Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

Fantasmagoria

Jus jambu yang ia tegak terasa pahit. Kental dan ingin cepat ia tegak seluruhnya. Jus ini dibawa oleh temannya—Yuda yang baru pulang naik haji beberapa minggu yang lalu. Dengan seringai gigi di wajahnya, Yuda menyodorkan minuman yang baru dijus di Gasibu di tengah malam. “Selamat menikmati ya,” ujar Yuda atau Yudas Iskariot—si pengkhianat—yang katanya baru melakukan perjalanan religius tapi kini memberikan barang laknat.“Sendirian? Atau mau ditemani?” tanya teman yang pernah menjadi pengedar narkoba ini. Beberapa teman pernah bergunjing tentang Yuda yang naik haji dengan hasil narkobanya.Aku jawab aku mau sendiri. Kubawa barang itu dengan kaku padahal isinya hanya lumatan satu buah jambu batu. Beberapa teman kosku bertanya barang apa yang aku terima di tengah malam, berharap aku membawa sesuatu yang memabukkan. Aku hanya memperlihatkan isi yang ada di plastik hitam lalu mereka menanggapi dengan kecewa.Jarum menunjukkan pukul 00.33—angka keberuntunganku, tepat untuk kumasukkan tegukan p…

Atraksi Perkotaan

Rani menyelempangkan tas dipundaknya, botol air minum sudah ia masukkan, kamera Canon EF lamanya sudah berada di tangan. Sore barulah ia berangkat menyusuri pusat kota Bandung untuk menangkap sesuatu dengan kamera di bawah sinar kuning oranye pukul empat.

Kini ia berjalan di Asia Afrika, untuk kesekian kalinya. Namun selalu ada hal-hal baru yang ia temui saat melewati gurat-gurat sejarah terbentuknya kota kelahiran Rani. Di jalan ini pernah terjadi awal mula kota terbentuk hingga penuh dengan kobaran si jago merah. Dengan tanganya yang tidak kalah gesit, ia mengambil gambar bangunan art deco yang berjajar. Ah--ujar Rani--kalau tidak dijajah Belanda, kota ini tidak akan mewariskan apa-apa.
Sampailah Rani ke jembatan penyebrangan. Sebelum naik, ia melihat beberapa anak main air di Sungai Cikapundung. Mereka semua telanjang dengan warna kulit yang hampir sama dengan warna air sungai, tapi mereka terlihat senang bermain di sungai yang menjadi sumber hidup sekaligus tempat pembuangan.
Anak-an…

Kampung Halaman

"Silahkan, Mas, mau pakai amplop?" tanya salah seorang pegawai bank sambil menyerahkan buku tabungan dan satu ikat uang biru. Aji Saka mengangguk, meminta amplop dan memasuki uangnya dengan gugup. Di tangannya, terdapat hasil nyata dan bukti kerja kerasnya bertahun-tahun kerja di ibukota. Kini waktunya sudah tiba, ia mau pulang.
Satu buah tas jinjing yang tidak terlalu besar berada di samping kakinya. Sudah sedari tadi ia menunggu bis menuju Subang, kampung halamannya yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Awalnya ia kepergiannya cukup sulit karena tidak direstui oleh kedua orang tuanya.
"Bantu ibu dan bapak saja petik teh ya, tidak usah ke kota. Bantu di sini saja ya ..." ujar ibunya dengan nada memohon. Aji Saka biasanya tidak pernah menang dengan nada permohonan ibunya, namun kali ini keinginannya bekerja di kota begitu besar. Ia begitu ingin melihat kehidupan di kota yang kata si Anwar--tetangga sekaligus sahabat kecil--hebat adanya.
"Kalau mau bantu kan…

Distraksi dan Never Say Old: Friday Market

Merayakan Kesehatan

Hari Minggu (17/07), ibu saya didiagnosis stroke ringan. Badannya masih fungsional, hanya bagian muka yang lumpuh. Strokenya diakibatkan oleh hipertensi. Tekanan darahnya sampai 220! Ahk, memang penyakit keluarga ini. Selain diabetes dan kolesterol, beberapa keluarga saya pernah terserang penyakit ini. Bahkan kakek saya meninggal karenanya.
Secara keturunan, saya membawa penyakit-penyakit berat. Tidak apa-apalah, yang penting mental selalu sehat :D
Demi menjaga tensi ibu, kami memberi makanan yang bebas garam. Artinya, makanan yang diberikan selama ini adalah makanan rebus seperti waluh rebus, tahu rebus, dan lainnya. Jangankan makan, ia sulit menelan minuman. Tapi tetap saya beri jus buah segar seperti semangka dan lainnya. Untuk tambahan penurun tensi, ibu saya diberi sirih merah. Selama makan obat dan makan-makanan biasa, tensinya selalu saya monitoring.
Selama menjaga ibu sakit, saya mendapatkan banyak bantuan berupa perhatian. Senangnya menyadari bahwa ibu saya disayangi banyak oran…

