Mengkonkretkan Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh kakak sepupu saya bahwa sebaiknya manusia jangan pernah menggantungkan diri kepada manusia lain. Sandarkanlah diri pada Tuhan YME karena Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya.

Kata siapa? Toh saya baru dikecewakan Tuhan ketika ia bilang tidak. -- ujar saya dalam hati.

Sejenak diri ini meragukan keberadaannya. Jika saya berdoa, hati saya bertanya 'emang Dia beneran ada?' Lalu saya buru-buru meralat dan menyakini bahwa Dia memang ada. Dia harus ada. Karena kalau Dia tidak ada, maka saya harus lari dan memohon kemana pula? Saya perlu Dia untuk menggantungkan harapan dan juga untuk berkeluh kesah jika sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Lalu saya berdoa sambil ternangis-nangis, memohon supaya dikabulkan. Atau setidaknya Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui mimpi atau apalah. Saya ingin Dia berbicara pada saya. Rupanya kognisi saya masih pada tahap konkret karena saya menginginkan Tuhan betul-betul ada. Saya tidak bisa membaca tanda-tanda alam disekitar saya yang begitu multitafsir.

Mengkonkretkan Tuhan dilakukan dengan cara terus menerus mengingat dan menyebut namanya. Saya mengkonkretkan Tuhan dengan cara menghadirkan Ia dalam diri saya. Misalnya saat saya bingung, saya bilang, "Duh, Tuhan!" Kadang diri berharap ada yang menjawab, "Apa?" Tapi ya tentunya tidak mungkin. Nyatanya Dia menjadi hadir bukan dalam wujud yang nyata, tetapi dalam sebuah keyakinan bahwa saya tidak sendiri dan Dia ada.

Tuhan tidak boleh tidak ada. Dia harus ada.

Comments

ah kamu naak...naak...
Nia Janiar said…
Apaan sih?

Popular Posts