Ibu Tua

Mother is God in the eyes of a child.

Jika ibu adalah Tuhan, maka saya adalah seseorang yang jungkir balik untuk ia sebagai kiblat. Jika hidup adalah semesta, saya adalah planet, maka ibu adalah matahari saya. Saya mengorbit padanya. Walaupun hubungan kami kaku, bukan tipe ibu-anak yang penuh afeksi secara verbal maupun non verbal, tidak pula saling bercerita, namun kami nyaman berada di dalamnya.

Saat saya kecil, saya sering menemaninya pergi ke pasar karena saya berharap akan dibelikan sesuatu seperti mainan, namun pada kenyataannya ibu jarang sekali membelikan mainan. Mau saya cemberut sejelek apapun, ia bersikeras untuk tidak membelikan. Hal lain yang saya ingat, ketika jalan di lorong pasar, ia berada jauh di depan sementara saya ada di belakang--tidak mampu melampaui langkahnya yang cepat. Kini keadaan jadi terbalik, di usia ibu yang beranjak tua, ia sering mengeluh bahwa saya berjalan terlalu cepat. Maka saya sering menggandengnya dan berjalan pelan untuk menyamakan langkahnya.

Ibu saya usianya sudah setengah abad lebih, beranak saya di usia yang tidak lagi muda. Ibu saya bukan model atau wanita karir, ia hanya wanita yang memiliki skill membuat kue yang baik dan berjualan hingga ke Jakarta. Jadi tidak mungkin untuk berbicara tentang politik, sosial, atau budaya pada ibu saya. Namun tak apa, karena ia bukan seorang teman, ia adalah seorang ibu. Ia juga tidak pernah menuntut saya macam-macam seperti segera menikah lalu punya anak agar bisa menimang cucu. Tuntutan yang saya terima pun jarang berasal darinya. Syaratnya hanya dua: tanggung jawab dan bisa jaga diri baik-baik.

Kemarin, di usia lanjutnya, ia baru jatuh di pasar dan kepalanya terbentur duluan. Saat beliau bercerita, saya bertanya ia ke pasar bersama siapa (karena biasanya ia pergi ke pasar bersama pembantu), namun saat itu ia sendirian. Ibu saya bilang sampai tidak bisa bangun dan harus ditolong tukang sayur. Ia juga mengeluh pusing dan diberi obat oleh sepupu saya. Makanya ketika saya baru pulang kerja, saya menemukan ia baru bangun tidur. Saat akan beranjak dari tempat tidur, ibu saya mengeluh kedua kakinya kram. Ia terus mengeluh hingga menangis.

Ini adalah kali pertama saya melihat ibu menangis karena kesakitan. Biasanya ibu menangis karena sinetron. Seumur hidup, saya tidak pernah melihat ibu menangis karena sakit hati atau sakit betulan. Maka, saat itu saya mencoba untuk tidak panik dan mencoba menenangkannya. Karena ia terus menangis, saya memanggil kakak sepupu saya untuk bantu mengatasinya.

Ibu saya sudah tua. Ia tidak pernah sakit tapi jika jatuh, itu begitu mengkhawatirkan saya. Walaupun pasca jatuh di pasar ia mengaku tidak ada sakit yang berarti, saya tetap khawatir: bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padanya saat saya tidak ada disampingnya? Misalnya jika saya bekerja atau berada di luar kota. Bagaimana jika hatinya tersakiti pada saat saya tidak ada?

Keluarga adalah hal penting walau kadang menjadi duri dalam daging dan pelindung itu sendiri. Teman juga penting namun jika ada teman yang tidak bisa menghargai ibu saya, dengan senang hati saya akan memutuskan hubungan. Namun betul-betul tidak ada toleransi untuk orang lain yang menyakiti.

Ibu tua, saya akan terus mengorbit padanya.

Comments

Sundea said…
Nia, posting yang ini touching banget.

Keluarga emang punya hubungan yang aneh. Sentimentil sekaligus dingin. Ikatannya nggak akan pernah putus karena pada dasarnya kalian satu bagian.

Ibu kamu pasti orang yg kuat dan banyak nahan, deh, Ni ...
Nia Janiar said…
Iya ya, De.. keluarga emang hubungannya aneh. Di keluarga gue, kita bisa hilir mudik di rumah tanpa mengobrol bahkan tidak bertemu. Misalnya gue ngasih ucapan ke sepupu lewat FB karena gak ketemu padahal satu rumah. Lucunya, dibalik kedinginan itu, kita semua akan kembali pada inti yang sama: keluarga.

Iya, ibu saya orangnya kuat dan banyak nahan. Dia juga gak banyak cerita. Laut terlalu dalam dan isinya penuh dengan misteri. :D

Popular Posts