Pengamat Bisu

Mereka pasti suka merasakan kehadiranmu saat kamu sering berkunjung ke sana. Awalnya pasti mereka mereka juga mengintaimu, memperhatikan gerak-gerikmu, atau membaui aroma tubuhmu. Lalu setelah terbiasa, mereka merelakan rumputnya kamu tiduri, meminta dedaunan pohon minggir sebentar agar matahari menyinarimu, dan bersuka cita saat angin membelaimu. Karena saat itu kamu akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah karena hujan semalaman.
Mereka suka kamu. Saya iri.
Kini taman tidak sama saat awal kamu datang. Mereka dan saya sama-sama kehilangan saat kamu harus pergi ke negeri seberang. Saya mendengar rumput-rumput yang tersedu, bangku-bangku rindu untuk diduduki, ayunan yang lesu, dan angin yang berbisik meminta kamu pulang.

Foto oleh: Julius Tomasowa

Telusur Sempu, Bale Kambang, dan Bromo

Teman menulis saya yang bernama Mayang, akrab dipanggil Mae, memberi tahu bahwa ia akan ke Bromo dan Sempu di catatan Facebook-nya. Tanggalnya tertulis 10-15 Juli 2011. Bagus--pikir saya dalam hati. Selain liburan sekolah sudah usai, saya mau merayakan liburan di hari kerja. Lagipula, sudah lama saya ingin mengunjungi kedua tempat itu.

Tidak hanya saya, tapi teman-temannya Mae juga ikut. Teman-temannya Mae juga bawa teman-teman. Belum lagi satu orang dari CouchSurfing. Jadi, kesimpulannya, saya pergi tanpa mengenal dengan siapa saya akan pergi. Lalu Mae menitipkan nomer kontak mereka semua dan saya menghubungi mereka untuk memberi tahu bagaimana teknis ketemuannya nanti.
Di stasiun saya bertemu di Mimi, Fiersa, Andi, Bogel, Caesar, Prisi, Agung, Roni, dan Wisnu. Total jendral ada 10 orang, belum lagi teman-teman CouchSurfing yang kami temui di Malang. Kami naik kereta Malabar jurusan Bandung-Malang seharga Rp135.000,- Kami berangkat pukul setengah empat sore hingga delapan pagi. Sela…

Nia Janiar Saja

What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.
Mungkin begitu menurut William Shakespeare, lain lagi menurut sang empunya nama Nia Janiar. Nama yang awalnya begitu dia hindari, kini menjadi miliknya yang begitu dibanggakan. “Karena identitas penting buat saya.”
Bahkan untuk karya-karya tulisnya, dia tidak menggunakan nama samaran atau nama pena. Karena namanya sudah seperti nama seorang penulis, menurut temannya yang sempat mempertanyakan keengganannya menggunakan nama Janiar.
Janiar yang hampir menjadi Janiar saja tanpa Nia, berasal dari nama kerabat ibunya. Nama seorang dari Padang yang pintar. Ingin anaknya menjadi pintar juga, maka Janiar ditorehkan dalam salah satu akte lahir yang terdaftar di Bandung. Tepatnya 27 Januari 1987. Tapi Janiar yang satu ini diawali dengan Nia, panggilan akrabnya sampai sekarang.
Dalam hitungan hari Nia akan mengakhiri pekerjaan yang sudah dilakoni selama dua setengah tahun. Menjadi guru sekolah dasar untuk anak-ana…

