Seribu Cerita di Pangandaran

Dalam rangka tugas meliput dan survey, saya pergi ke Pangandaran. Beruntung pada saat perencanaan, Eka juga berniat pergi ke sana bersama Sidik dan Woyo (teman bikers Eka). Maka, dengan dua buah motor besar dan bagasi di belakang, berangkatlah kami dari Bandung pukul 04.30 dan sampai pukul 10.30. Beberapa insiden yang terjadi di jalan membuat perjalanan ini berbiaya besar. Apa yang membuat biaya besar? Simak terus hingga selesai.

Sesampainya di sana, kami tidak langsung check in ke penginapan, tapi langsung pergi ke (Cukang Taneuh) Green Canyon, 30km dari Pantai Barat Pangandaran. Di muka Green Canyon, tampak suasana yang begitu ramai. Harga sewa 1 perahu di sana adalah Rp75.000,00 dengan harga yang sudah ditentukan dan dikoordinir dengan baik (jadi tidak ada bargain). Kami dapat urutan ke 160, harus menunggu sekitar 20 antrian yang kira-kira menghabiskan waktu 45 menit per perahu. Namun nyatanya kami tidak menunggu 900 menit karena perahu yang disediakan cukup banyak dan mobilitasnya cukup cepat.


Membelah sungai. Ibarat Musa.


Sampai di ujung petualangan perahu. Sisanya ditempuh dengan berenang.

Membelah sungai menuju bebatuan tinggi laksana tebing belumlah sebuah klimaks hingga kami benar-benar masuk ke dalam gua yang penuh stalaktit dan mencucurkan air-air sehingga kami kebasahan. Setelah berhenti dan diam menikmati pesona Green Canyon selama 10 menit, kami ditawari oleh guide perahu untuk berenang lebih jauh dengan menggunakan life vest dan di-guide olehnya. Sebetulnya ini tidak termasuk dalam budget perjalanan, namun karena rasa penasaran yang bisa membunuh seekor gajah sekalipun, setelah negosiasi harga, hanya saya dan Eka yang berenang meneruskan perjalanan karena Sidik dan Woyo sudah mengalami perjalanan jauh dari Jakarta ke Pangandaran menggunakan motor dan takut sakit.

Oh, rupanya kami diajak untuk menaiki tebing dan loncat dari batu yang tingginya mungkin berkisar 15 meter. Dan kami melakukannya! Terutama saat loncat ke sungai, perut terasa mau ke luar sementara badan ditarik cepat ke bawah. Wohoo sensasinya! Sayangnya saya dan Eka tidak membawa kamera sehingga tidak bisa didokumentasikan. Setelah itu, kami pulang ke tempat awal sambil melakukan body rafting.

Lalu setelahnya kami ke Batu Karas yang mengecewakan (tidak bisa skin diving karena anginnya besar dan tidak berniat untuk surfing pula). Ternyata Batu Karas tidak indah-indah amat, hanya berupa teluk kecil yang pasirnya biasa-biasa saja.


Persiapan menuju Pasir Putih.

Menerjang ombak. Perahu baru akan maju jika ombak sudah tenang.

Keesokan harinya, kami pergi ke Pasir Putih. Saya dan Eka memutuskan untuk skin diving. Kami diantar dengan guide yang logatnya seksi abis (;p). Saat tahu akan diarahkan menuju tempat yang dalam, saya agak sedikit panik karena saya paling takut dengan kedalaman. Namun mencoba untuk tenang, akhirnya bisa oke juga di tempat dalam. Bahkan kami lepas life vest dan belajar menyelam. Eka jagoan menyelam dan saya gagal terus, akhirnya si guide yang tidak diketahui namanya memegang tangan saya lalu narik saya untuk menyelam. Ini patut dicoba! Sayangnya tidak ada underwater camera. Saya sering minta "pura-pura" diajarin menyelam. Lumayan .. pegangan tangan :">

Pasca menyelam, kami diantar ke gua yang ada di Pasir Putih. Sidik dan Woyo tampak excited sekali sementara kami (terutama saya) sudah banyak mengeluh karena tidak membawa sendal dan harus menjelajah daratan yang penuh dengan bebatuan dan ranting tanpa alas kaki. Tuhan memberkati siapapun yang menciptakan alas kaki!

Selama di sana, saya dan Eka makan makanan dengan budget murah (hanya ikan dan nasi, misalnya). Maka, saat akan pulang ke Bandung, kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Timur dan makan seafood. Mewah dan cukup menjadi penambah stamina untuk Sidik dan Woyo yang harus berenergi banyak dalam menyalip kendaraan-kendaraan di jalur yang harusnya tidak boleh disalip.

Ini dia, yang saya janjikan di awal kenapa biaya trip kali ini begitu mahal. Saya dan Woyo sempat jatuh dari motor saat berada Mekar Sari. Untungnya kami tidak apa-apa. Saya hanya luka sedikit di kaki yang tertimpa motor besar serta tangan yang sakit. Saat perjalanan dari Batu Karas ke Pangandaran pun kami jatuh lagi saat mau berbelok. Saat pulang, kami sempat oleng di tengah himpitan mobil dan truk. Roda ban motornya Woyo sempat 2x kempes dibelokkan jalan raya yang mungkin bisa saja tertabrak jika ada mobil/bis dari arah belokkan dan tidak tahu bahwa ada kami di sana. Biaya tambahan yang masuk ke budget saya dan membuat sangat mahal yaitu hanya dua: nyawa dan self-esteem.


Mengalami semua hal itu, saat menunggu ban tubless, saya hanya bisa tertawa saja pada Eka (yang juga jatuh). Saat Eka bertanya mengapa saya tertawa, saya hanya menjawab, "Saya sedang menertawakan nasib."

Comments

Anonymous said…
haha! saya ketawa mbak waktu baca tulisan mbak. Dan kayaknya mbak orangnya seru.

Saya juga suka berjalan-jalan. Dan sedang merencanakan perjalan ke krakatau atau pangandaran Juli nanti dengan teman saya. Sebelumnya mungkin kita mau ke Bandung dulu. Kalau kita jadi ke Bandung, boleh ngopdar?

Kalau mbak berkenan, silakan kontak saya di emilia_meliana@yahoo.com.

thanks
Nia Janiar said…
Halo, Mbak Emilia.

Makasih yaa udah berkunjung dan menyempatkan baca. Waah, saya udah gak di Bandung nihh domisilinyaa..

Popular Posts