Skip to main content

Merayakan Kesehatan

Hari Minggu (17/07), ibu saya didiagnosis stroke ringan. Badannya masih fungsional, hanya bagian muka yang lumpuh. Strokenya diakibatkan oleh hipertensi. Tekanan darahnya sampai 220! Ahk, memang penyakit keluarga ini. Selain diabetes dan kolesterol, beberapa keluarga saya pernah terserang penyakit ini. Bahkan kakek saya meninggal karenanya.

Secara keturunan, saya membawa penyakit-penyakit berat. Tidak apa-apalah, yang penting mental selalu sehat :D

Demi menjaga tensi ibu, kami memberi makanan yang bebas garam. Artinya, makanan yang diberikan selama ini adalah makanan rebus seperti waluh rebus, tahu rebus, dan lainnya. Jangankan makan, ia sulit menelan minuman. Tapi tetap saya beri jus buah segar seperti semangka dan lainnya. Untuk tambahan penurun tensi, ibu saya diberi sirih merah. Selama makan obat dan makan-makanan biasa, tensinya selalu saya monitoring.

Selama menjaga ibu sakit, saya mendapatkan banyak bantuan berupa perhatian. Senangnya menyadari bahwa ibu saya disayangi banyak orang yaitu keluarga dan bahkan teman-teman saya. Banyak yang mendoakan atas kesembuhannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka.

Sedikit membahas perihal saya resign dari kerjaan, hal ini seolah-olah sudah ditakdirkan: saya berhenti kerja, ibu saya sakit, maka saya punya waktu penuh untuk menjaganya. Hmm ... well, whatever.

Tadi pagi (20/07), saya antarkan ibu berobat di salah satu klinik di Jalan Supratman. Di sana, ibu saya diakupuntur (ditusuk jarum) sambil disetrum. Saya ke sana atas rekomendasi rekan keluarga yang pernah menderita stroke berat tapi bisa sembuh karena akupuntur. Maka, berbekal usaha dan doa, pergilah saya ke sana. Sebelumnya tensi diukur dan dokternya bilang tensi ibu saya 130/80. Baguslah, satu persatu dulu yang disembuhkan.

Saya tidak melihat proses setrumnya karena saya diminta tunggu diluar. Di ruang tunggu, saya banyak melihat orang-orang sakit. Ada satu orang bapak muda yang jalannya tertatih-tatih. Entah sakit apa, yang jelas mukanya seperti menahan nyeri. Dia datang beserta istri dan anaknya yang masih kecil. Anaknya rewel dan istrinya minta pengertian kepada anaknya agar diam. Harusnya di usia yang produktif seperti itu, sang ayah bisa bekerja dan terutama menikmati indahnya bermain bersama anak dan istri.

Selain itu ada beberapa orang tua yang memakai kursi roda sehingga harus ditatih saat berjalan oleh anaknya, ada juga yang memakai tongkat, ada seorang perempuan muda yang sepertinya under weight dan jalannya seperti orang belajar jalan. Selain itu ada juga seorang ibu yang membayar di kasir sampai harganya ratusan ribu rupiah. Mungkin di tempat lain ada yang membayar hingga jutaan, belasan jutaan, dan seterusnya.

Lagi-lagi saya menyadari bahwa kesehatan itu harganya mahal, baik secara biaya maupun waktu dan kualitas hidup yang terbuang. Merasakan tubuh yang sakit tentu saja tidak enak. Kadang saya ingin sakit agar bisa lari dari pekerjaan. Namun saat saya benar-benar sakit, saya malah ingin sembuh. Karena hanya dengan sehat, saya bisa eksplorasi kesana kemari.

Jaga kesehatan, wahai pembaca. Makanlah makanan-makanan yang sehat, rajin berolahraga, dan rayakan kesehatan selama kita masih punya!

Comments

Nyongdewek said…
Ternyata zaman seperti ini masih ada ya anak begitu sayang pada ibundanya, sampai rela berhenti kerja. Ruarr biasa, ini pewaris surga! Jempol.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…