Skip to main content

Menghitung Mundur

Sekitar 13 hari lagi, hubungan saya dengan pekerjaan akan mencapai batas kadaluarsa. Saya memilih untuk berhenti bekerja dan mengejar cita-cita saya menjadi seorang penulis.

Gila, memang. Memutuskan menjadi penulis agaknya mirip seperti memutuskan jadi seniman: banyak diragukan, terutama tentang penghasilan. Kalau karya bagus dan cukup beruntung ya lancar, kalau karya bagus dan tidak cukup beruntung ya kurang lancar.

Jujur, karena saya tidak mau merendah untuk meninggikan mutu alias pasif agresif, saya cukup besar kepala untuk yakin bahwa tulisan saya tidak jelek. Saya banyak latihan. Artinya, ketika saya memutuskan untuk menjadi penulis, modal awalnya tidak nol besar. Beranjak di angka satu, setidaknya. Bahkan untuk non fiksi, saya mengambil sesi latihan dengan para jurnalis. Bisa dilihat, keputusan ini berdasarkan pertimbangan serius.

Keinginan mengejar mimpi sebagai penulis muncul di akhir tahun 2010, ketika saya menulis artikel tentang zona nyaman dan atasan saya membahas bahwa ia sudah tidak mungkin kembali ke teknik sipil karena sudah tua dan tertinggal jauh. Saya tidak mau jadi kodok yang tidak sadar sedang direbus. Bagi saya, pekerjaan saya menjadi seorang guru itu zona nyaman karena berpenghasilan tetap dan pekerjaannya aman-aman saja. Namun, karena menjadi guru bukanlah cita-cita saya, maka saya tidak mau tiba-tiba sadar saya sudah tua dan tidak bisa mengejar mimpi saya. Intinya, saya tidak mau menyesal di hari tua.

Lalu di awal tahun 2011, saya yakin betul dengan keputusan saya. Optimisme dan semangat begitu meluap-luap layaknya mahasiswa yang menjunjung tinggi idealisme. Hingga semakin dekat dengan hari H, optimisme dan semangat saya luntur. Saya mulai berpikir bahwa cita-cita ini hanyalah mimpi di siang bolong, terutama saat melihat pencapaian-pencapaian yang terjadi tidak sesuai dengan rencana dan harapan.

Beberapa minggu ini, saya terbayang pada perpisahan dengan anak-anak, rekan kerja, dan lingkungan, dan kesibukan itu sendiri. Saya tidak terbayang ketika saya memeluk mereka atau mengucapkan maaf lalu tidak bertemu sereguler kemarin-kemarin. Dapatkah saya mengatasi perpisahan? Tidak.

Perpisahan juga membuat saya teringat pada hari terakhir bersama Indra Permadi, teman yang bersekolah ke Australia. Juga teringat dengan Tegar Maulana, teman saya yang pindah ke Jayapura tanpa diketahui untuk berapa lama. Waktu itu kami (Tegar, saya, dan teman-teman) melakukan jamuan perpisahan. Saat Tegar akan pergi, teman-teman saya terlihat akan menangis dan suasana jadi bermuram durja. Saat itu saya coba menghibur bahwa di sana Tegar akan berkembang dan teknologi sudah maju sehingga kami bisa menghubungi Tegar kapan saja. Ya, dan sekarang, walaupun tidak bertemu, kami sering kirim-kirim komentar di Facebook. Toh walaupun dulu dia di Bandung, kami berkomunikasi via Facebook.

Ucapan saya di atas sepertinya harus dikembalikan kepada saya. Selain itu perspektif harus diubah bahwa ini bukan akhir cerita, namun justru ini adalah titik pertama dari sebuah petualangan.

Comments

Begy said…
Go Nia, Go! Looking forward to reading your writings in more varied media! Good luck! :-)
e-c-h-y said…
This comment has been removed by the author.
e-c-h-y said…
I raise my hat to you
kang_te said…
Nia, makasih udah berbagi (ini kali kedua kamu tulis blog yang nama saya ada di situ, hehe.. terima kasih lagi)
hmmm... pasti kamu liat status2ku sejak merapat ke jayapura, hampir semuanya ttg petualangan seru, kemudahan2 dalam berbagai urusan, dan eksplorasi tiada henti... Nia, dunia ini luas. ada banyak rahasia yang belum terkuak termasuk ttg apa yang jadi ketetapan Tuhan buat kita.
well, menapaki dunia mungkin harus melewati jalan berliku, tapi jalan berliku teramat berbeda dengan jalan b.u.n.t.u
hehe
Nia Janiar said…
@Begy: Amen. Thank you. :)
@Echy: This is too soon to raise your hat for me, Chy. :)
@Tegar: Bener banget. Dunia ini luas. Mumpung masih mudaaa.. :D
nia, aku banget sama dua tulisan terakhir ini, Menghitung Mundur dan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

soal karir dan pekerjaan, orang bilang yang paling penting adalah keyakinan dan passion. sebagian penulis kaya, namun yang lain miskin, bahkan mati sebelum bukunya terbit. itulah hidup. tapi peluang bagi penulis selalu ada. sejumlah industri membutuhkan keahlian menulis, dan cerita-cerita terus menanti untuk diterbitkan, dijual, ditawarkan kepada pasar. soal laku mungkin perkara lain lagi. yang paling penting kata orang ialah berusaha dan mengasah keahlian.

semoga kamu bahagia, sukses, dan sejahtera dengan pilihan jalan hidupmu.

