Skip to main content

Fobia dan Saya

Teman menulis saya, Neni Iryani, seringkali menulis puisi akhir-akhir ini. Dari semua puisi yang dibuatnya, saya lebih suka puisi-puisinya yang berbahasa Inggris karena lebih representatif. Tidak hanya membuat puisi, ia juga membuat cerita pendek (flash fiction). Dari semua cerita pendeknya, saya paling suka cerita yang akan saya bagikan di bawah ini.

Sebelum baca karyanya tentang perempuan yang rela mengatasi fobianya untuk mendapatkan orang terkasih, saya mau bercerita sebentar. Ceritanya berhubungan dengan cerita yang akan saya bagi, saya janji.

Kemarin, saya menonton film proses terjadinya Danau Kelimutu pada gunung berapi yang ada di Flores. Di film tersebut, diperlihatkan danau dengan tiga warna: hijau, merah hati, dan hitam. Salah satu danaunya yang berwarna hijau memiliki kedalaman 125 meter. Airnya sangat asam dan tidak boleh terkena kulit. Dindingnya sangat terjal dan mudah longsor.

Mendengar pernjelasan itu, saya membayangkan diri saya menginjak sisi dinding, lalu terperosok, lalu masuk ke dalam air asam yang dalam. Saya merinding, perut saya bergejolak, kepala saya pusing. Membayangkannya saja tidak mampu.

Ah, baca saja cerita di bawah. Kau akan tahu apa maksudnya.

My Phobia and You

Yes we know exactly that I'm phobia of heights. Acrophobia, they call it. So, it's not a secret that I will avoid doing anything which will trigger my phobia. I hate balcony. I avoid looking through the window glass from a room in a second floor, not to mention in a 13th floor and so on. There's no strange that I hate apartment. I prefer spending more hours trip by bus to travelling by airplane. That's why I've never gone that far, unlike you, the most adventurous man and passionate backpacker I've ever known. Maybe, this is one reason of why I fall in love with you. People say we tend to fall in love with ourselves that we see in others, but apart from that we tend also to fall in love with someone who will complete us as persons.

I don't know where you are right now. The last postcard I received from you telling me that you are somewhere in Asia. You said you fall in love to the beautiful scenery around you, the fresh air, the singing of birds you hear every morning, the tropical atmosphere, the local ladies, etc. You even wished that you could live there with me for the rest of your life. You also said that you can't wait to do climbing in the near mountain the next day. You showed me the track you will pass to that mountain; it is in the postcard picture. This bridge--I even couldn't believe people call this frail piece of wood and rope as a bridge--will lead your way to the mountain and find the climbing spot.


The last line you wrote was a joke saying that next time I should pass this frail bridge to get me you. Smile emoticon. Full stop. Your name.

It has been two months since I received your postcard. You've never made me this long waiting and wondering your story of where you are now, what you feel, where your next heading or plan, the local food and girls, what you do to get some money, how you get lost and find new adventure, how was the rock climbing, etc.

This postcard is the most read since one month ago, although I suffer from a headache and I always tremble every time I see the picture. And those symptoms are getting worse when I read your last line words.

***

I don't know what happen to me this morning. When I stared at the bridge, I felt like I will be able to pass this bridge for you. I felt no more headache, trembling or nausea. Yes, for the first time in my life: I want to pass this bridge, a frail bridge. This thought made my blood rushed faster. I will be able to go by plane. Maybe I need to meet psychiatrist first, but it's not a big problem. I've never this brave; I will try my best to pass it, if this bridge really could get me to you.

But, how could I know that you are there waiting?

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…