Fobia dan Saya

Teman menulis saya, Neni Iryani, seringkali menulis puisi akhir-akhir ini. Dari semua puisi yang dibuatnya, saya lebih suka puisi-puisinya yang berbahasa Inggris karena lebih representatif. Tidak hanya membuat puisi, ia juga membuat cerita pendek (flash fiction). Dari semua cerita pendeknya, saya paling suka cerita yang akan saya bagikan di bawah ini.
Sebelum baca karyanya tentang perempuan yang rela mengatasi fobianya untuk mendapatkan orang terkasih, saya mau bercerita sebentar. Ceritanya berhubungan dengan cerita yang akan saya bagi, saya janji.
Kemarin, saya menonton film proses terjadinya Danau Kelimutu pada gunung berapi yang ada di Flores. Di film tersebut, diperlihatkan danau dengan tiga warna: hijau, merah hati, dan hitam. Salah satu danaunya yang berwarna hijau memiliki kedalaman 125 meter. Airnya sangat asam dan tidak boleh terkena kulit. Dindingnya sangat terjal dan mudah longsor.
Mendengar pernjelasan itu, saya membayangkan diri saya menginjak sisi dinding, lalu terperosok…

Empat Ratus Anak Tangga

Awalnya saya hanya akan mengajak Eka saja ke trip bareng NGI Forum Regional Bandung ke Gunung Padang--gunung yang memiliki situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara. Namun Ari (yang kemudian mengajak Novi, Ana, dan Gege) mengendus calon perjalanan saya ke Cianjur--kota yang merupakan titik pusat pantai utara dan pantai selatan Jawa Barat. Maka, hayo kita berangkat saja!
Kami janjian di DU pukul setengah empat subuh. Saat saya sms Eka pukul setengah empat, dia bilang baru mandi. Oh, Eka, maukah kau ditinggal oleh kami?
Jadi, begini ceritanya ...

Telusur Lampegan, Gunung Padang, dan Curug Cikondang oleh Nia Janiar
Minggu (03/07) merupakan tanggal yang perlu diingat karena ini adalah kali pertama NGI Forum Regional Bandung hunting ke luar kota. Saat itu kami tidak pergi sendirian karena ditemani teman-teman dari Teknik Sipil UNPAR. Total peserta sekitar 56. Waktu keberangkatan sempat mundur 15 menit dari pukul empat pagi karena ada hambatan mengenai jumlah peserta dan kapasitas mobil.

Jejaring Tulisan

Saya update ya jejaring tulisan saya yang tidak saya tulis di blog ini:
1. Mapay Cikapundung: Dari Sumur Bandung hingga Curug Dago
Agenda ngaleut pada hari Minggu (26/6) adalah menelusuri sungai Cikapundung dengan jalan kaki sampai Curug Dago. Karena titik mulainya adalah Sumur Bandung, maka saya membayangkan jarak yang harus saya tempuh. Ah, tidak masalah – pikir saya. Maka berbekal sepatu dan ransel, saya bersiap untuk ngaleut (berjalan beriringan). Baca selanjutnya di: http://www.pikiran-rakyat.com/node/150504

2. Liputan Event: Peraduan Para Domba
Tiga puluh satu domba dipancang di sisi timur arena adu domba Babakan Siliwangi (Baksil) Bandung pada tanggal 05 Juni 2011, entah ada berapa domba yang dipancang di sisi baratnya. Domba-domba yang berasal dari Garut namun dibesarkan di berbagai daerah di Jawa Barat sengaja didatangkan dengan menggunakan mobil bak terbuka pukul 07.00 untuk diadu pada pukul 09.00. Sembari menunggu pertandingan dimulai, kami—anggota forum National Geographic Indon…

Pitra Moeis: Bekerja Untuk Visi Sendiri

“Saya capek bekerja di bawah visi dan misi orang lain,” ujar Pitra kepada saya pada 23 Juni 2011 di Tobucil. Saat itu Pitra habis mengikuti kursus penulisan feature bersama para anggota Aliansi Jurnalis Independent.
Wanita yang lahir di Bandung, 13 Desember 1979 ini mengenyam pendidikan Planologi di Institut Teknologi Bandung. Sulung dari dua bersaudara ini hijrah ke Jakarta untuk bekerja di berbagai bidang seperti medical assistant, account executive di sebuah perusahaan iklan, dan bekerja di bidang politik dengan bergabung bersama LSM Bung Hatta Anti Corruption Award untuk menyebarkan sikap positif terhadap anti korupsi tanpa kekerasan.
Bekerja di Jakarta yang memiliki ritme kerja yang cepat cukup menghabiskan waktunya. Ia seringkali harus bekerja dari pagi hingga malam. Setelah menikah dan memiliki anak, Pitra merasa terbebani untuk bekerja dengan pekerjaan yang terjadwal. Maka ia memutuskan untuk pulang ke Bandung dan bekerja untuk visinya: mengurus dan mendidik anak.
Keputusan Pit…