Kampung Halaman

"Silahkan, Mas, mau pakai amplop?" tanya salah seorang pegawai bank sambil menyerahkan buku tabungan dan satu ikat uang biru. Aji Saka mengangguk, meminta amplop dan memasuki uangnya dengan gugup. Di tangannya, terdapat hasil nyata dan bukti kerja kerasnya bertahun-tahun kerja di ibukota. Kini waktunya sudah tiba, ia mau pulang.

Satu buah tas jinjing yang tidak terlalu besar berada di samping kakinya. Sudah sedari tadi ia menunggu bis menuju Subang, kampung halamannya yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Awalnya ia kepergiannya cukup sulit karena tidak direstui oleh kedua orang tuanya.

"Bantu ibu dan bapak saja petik teh ya, tidak usah ke kota. Bantu di sini saja ya ..." ujar ibunya dengan nada memohon. Aji Saka biasanya tidak pernah menang dengan nada permohonan ibunya, namun kali ini keinginannya bekerja di kota begitu besar. Ia begitu ingin melihat kehidupan di kota yang kata si Anwar--tetangga sekaligus sahabat kecil--hebat adanya.

"Kalau mau bantu kan ada Rudi, Bu. Dia tenaganya lebih besar dari saya," sergah Aji Saka. Semenjak itu ibu dan ayahnya tahu bahwa keinginan anaknya ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Maka, diiringi dengan tangis, kedua orang tuanya memaksa diri untuk merelakan anaknya pergi.

Selama di kota, Aji Saka sering mengirim wesel kepada orang tuanya. Selain itu surat-surat pun selalu berdatangan secara rutin, hingga lama kelamaan Aji Saka tidak pernah membalas dengan alasan pekerjaan bekerja jadi bawahan usaha orang. Tapi si Aji Saka ini memang baik benar. Berkat bosnya yang tidak membiarkan Aji Saka terlena dengan gemerlap kota, maka kehidupannya menjadi lurus-lurus saja. Ia tidak pernah membelanjakan uangnya dengan sesuatu yang tidak perlu. Ia simpan di dalam bank yang rekeningnya dibuatkan oleh si bosnya itu. "Pikirkan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kamu tidak hidup untuk hari ini, tapi juga besok dan nanti. Simpan uangmu untuk berjaga-jaga," ujar si bos.

Maka, lima tahun berlalu, pulanglah Aji Saka ke kampungnya. Dengan bis Bina Bakti yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang, Aji Saka menghabiskan perjalanannya dengan lamunan-lamunan tentang sudah semaju apa kampung halamannya dan penyambutan seperti apa yang akan ia dapat. Berniat membuat sebuah kejutan, ia tidak bilang bahwa ia mau pulang.

Lalu sampailah ia di terminal di kampung halamannya, mendapatkan terminal yang kosong. Lalu ia memanggil ojeg, "Serang Panjang, Kang!"

"Serius, kang, bade kadinya?" tanya si tukang ojeg mempertanyakan keseriusan Aji Saka untuk pergi ke tempat yang dituju.

"Muhun atuh, kunaon kitu?"

"Ah, teu kunanaon."

Maka berangkatlah mereka ke kecamatan Serang Panjang. Semakin lama jumlah orang semakin banyak, hiruk pikuk, penuh dengan tenda-tenda, dan berantakan. Aji Saka meminta agar ojeg tidak berhenti karena rumahnya belum masih harus ditempuh dengan jalan kaki. Tukang ojeg tidak mau, ia memilih berhenti di lapangan di dekat rumah camat yang dijadikan pengungsi.

Aji Saka awas dengan keadaan sekitar yang berbeda dari biasanya dimana orang-orang menunjukkan wajah cemas: mata yang liar, dahi yang berkerut-kerut, dan badan yang bergerak tidak menentu. Sesuatu telah terjadi di sini. Maka dengan buru-buru, ia berlari ke rumahnya dan menemukan hamparan tanah basah yang kosong yang seharusnya di situ ada puluhan rumah tetangganya.



Lalu dicari-cari lagi posisi rumahnya hingga ia menemukan kerangka rumah kosong amat dikenalinya. Tempat ini pernah ia tinggal lima tahun yang lalu. Harusnya di situ juga ada ibu dan bapak yang menyambutnya. Dan ada Rudi yang mungkin memukul kepalanya karena telah membiarkan adiknya membantu kedua orang tuanya.

"Astagfirullah ... Kang Aji, baru datang?" tanya salah seorang warga sambil menepuk bahu Aji Saka. Dia adalah Pak Soni, tetangganya. Ekspresi mukanya menunjukkan wajah prihatin. Tangannya enggan berpindah dari bahu Aji, seolah-olah siap untuk menopang si pemilik bahu jika tiba-tiba jatuh.

"Dimana ibu dan bapak saya, Pak? Mereka aman? Rudi? Ini kenapa? Longsor?"

Alih-alih menjawab, Pak Soni langsung memeluk Aji Saka. Diiringi tangis, Pak Soni menyatakan dukanya. Aji Saka terdiam, tas ditangannya terjatuh tanpa ia sadari, sementara matanya yang nanar tidak pernah lepas dari rumah itu. Lima tahun memori telah membangkainya kini.





Nama tokoh, tempat, dan kejadian dari cerita di atas adalah cerita fiksi.
Foto oleh Julius Tomasowa

Comments

Popular Posts