Kampung Kecil di Balik Monumen

Satu jam lima belas menit menunggu satu per satu orang yang berdatangan dari waktu yang ditentukan, akhirnya acara dibuka oleh Rika—koordinator gathering forum regional Bandung. Langit saat itu serta merta terang, menghilangkan kemurungan di pagi hari karena rintik-rintik hujan sempat berjatuhan di atas Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Di bawah tenda bambu besar yang dibuat permanen dan mungkin ditujukan untuk ruang publik atau pelindung penonton jika tidak hujan, kami duduk melingkar untuk mendengar briefing singkat dari Rika. Beberapa wajah baru muncul di tengah-tengah peserta.
Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Karinding adalah alat musik purba yang dibuat dari bambu dan karet yang berperan sebagai senar. Dulu alat musik ini dipakai oleh para petani untuk mengusir hama. Selain itu, dipercayai bahwa getaran yang diciptakan karinding bisa mendatangkan jodoh. Cara memainkannya adalah alat musik ini ditempelkan di mulut yang terbuka, salah satu ujungnya dipukul, dan menggunakan ruang pada rongga mulut untuk menciptakan suara. Suaranya tidaklah besar sehingga ini cukup menyulitkan jika mereka ingin melakukan aksi panggung karena jika mereka harus membawa 15 orang dengan masing-masing instrumen, maka harus ada 15 microphone yang disediakan.

Selain karinding, ada beberapa alat musik lain seperti celempung (gendang yang terbuat dari bambu), kecrekan, suling, saluang, dan petir. Lagu yang biasa mereka mainkan adalah tembang Cianjuran. Tidak hanya musik, mereka juga melakukan ruwatan (lagu dan aksi teatrikal) untuk hiburan. Mereka menunjukkan pada kami ruwatan mengenai Dasamuka.

Dasamuka—berangkat dari kisah pewayangan Rahwana—yang mereka tampilkan terdapat intervensi terhadap hal-hal kekinian seperti bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Aksi mereka mengisahkan tentang Rahwana, si Raja Setan, yang ingin berubah menjadi baik karena sejahat apapun sebuah makhluk pasti memiliki keinginan untuk menjadi baik. Namun hakikatnya sebagai makhluk jahat yang tidak mungkin berubah baik, maka manusia menghujatnya. Disini masuk kritisisme bahwa mengapa manusia menghujat sifat Rahwana yang jahat tapi mereka juga meniru sifat-sifat buruk tersebut. Hal-hal kekinian pun menjadi nasihat dalam aksi teatrikal ini dimana bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir, adalah salah satu contoh balasan kepada manusia karena telah serakah pada alam.

Ace Karuhun, pemeran Dasamuka, menjelaskan bahwa Dasamuka itu sebenarnya adalah diri sendiri. Refleksi diri bahwa sadar ketika diri salah dan berusaha untuk memperbaikinya adalah salah satu nasihat yang ingin disampaikan dalam aksi teatrikal ini. Ia berkata, “Tutup mata lahir, buka mata batin. Mata lahir seringkali menipu, tetapi mata batin tidak. Seperti lidah yang seringkali berbohong, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong.”

Sambil mengambil gambar dan mengobservasi untuk bahan tulisan, kami melihat-lihat saung lain diiringi musik reggae yang dimainkan para pemuda sebagai bentuk kolaborasi antara musik modern dengan musik tradisional. Rupanya selain bermain alat musik, warga kampung Seniman Bangun Pagi ini pandai membuat cenderamata buatan tangan yang terbuat dari biji-bijian, potongan kayu, bambu, taring, dan lainnya. Selain itu terlihat beberapa hasil pahatan dan ukiran yang dibuat dengan peralatan sederhana.

Foto oleh Mas Anto

Setelah mengadakan agenda sendiri untuk pembentukan kepengurusan Forum Regional Bandung dan membagikan doorprize serta souvenir, maka sampailah pada sesi pamitan warga Kampung Seniman Bandung Pagi yang dipimpin oleh Rika. Menurut saya, pertemuan yang berkisar dua jam itu cukup membuka khazanah budaya bagi siapa saja yang melihatnya. Selain itu, pertemuan ini diharapkan dapat menyadarkan bahwa budaya—dengan segala komponennya—bukan ketika diklaim negara lain barulah beraksi namun sementara itu tidak dilestarikan, karena budaya adalah hal yang diturunkan dan berkelanjutan.

Sekitar pukul 12.30, gathering resmi ditutup.

Comments

Neni said…
wuahh, sy kmrn ke sana tapi ga tau apa2... baca ini jadi tau ini itu..hehehe...
Nia Janiar said…
Abisnya sibuk motoin potograper siiihhh :p :p

Popular Posts