Atraksi Perkotaan

Rani menyelempangkan tas dipundaknya, botol air minum sudah ia masukkan, kamera Canon EF lamanya sudah berada di tangan. Sore barulah ia berangkat menyusuri pusat kota Bandung untuk menangkap sesuatu dengan kamera di bawah sinar kuning oranye pukul empat.


Kini ia berjalan di Asia Afrika, untuk kesekian kalinya. Namun selalu ada hal-hal baru yang ia temui saat melewati gurat-gurat sejarah terbentuknya kota kelahiran Rani. Di jalan ini pernah terjadi awal mula kota terbentuk hingga penuh dengan kobaran si jago merah. Dengan tanganya yang tidak kalah gesit, ia mengambil gambar bangunan art deco yang berjajar. Ah--ujar Rani--kalau tidak dijajah Belanda, kota ini tidak akan mewariskan apa-apa.

Sampailah Rani ke jembatan penyebrangan. Sebelum naik, ia melihat beberapa anak main air di Sungai Cikapundung. Mereka semua telanjang dengan warna kulit yang hampir sama dengan warna air sungai, tapi mereka terlihat senang bermain di sungai yang menjadi sumber hidup sekaligus tempat pembuangan.

Anak-anak itu tersadar, ada satu perempuan muda yang mungkin--menurut mereka--masih kuliah. Tiga anak laki-laki yang berusia sembilan tahun itu memamerkan gigi-giginya saat Rani mengarahkan kameranya.

"Teh, hayu kadieu, ngeunah siah teh!" ujar salah satu anak yang kepalanya plontos. Rani tersenyum sebelum anak itu melanjutkan, "Kadieu, urang ngentot."

Rani terbelalak kaget dengan apa yang didengarnya, terutama setelah melihat anak-anak itu tertawa-tawa sambil mempraktekkan gaya bersenggama.

Perempuan berambut sebahu ini bergegas naik ke jembatan penyebrangan yang tangganya berliku serta jarak jembatannya lebar. Lebih baik mengambil gambar jalanan ketimbang berlama-lama di pinggir sungai. Saat sampai jembatan, Rani melihat kumpulan orang-orang yang berpakaian lusuh sambil tiduran. Beberapa orang melirik kemudian mengacuhkan. Beberapanya lagi terus mengikuti jalannya Rani.

"Switsuiw ... bade kamana, Neng?" tanya salah satu orang sambil beranjak dari tempat ia duduk, mendekati Rani. Rupanya buruk, aroma tubuhnya jelas tidak menyenangkan.

"Eh, bade motret, Kang," jawab Rani gugup sambil memegang kamera.

"Naha atuh popotoan sagala? Dieu atuh jeung akang." Tangannya mulai menjangkau sikut Rani tapi masih bisa terhindari.

"Nuhun ah." Rani menunduk, mencoba melewati pemuda yang ada di depannya namun tidak bisa karena pemuda itu menjegal langkah Rani. Teman-temannya, tiga orang pemuda yang tidak kalah buruknya, berdatangan. Mata Rani terasa sumpek melihat pemandangan kumal yang ada di depannya, belum lagi warna-warni tulisan graffiti nama-nama geng motor di dinding jembatan, juga bau yang memuakkan. Rani merasa lidahnya terasa kecut, ia merasa mual.

Akhirnya ia muntahkan segalanya lewat sisa-sisa makanan yang keluar melalui mulut. Ada sayur bayam yang ia makan tadi pagi, juga ada sambal goreng terong yang belum tercacah sempurna oleh gigi. Baunya tidak kalah asam dengan bau jembatan.

Para pemuda terperangah, terutama saat cipratan muntah terkena kaki mereka. Begitu lengah, Rani langsung lari ke bawah jembatan. Terdengar derap langkah yang mengikutinya. Saat berada di bawah jembatan, Rani segera berlari menghampiri aparat keamanan.

"Pak, tolong!" ujar Rani.

Begitu melihat seorang pria yang memakai seragam dengan segala atribut keamanan, pemuda-pemuda itu berhenti dan kembali ke jembatan.

"Kenapa, Neng?" tanya pria setengah baya itu.

"Saya dikejar-kejar, Pak."

"Dari jembatan?"

"Iya."

"Oh atuh, pantas saja. Disini mah perempuan sendirian itu tidak aman."

"Hah, iya, Pak. Enggak lagi-lagi deh. Makasih ya, Pak." Rani bersiap beranjak pergi.

"Eh, tunggu dulu," ujar si polisi. "Ada biaya keamanan, Neng. Sebelum pergi, sepuluh ribu dulu."





Hasil latihan menulis Reading Lights Writer's Circle: Tenggelam dalam Masyarakat Urban.
Foto oleh Neni Iryani

Comments

Popular Posts