Skip to main content

Male Chauvinist


Foto di atas saya dapatkan ketika saya pulang dari Pangandaran menuju Bandung. Saat saya menemani Eka shalat Maghrib, saya menemukan sebuah mushola di salah satu SPBU Nagrek dibagi menjadi dua bagian: laki-laki di dalam ruangan, perempuan di luar ruangan--tepatnya di pelataran mushola. Kesan pertama melihat pemandangan ini sangat membuat saya mengerenyitkan dahi karena saking terkejutnya.

Entah siapa yang melakukan pembagian tempat shalat sebusuk ini, tapi saya memiliki prasangka bahwa orang yang membaginya adalah seorang male chauvinist (kepercayaan bahwa pria itu lebih superior adanya) sehingga saking superiornya, mereka harus berada di dalam ruangan, bersajadahkan belasan baris sajadah, sementara perempuan hanya diberikan satu baris sajadah saja. Akibatnya, perempuan harus menunggu orang-orang yang selesai shalat agar bisa beribadah.

Kenapa, hey engkau si pembuat peraturan? Apakah kau takut masuk angin? Tidakkah kau melihat istrimu, anak perempuanmu, atau kekasihmu, menunggu lama di luar bersama angin malam sementara banyak ruang kosong di dalam mushola?

Comments

hotarukika said…
fotonya kurang jelas... pengen liat pembagiannya.
Nia Janiar said…
Cuma ada itu fotonya.. soalnya cmn dr hape dan pake night mode (riskan banget blurnya)..
Anankto said…
wah musti ganti HP klo gitu tuh, hehe.. salam blog walking

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…