Skip to main content

Mengkonkretkan Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh kakak sepupu saya bahwa sebaiknya manusia jangan pernah menggantungkan diri kepada manusia lain. Sandarkanlah diri pada Tuhan YME karena Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya.

Kata siapa? Toh saya baru dikecewakan Tuhan ketika ia bilang tidak. -- ujar saya dalam hati.

Sejenak diri ini meragukan keberadaannya. Jika saya berdoa, hati saya bertanya 'emang Dia beneran ada?' Lalu saya buru-buru meralat dan menyakini bahwa Dia memang ada. Dia harus ada. Karena kalau Dia tidak ada, maka saya harus lari dan memohon kemana pula? Saya perlu Dia untuk menggantungkan harapan dan juga untuk berkeluh kesah jika sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Lalu saya berdoa sambil ternangis-nangis, memohon supaya dikabulkan. Atau setidaknya Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui mimpi atau apalah. Saya ingin Dia berbicara pada saya. Rupanya kognisi saya masih pada tahap konkret karena saya menginginkan Tuhan betul-betul ada. Saya tidak bisa membaca tanda-tanda alam disekitar saya yang begitu multitafsir.

Mengkonkretkan Tuhan dilakukan dengan cara terus menerus mengingat dan menyebut namanya. Saya mengkonkretkan Tuhan dengan cara menghadirkan Ia dalam diri saya. Misalnya saat saya bingung, saya bilang, "Duh, Tuhan!" Kadang diri berharap ada yang menjawab, "Apa?" Tapi ya tentunya tidak mungkin. Nyatanya Dia menjadi hadir bukan dalam wujud yang nyata, tetapi dalam sebuah keyakinan bahwa saya tidak sendiri dan Dia ada.

Tuhan tidak boleh tidak ada. Dia harus ada.

Comments

ah kamu naak...naak...
Nia Janiar said…
Apaan sih?

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…