Those Shocking, Shaking Days

Saat saya datang di sekitar pukul 15.15, sudah terlihat Ismail Reza dengan piringan hitamnya karena agenda KlabKlassik hari ini adalah menyimak album Those Shocking, Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 setengah harian. Those Shocking, Shaking Days berisi grup di era 70an seperti The Panbers, Koes Plus, The Brims, Terenchem, dan lainnya.

Sekitar 15 lagu yang diputar sore itu. Dari semuanya, lagu yang paling berkesan pada saya adalah Haai dari The Panbers. Begitu kali pertama mendengar, saya langsung lupa bahwa ini grup Indonesia karena musiknya berbeda dari jenis lagu Indonesia yang saya tahu dan liriknya berbahasa Inggris. Kesan psikedelik langsung tertangkap begitu lagu ini diputar. Belum lagi ada penggunaan gema suara (echo/reverb) sehingga suara terdengar “melayang” dan membuat lagu ini tidak terkesan kering. Kang Tikno, selaku penggemar musik-musik Indonesia, menjelaskan bahwa lagu The Panbers yang satu ini sungguh berbeda dengan lagu-lagu The Panbers lainnya yang mellow.


Ngomong-ngomong psikedelik, kebudayaan musik psikedelik tidak bisa terlepas dengan musisi yang berupaya agar pendengarnya berimajinasi menghadirkan alam bawah sadar (hal-hal surealis) di alam sadar. Selain kealaman itu sendiri, instrumen juga memiliki peran dalam musik psikedelik sebagai media atau fasilitator untuk mengantarkan alam surealis ke realita—Kang Diecky menambahkan. Selain itu, Budi Warsito berpendapat bahwa dalam musik psikedelik, ada perpanjangan kesadaran sehingga ada eksplorasi instrumen dengan bantuan apa saja dan LSD itu hanya salah satu cara. Pada sesi ini, sedikit banyak pertanyaan saya mengenai musik psikedelik (lihat tulisan Psychedelic Party) terjawab.

Lagu lainnya yang saya suka adalah Shake Me dari AKA yang dibuka dengan yel-yel ‘Do you like LSD?’ atau ‘Do you like sex?’ yang cukup membuat kami tertawa mendengarnya. AKA banyak mengambil pattern lagu dari James Brown yang musiknya dipakai untuk orang dansa sehingga ia membutuhkan groove yang banyak dari drum dan bass. Bahkan tak tanggung, James Brown pernah menggunakan dua drum sekaligus. Ucok Harahap sendiri juga sampai mengimitasi gaya omongan James Brown namun ia masih memiliki kekhasan sendiri. Selain itu, dalam aksi panggungnya, AKA begitu teatrikal sehingga mata dan telinga begitu terpuaskan.

Jeritan Cinta karya Terenchem membawa pada sebuah diskusi mengenai tema-tema yang dibawakan tahun 70an ini yang rentangnya sungguh luas—dari hal remeh temeh seperti mobil tua (Koes Plus), uang (Duo Kribo), hingga hal besar seperti kritisisme terhadap Orde Baru dalam lagu Evil War karya Shark Move. Keberagaman di zaman dulu tentunya menjadi pembanding dengan zaman sekarang yang temanya begitu sempit: cinta dengan segala kreativitasnya. Kreativitas yang dimaksud contohnya cinta orang yang berbalas, cinta orang yang tidak berbalas, cinta segitiga, selingkuh, dan lainnya. Perbandingan ini membawa pada pertanyaan; ‘mengapa dulu yang kondisi menciptakan lagu itu sangat sulit, mereka bisa membuat musik sebagus dan seberagam ini, namun di kondisi yang serba mudah seperti sekarang justru membawa ke keseragaman?’

Diskusi pun berlanjut pada generasi sekarang yang hilang link dengan apa yang terjadi tahun 1960-1970 sehingga terlihat sebagai timeline yang terputus dan musiknya saling tidak berkesinambungan. Untuk mengetahui apa yang diketahui pada tahun 1970 juga tidak mudah karena minimnya sumber/literasinya.

Album ini dibuat dalam beberapa format yaitu CD, MP3, dan piringan hitam. Toko musik independen mengeluarkan piringan hitam lagi dengan argumen agar musisi lebih dihargai (karena ada usaha karena melakukan “ritual” membuka piringan hitam dari cover, menaruh dengan hati-hati, dst) dan pendengar lebih dihargai (musik terdengar lebih “penuh”). Piringan hitam itu “terbatas” dan menawarkan suara yang analog dengan range bass-nya yang lebih rendah sehingga memberikan kesan intimate atau seolah-olah orang yang nyanyi itu benar-benar ada di dekat yang mendengarnya.

Lagu-lagu lain yang diputar adalah Rollis, Arista Birawa, Superkid, dan lainnya. Di antara lagu-lagu tersebut, ada warna lain yang ditawarkan oleh Black Brothers yang berjudul Saman Doye. Lagu ini kental dengan nuansa timur dan bernyanyi dengan bahasa Papua.

Bahasa—dalam referensi saya—menjadi keluhan pribadi dimana lirik lagu yang digunakan pada grup-grup di atas itu kebanyakan berbahasa Inggris. Namun bahasa dapat menjadi salah satu faktor untuk membuktikan bahwa, tidak hanya sekarang, pengaruh budaya Barat juga sangat kental di era 70an.

Comments

Popular Posts