Skip to main content

Nia Janiar Saja

What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.

Mungkin begitu menurut William Shakespeare, lain lagi menurut sang empunya nama Nia Janiar. Nama yang awalnya begitu dia hindari, kini menjadi miliknya yang begitu dibanggakan. “Karena identitas penting buat saya.”

Bahkan untuk karya-karya tulisnya, dia tidak menggunakan nama samaran atau nama pena. Karena namanya sudah seperti nama seorang penulis, menurut temannya yang sempat mempertanyakan keengganannya menggunakan nama Janiar.

Janiar yang hampir menjadi Janiar saja tanpa Nia, berasal dari nama kerabat ibunya. Nama seorang dari Padang yang pintar. Ingin anaknya menjadi pintar juga, maka Janiar ditorehkan dalam salah satu akte lahir yang terdaftar di Bandung. Tepatnya 27 Januari 1987. Tapi Janiar yang satu ini diawali dengan Nia, panggilan akrabnya sampai sekarang.

Dalam hitungan hari Nia akan mengakhiri pekerjaan yang sudah dilakoni selama dua setengah tahun. Menjadi guru sekolah dasar untuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Masih pengen sama Bu Nia ...” rengek salah seorang muridnya yang dyslexia dan sudah terlanjur dekat. Tentunya berat memutuskan berhenti di dunia itu untuk mengejar mimpinya.

Mimpi menjadi seorang penulis. Tidak bisa tidak. Beberapa mimpinya sudah pernah dilupakan dan tidak dijabani. Tapi tidak yang ini, putusnya. Walau orang-orang sekitarnya banyak menentang. Masih dengan anggapan bahwa menjadi penulis bakalan susah, banyak diragukan terutama masalah penghasilan.

Tumbuh besar tanpa figur seorang ayah sempat mempengaruhi karya tulis fiksinya. Sempat menjadikannya sosok yang tertutup dan bersikap negatif terhadap banyak hal. Tapi keputusannya untuk memilih kuliah di UPI jurusan Psikologi membantu melepasnya dari sosok yang dulu.

“Justru waktu kuliah saya menemukan minat menulis, menemukan diri dan berobat diri.” Bayangan Nia Janiar yang tertutup dan negatif tidak pernah terbersit dari beberapa pertemuan saya dengannya. Yang ada Nia Janiar yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang, bisa dengan enteng dan penuh tawa menanggapi banyak hal.

Diskusi adalah salah satu hobinya di antara sekian banyak kesukaannya yang lain. Beberapa komunitas diikutinya seperti Reading Lights Writer’s Circle, KlabKlasik Tobucil dan juga National Geographic Forum Regional Bandung. “Semua representasi kegemaran saya. Semua adalah seni, seperti juga menulis adalah seni bagi saya.”

Awalnya penggemar Dewi Lestari, Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono ini lebih suka menulis fiksi dan bercita-cita membuat novel. Tapi dengan hobi travelling-nya Nia mulai menulis kisah perjalanan tidak dalam bentuk fiksi. Untuk memperkuat cara penulisannya, dia memilih untuk bergabung di Kelas Penulisan Feature (Non Fiksi) di Tobucil yang dipandu oleh tiga orang jurnalis sekaligus. “Kepingin jadi jurnalis,” aku Nia.

Sore itu Nia datang dengan senyum di wajahnya. Rambut sebahu yang bergelombang dibiar tergerai, diselipkan di kedua belah telinganya. Baju merah berkerah dipadunya dengan rok batik warna warni. Dibawanya wadah laptop yang juga bercorak batik warna warni. Memancarkan keceriaan dan menyiratkan kesukaannya akan hal yang tradisional.

Kagum dengan orang Jawa katanya. Karena suka dengan filosofi mereka dan suka orang yang dekat dengan budayanya. Bahkan ingin cari suami yang orang Jawa dengan nama bagus di belakangnya. “Supaya nama belakang saya tambah bagus” kata Nia sambil tertawa terbahak.

Nia Janiar, dengan tambahan nama Jawa atau apapun di belakangnya atau Nia Janiar saja, by any other name would smell as sweet.




Bandung, 24 Juni 2011



---------------------------------

Di atas adalah hasil latihan menulis profile feature karya Mbak Jessisca Fam yang diposting di blog saya belum dengan izin. Latihan menulis profile feature itu adalah kami saling menulis para anggota pelatihan menulis (saya menulis tentang Pitra Moeis)

Dari semua hal yang saya ceritakan, ia menulis ini, dan saya bersyukur atasnya. Dengan disimpannya tulisan di blog ini, mudah-mudahan Mbak Jessis tidak keberatan :)

Comments

Anonymous said…
hahaha...nia banget yak...kalo udah kenal kamu mah,udah tau pasti hal-hal itu,tp yang nulisnya bisaan juga merangkum dirimu,teman:)

-bolehliat-
Nia Janiar said…
Iya yaah.. yang nulisnya bisaan :)
Sundea said…
Bagus banget, Ni, lu banget dan puitis banget ... gue terharu bacanya ... (lho?)
Nia Janiar said…
Haha.. kalo kata tutor menulisnya, profile feature ini "cantik".

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…