Obituari Desi

Salah satu kerabat keluarga, Desiana (akrab dipanggil Mbak Desi), meninggal pada pukul tiga pagi ini (15/05). Istri dari Asmudjo, seorang kurator seni kontemporer, meninggal karena kanker yang dideritanya.

Saya enggak kenal-kenal amat dengan Mbak Desi. Saya enggak tahu lahirnya kapan atau apa saja pameran yang ia pernah ikuti, tapi dia sering main ke rumah semenjak saya kecil. Sepertinya ia adalah teman sepupu saya yang dulu kuliah di ITB dengan konsentrasi keramik. Ketika saya besar dan di rumah saya dibikin galeri seni, Mbak Desi juga pernah berperan sebagai kuratornya. Sempat ada pameran yang sempat mundur karena Mbak Desi sakit. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk datang di tengah-tengah kesakitannya.

Seingat saya, Mbak Desi pernah duduk di ruang tengah sambil merokok. Saat itu kerudungnya dibuka. Bukan kerudung yang dipakai untuk menutup aurat, tapi kerudung untuk menutupi rambutnya yang sudah tidak ada. Sepupu saya bilang kalau Mbak Desi juga sudah banyak berobat termasuk pengobatan alternatif. Perlu diingat, kanker bukan penyakit murah.

Hingga pagi ini, ibu saya bilang kalau Mbak Desi meninggal. Sepupu saya pun bergegas ke rumahnya, melayat kawan lamanya. Saya enggak tahu apakah sepupu saya menangis selama proses penguburannya. Mungkin tidak akan ada lagi sosok perempuan yang itu datang, tidak ada pula yang membantu proyek seni. Tapi saya enggak sedih karena saya yakin kalau ini adalah jalan terbaik buat Mbak Desi.

Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust. Selamat jalan, Mbak Desi.

Comments

Sundea said…
Gue lumayan kenal sama Tante Desi ini, Ni, dari waktu dia baru pacaran sama Oom Asmudjo ...

Waktu dia meninggal, gue lagi di Jkt.

Turut berduka cita yg sebesar-besarnya, ya ...
Nia Janiar said…
Iya ya..? Mudah-mudahan beliau tenang di alam sana.

Popular Posts