimbang jika ingin mau jalan-jalan dengan o…

Perspektif

"Daripada mengeluh bahwa mawar itu penuh duri, bergembiralah bahwa semak duri itu memiliki bunga mawar." ~ Proverb
Agaknya hidup itu ibarat kertas putih yang sebetulnya flat-flat saja. Rutin. Linear. Stagnan. Lalu yang membuatnya berwarna adalah rutinitas diisi oleh kegiatan-kegiatan yang didorong oleh motivasi. Oleh kebutuhan. Oleh pikiran.
Ini dia: Pikiran. Pikiran yang pada akhirnya sudah terkontaminasi oleh pengalaman lalu dijadikan acuan untuk menilai sesuatu hingga disebut perspektif. Saking sudah dijadikan acuan, ia membentuk titik sudut untuk memandang sesuatu. Sifatnya subjektif. Kadang baik dan kadang buruk.
Kalau si kertas ditulis dengan perspektif buruk, maka hasilnya akan buruk. Kalau si kertas ditulis dengan perspektif baik, maka hasilnya akan baik. Jadi, jangan-jangan, hidup itu sebenarnya biasa saja (tidak baik dan tidak buruk) tapi kita yang membuatnya demikian?
Proverb di atas itu sebetulnya hanya permainan perspektif. Kenapa kita harus mengeluh mawar itu berdu…

Obituari Desi

Salah satu kerabat keluarga, Desiana (akrab dipanggil Mbak Desi), meninggal pada pukul tiga pagi ini (15/05). Istri dari Asmudjo, seorang kurator seni kontemporer, meninggal karena kanker yang dideritanya.
Saya enggak kenal-kenal amat dengan Mbak Desi. Saya enggak tahu lahirnya kapan atau apa saja pameran yang ia pernah ikuti, tapi dia sering main ke rumah semenjak saya kecil. Sepertinya ia adalah teman sepupu saya yang dulu kuliah di ITB dengan konsentrasi keramik. Ketika saya besar dan di rumah saya dibikin galeri seni, Mbak Desi juga pernah berperan sebagai kuratornya. Sempat ada pameran yang sempat mundur karena Mbak Desi sakit. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk datang di tengah-tengah kesakitannya.
Seingat saya, Mbak Desi pernah duduk di ruang tengah sambil merokok. Saat itu kerudungnya dibuka. Bukan kerudung yang dipakai untuk menutup aurat, tapi kerudung untuk menutupi rambutnya yang sudah tidak ada. Sepupu saya bilang kalau Mbak Desi juga sudah banyak berobat termasuk pen…

Those Shocking, Shaking Days

Saat saya datang di sekitar pukul 15.15, sudah terlihat Ismail Reza dengan piringan hitamnya karena agenda KlabKlassik hari ini adalah menyimak album Those Shocking, Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 setengah harian. Those Shocking, Shaking Days berisi grup di era 70an seperti The Panbers, Koes Plus, The Brims, Terenchem, dan lainnya.
Sekitar 15 lagu yang diputar sore itu. Dari semuanya, lagu yang paling berkesan pada saya adalah Haai dari The Panbers. Begitu kali pertama mendengar, saya langsung lupa bahwa ini grup Indonesia karena musiknya berbeda dari jenis lagu Indonesia yang saya tahu dan liriknya berbahasa Inggris. Kesan psikedelik langsung tertangkap begitu lagu ini diputar. Belum lagi ada penggunaan gema suara (echo/reverb) sehingga suara terdengar “melayang” dan membuat lagu ini tidak terkesan kering. Kang Tikno, selaku penggemar musik-musik Indonesia, menjelaskan bahwa lagu The Panbers yang satu ini sungguh berbeda dengan lagu-lagu The Pa…

Kampung Kecil di Balik Monumen

Satu jam lima belas menit menunggu satu per satu orang yang berdatangan dari waktu yang ditentukan, akhirnya acara dibuka oleh Rika—koordinator gathering forum regional Bandung. Langit saat itu serta merta terang, menghilangkan kemurungan di pagi hari karena rintik-rintik hujan sempat berjatuhan di atas Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Di bawah tenda bambu besar yang dibuat permanen dan mungkin ditujukan untuk ruang publik atau pelindung penonton jika tidak hujan, kami duduk melingkar untuk mendengar briefing singkat dari Rika. Beberapa wajah baru muncul di tengah-tengah peserta. Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Ka…

Mengkonkretkan Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh kakak sepupu saya bahwa sebaiknya manusia jangan pernah menggantungkan diri kepada manusia lain. Sandarkanlah diri pada Tuhan YME karena Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya.
Kata siapa? Toh saya baru dikecewakan Tuhan ketika ia bilang tidak. -- ujar saya dalam hati.
Sejenak diri ini meragukan keberadaannya. Jika saya berdoa, hati saya bertanya 'emang Dia beneran ada?' Lalu saya buru-buru meralat dan menyakini bahwa Dia memang ada. Dia harus ada. Karena kalau Dia tidak ada, maka saya harus lari dan memohon kemana pula? Saya perlu Dia untuk menggantungkan harapan dan juga untuk berkeluh kesah jika sesuatu tidak berjalan dengan baik.
Lalu saya berdoa sambil ternangis-nangis, memohon supaya dikabulkan. Atau setidaknya Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui mimpi atau apalah. Saya ingin Dia berbicara pada saya. Rupanya kognisi saya masih pada tahap konkret karena saya menginginkan Tuhan betul-betul ada. Saya tidak bisa membaca …