Skip to main content

Fantasmagoria


Jus jambu yang ia tegak terasa pahit. Kental dan ingin cepat ia tegak seluruhnya. Jus ini dibawa oleh temannya—Yuda yang baru pulang naik haji beberapa minggu yang lalu. Dengan seringai gigi di wajahnya, Yuda menyodorkan minuman yang baru dijus di Gasibu di tengah malam.

“Selamat menikmati ya,” ujar Yuda atau Yudas Iskariot—si pengkhianat—yang katanya baru melakukan perjalanan religius tapi kini memberikan barang laknat.

“Sendirian? Atau mau ditemani?” tanya teman yang pernah menjadi pengedar narkoba ini. Beberapa teman pernah bergunjing tentang Yuda yang naik haji dengan hasil narkobanya.

Aku jawab aku mau sendiri. Kubawa barang itu dengan kaku padahal isinya hanya lumatan satu buah jambu batu. Beberapa teman kosku bertanya barang apa yang aku terima di tengah malam, berharap aku membawa sesuatu yang memabukkan. Aku hanya memperlihatkan isi yang ada di plastik hitam lalu mereka menanggapi dengan kecewa.

Jarum menunjukkan pukul 00.33—angka keberuntunganku, tepat untuk kumasukkan tegukan pertama hingga akhir lalu membiarkan diri berada di bawah pengaruhnya.

Lama. Hingga rahangku menegang dan dua tepi mulutku melorot ke arah kuping. Aku berbaring sambil mendengarkan After Midnight—musik asli yang dibuat oleh musisi kota kembang—sambil melihat benda-benda yang menempel di dinding kamar menggeliat melepaskan diri dari tembok. Mereka melayang-layang kemudian berpendar warna-warni di langit-langit kamar yang hitam.

Suara-suara yang aku dengan menjadi benang-benang halus yang masuk ke telinga, lalu menggelitik benda-benda yang melayang di atas sana, termasuk si jam dinding yang berbengkok-bengkok jarumnya. Tik tok tik tok, jarum berdetik mundur ke belakang.

Kulihat aku ke luar dari ragaku, menuju satu cahaya jingga. Kulihat taman Fantasmagoria lalu kulihat Dia: Dia yang biasa kutulis dengan ‘d’ besar, Dia juga yang kusebut-sebut kalau aku bersumpah jujur, Dia juga yang pernah kusembah jungkir balik setiap hari, dan Dia juga yang belakangan aku duakan dan lupakan karena alasan keragu-raguan.

Dia menyentuh kepalaku, memainkan helaian rambutku lalu berujar, “Hai,” katanya terkikik. “Ini aku. Teman yang kau rindukan.”

Aliran panas terasa mengalir di sudut mata, bergelimangan menuju telinga. Hangat sentuhanNya menyajikan film yang diputar balik: tubuh mengecil, memasuki rahim melalui saluran vagina, melingkar di perut, melayang, saluran ovarium, koloni kecebong yang mengerikan, lalu melesat jauh hingga pangkuanNya. Nya—dengan ‘n’ besar. Nya—dengan sesuatu yang absurd namun aku yakin bahwa aku berada di sebuah rumah tak berbentuk dan diri terasa aman.

“Aku rindu namaku disebut olehmu setiap hari sebelum tidur,” ujarNya bercampuran dengan instrument After Midnight. Dia menjadi tosca, berpadu dengan aku yang merah keruh, kemudian ia pudar. Menghilang. Lalu aku jatuh dalam kegilaan yang nikmat sambil berbisik, “Kita. Satu.”

Mataku terbuka sepenuhnya. Benda-benda sudah tidak melayang, pendaran mulai menghilang. Aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Diam-diam suara adzan Subuh yang samar masuk menembus gordyn gading dan menyesaki kamar. Nadiku, di seluruh badanku, berdenyut hebat—menyadarkan bahwa ia dekat. Ia ada. Dan aku ingin menemuinya sekali lagi: melalui media nyata. Melalui rutinitas jungkir balik pula.

Yuda sialan—pikirku dalam hati—dia baru memberitahukan tentang titik baliknya.



------

Cerita hasil latihan writer's circle tentang spiritualisme yang mengubah seseorang. Cerita ini juga mengantarkan pada transisi ke bulan Ramadhan. Selamat berpuasa semuanya :)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…