Perspektif

"Daripada mengeluh bahwa mawar itu penuh duri, bergembiralah bahwa semak duri itu memiliki bunga mawar." ~ Proverb

Agaknya hidup itu ibarat kertas putih yang sebetulnya flat-flat saja. Rutin. Linear. Stagnan. Lalu yang membuatnya berwarna adalah rutinitas diisi oleh kegiatan-kegiatan yang didorong oleh motivasi. Oleh kebutuhan. Oleh pikiran.

Ini dia: Pikiran. Pikiran yang pada akhirnya sudah terkontaminasi oleh pengalaman lalu dijadikan acuan untuk menilai sesuatu hingga disebut perspektif. Saking sudah dijadikan acuan, ia membentuk titik sudut untuk memandang sesuatu. Sifatnya subjektif. Kadang baik dan kadang buruk.

Kalau si kertas ditulis dengan perspektif buruk, maka hasilnya akan buruk. Kalau si kertas ditulis dengan perspektif baik, maka hasilnya akan baik. Jadi, jangan-jangan, hidup itu sebenarnya biasa saja (tidak baik dan tidak buruk) tapi kita yang membuatnya demikian?

Proverb di atas itu sebetulnya hanya permainan perspektif. Kenapa kita harus mengeluh mawar itu berduri? Kenapa kita tidak bersyukur saja bahwa semak duri itu penuh dengan mawar? Dualitas sederhana ini agaknya menempatkan pikiran pada dua kutub yang sangat jauh namun berdampak besar pada eksekusi kegiatan setelahnya. Kuncinya hanya satu: merubah perspektif saja.

Comments

Sundea said…
Akur sama posting ini =)

Popular Posts