--wartax
Ni, lu mah meni dua kali ga muncul di RLWC. Padahal gw mau bilang, gw juga memutuskan untuk resign. At the end of this month. And unlike you, I dunno where to go afterwards... I'm only sure I have to get out.

Alhamdulillah post lu ini memantapkan gw juga.

Sampai jumpa Sabtu di RL... kalo lu dateng! >:D
Nia Janiar said…
@Mas Wartax: Mas, sayang senang sekali tulisan ini dikomentari oleh mas, terutama mas juga bergerak dalam bidang kepenulisan sehingga tanggapan yang diberikan sangat berdekatan dengan bidang yang ingin saya capai.

Kebetulan, tadi siang, saya baru berdiskusi dengan teman masalah rejeki yang akan mengikuti jika kita berusaha yang terbaik. Mungkin yang diperlukan adalah kesempatan. Mudah-mudahan kesempatan saya untuk menulis di media atau dimanapun.

Mas Wartax, terima kasih atas dukungannya. Amin.

@Rizal: Waah?? Resign juga, Zaaal? Waogh! Kita perlu berbicara! Hehe.

Iya, akhir-akhir ini Sabtu gue sibuk membangun jejaring dan melakukan hal-hal untuk menguatkan posisi gue sekarang. Insya Allah Sabtu ini gue ke RLWC.
Anonymous said…
ga pernah nyangka saya salah satu yang membuat ibu berpikir...

Saya tidak menyesal keluar dari teknik sipil..., juga tidak ingin kembali. Saya sangat bersyukur saya pernah mempelajarinya dan hidup sebagai engineer. Hal itu sangat berguna dalam membentuk kerangka pikir saya menjadi pendidik. Seumur-umur, seorang engineer teknik sipil menghitung agar konstruksinya seimbang. Sebagai pendidik, saya ingin selalu membangun keseimbangan itu dalam anak-anak didik saya.

Mudah-mudahan, ibu pun tak pernah menyesal menjadi guru. Gagas kehilangan seorang guru yang baik, tapi ketika tahu ibu memilih berhenti jadi guru karena ingin mengejar cita-cita, saya bersyukur. Ibu tahu yang ibu mau. Tak banyak orang tahu apa yang dia mau (dalam pengertian, tahu mau mengabdi kepada Tuhan sebagai apa di dunia ini). Kebanyakan orang tahu benda apa yang dia inginkan. Mudah-mudahan masamu di gagasceria memberi warna dalam tulisanmu.

Bu Nia, semangat selalu! GO GO GO............................
Jangan ragu jika ingin menjadi penulis sekaligus menjadi guru... Dalam beberapa point, banyak kesamaan antara jadi guru dan jadi penulis...

santi
Sundea said…
Welcome to the jungle, Nia =D
Nia Janiar said…
@Kak Santi,

Saat kakak cerita tentang itu, itu terus terngiang-ngiang di pikiran saya. Di sana, saya merasa lebih dari tercerahkan untuk mengejar mimpi saya__sama yang seperti kakak lakukan.

Saya tidak akan menyesal, Kak. Malah saya belajar banyak. Justru saya tahu apa yang saya inginkan setelah saya menjadi guru. Terima kasih untuk Kak Santi yang telah memberi kesempatan saya belajar banyak di Gagas. Gagas tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga sebuah filosofi dan nilai-nilai arif yang selalu kakak sematkan dalam pelatihan atau pembicaraan.

Terima kasih, Kak, atas dukungannya. Doakan saya berhasil mengejar cita-cita saja :)

@Sundea:
I choose journey than jungle. Welcome to the journey! :)
flameofryu said…
kenapa tidak dilakukan 2 2nya hhoohhoh
Nia Janiar said…
Udah pernah dicoba, Mas. Tapi gak berhasil. Lebih enak 1, lebih fokus ngejarnya. :)
flameofryu said…
kurang keras usahanya mungkin..... usahakan sampai menerbitkan satu karya yang terpublikasikan, baru putuskan nia, advice aja lo..., sepupuku juga produktif sembari mengajar ( sekedar contoh hhohoho ) karena yang kamu kerjakan sekarang mingkin bisa menjadi inspirasi sebagai bahan tulisan....
Nia Janiar said…
Saya agak susah untuk multitask. Mudah2an kalau fokus, lbh bisa.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…