Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Dua orang jurnalis, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, telah melakukan ekspedisi perjalanan mengelilingi Indonesia hanya dengan motor Honda Win 100 cc yang sederhana. Jalan darat dan laut telah mereka tempuh untuk menguntai Sabang hingga Merauke di negeri yang terkenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa: Indonesia. Sabtu sore (11/6) di Tobucil, Bandung, Farid Gaban—pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana majalah Tempo—membagikan pengalamannya mengelilingi Indonesia selama 10 bulan dengan total 100 pulau pada 50 gugus kepulauan Nusantara.


Perjalanan mereka bukanlah perjalanan ilmiah, melainkan perjalanan jurnalistik yang sepintas. Dari 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia, mereka hanya mengunjungi pulau-pulau yang dianggap representatif dari kepulauan sekitarnya karena terlalu banyak. Misalnya untuk Nias saja kepulauannya hampir terdiri dari 3.000 pulau. Perjalanan mereka begitu sederhana dan relatif murah. Farid Gaban menyayangkan dengan orang-orang yang sering berpergian namun tidak pernah menulis hasil perjalanannya. Oleh karena itu, ekspedisi mereka diabadikan melalui berbagai media termasuk foto, video, dan tulisan. Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa adalah ekspedisi interaktif yang pernah dilakukan karena setiap perjalanan, mereka posting foto atau tulisan di Facebook dan langsung mendapatkan umpan balik dari pembaca. “Seolah-olah sedang berjalan dengan ditemani banyak orang,” ujarnya.

Selama ekspedisi dilakukan, pria yang berasal dari Wonosobo ini memperhatikan bahwa sanitasi, kesehatan, dan air bersih merupakan persoalan yang hampir merata di seluruh pulau yang ia kunjungi. Banyak penduduk pesisir yang ia temui dalam keadaan miskin padahal sumber daya di laut yang melimpah ruah. Nelayan hanya memiliki perahu kayu yang kecil sehingga hanya bisa memuat sedikit ikan dan kurangnya pengetahuan tentang mengawetkan hasil tangkapan sehingga mereka harus menjualnya di waktu yang cepat. Input ilmiah/riset tentang pemanfaatan laut dinilai masih kurang padahal banyak sekali pemanfaatan yang bisa dilakukan dari laut misalnya energi matahari yang diserap laut bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Selama ini, masyarakat masih tergantung dengan minyak (diesel) untuk membuat listrik.
Walaupun kurangnya pengetahuan, terdapat sebuah kearifan tradisional yang dimiliki masyarakat dalam mengelola lingkungan. Misalnya mereka membuat peraturan tidak boleh memancing di teluk pada waktu tertentu karena pada saat itu ikan-ikan sedang menetas. Farid Gaban menambahkan bahwa kita (masyarakat modern) selalu menyebut mereka primitif, tapi yang mengaku modern pun lebih tidak beradab dalam mengelola lingkungan. Ada komunitas di daerah-daerah yang mengatur tentang lingkungan misalnya di Aceh ada sturktur ada yang di kalangan masyarakat nelayan bernama Panglima Laot.

Peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah dianggap belum bisa menjangkau seluruh aspek di
setiap pulau di Indonesia. Misalnya pernah ada pelarangan penggunaan tattoo yang berimbas pada kebudayaan Mentawai yang kemarin-kemarin ini mulai dilestarikan kembali. Serta longgarnya peraturan illegal logging tidak hanya berdampak pada berkurangnya hutan melainkan rusaknya terumbu karang. Inilah yang terjadi terhadap rusaknya terumbu karang di Mentawai yang diakibatkan tanah yang seharusnya ditahan akar pohon kini harus langsung bergulir ke sungai dan dibawa ke laut.



Lalu bagaimana dengan penerimaan penduduk terhadap dua orang asing ini? Baik itu di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, Farid Gaban mengakui bahwa ia dan rekannya tidak mengalami masalah dalam penerimaan masyarakat daerah. Tidak ada hambatan bahasa yang ditemui karena di setiap daerah pasti ada penduduk yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu mereka juga bukan penduduk yang terisolir karena ada penerimaan informasi yang didapat dari radio atau televisi. Jejaring yang Farid dan Yunus miliki diakui bisa dijadikan jembatan agar bisa berbaur dengan penduduk lokal. Selain itu, pendekatan yang mereka lakukan bukanlah pendekatan antara penduduk dengan turis, melainkan pendekatan layaknya seorang teman yang mengajak berbagi. Belum lagi kemampuan Ahmad Yunus dalam memasak dan membuat makanan bersama di dapur warga dapat mencairkan suasana.


Perjalanan antar pulau memberatkan ekspedisi ini dari segi biaya. Ketika di Makassar, Farid harus pulang ke Jakarta karena ia dalam kondisi sama sekali tidak punya uang dan harus bekerja mencari tambahan biaya. Selain harus menyewa kapal nelayan, scuba diving pun cukup menguras kantong. Sebelumnya, agar bisa mengeksplor bawah laut, pria yang bertubuh kurus ini sengaja mengambil kursus menyelam untuk mendapatkan sertifikat. Tidak di semua daerah ia bisa menyelam dengan peralatan memadai. Misalnya di Pulau Jinato, ia menyelam menggunakan kompresor yang dipakai nelayan untuk mencari teripang. Padahal resiko tidak menggunakan peralatan yang memadai sangat besar yaitu bisa mengakibatkan kelumpuhan dan bahkan kematian. Bahkan ada sebutan janda kompresor untuk beberapa istri yang ditinggal mati para suami yang menggunakan kompresor.

Menemui daerah-daerah asing di Indonesia diakui tidak banyak membawa kejutan untuk Farid Gaban karena ia sudah melakukan riset dan melakukan outline apa yang akan ia cari. Outline yang diciptakan Farid Gaban dieksekusikan dalam sebuah buku naratif yang akan meluncur di akhir bulan Juni. Rekannya, Ahmad Yunus, juga menghasilkan sebuah buku. Lalu adakah perbedaan di kedua bukunya? Tentu saja karena pengalaman subjektif dan perspektif masing-masing tentunya akan menghasilkan output yang berbeda. Apalagi selisih usia mereka terpaut hampir 20 tahun.

Keindahan alam daratan dan lautan bisa dituliskan atau diabadikan dalam 110.000 frame foto, dibentuk untuk dokumentasi atau keperluan komersil. Namun pengalaman pribadi akan selalu menjadi kekayaan untuk diri, terutama saat mengetahui eloknya negeri bahari ini namun maraknya eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan yang belum mengindahkan harga sosial dan lingkungan. Berbagi pada kaum pelajar, komunitas, dan masyarakat luas diharapkan bisa menggerakkan aksi-aksi nyata dalam memanfaatkan sumber daya alam Indonesia dengan bijaksana.

“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” ~ Soe Hok Gie

Comments

andybowlingblog said…
cerita yang mengesankan tenang khatulistiwa.
Nia Janiar said…
Betul sekali. Jangan lupa beli buku kedua jurnalis di atas, Mas. :)

Popular Posts