Pitra Moeis: Bekerja Untuk Visi Sendiri

“Saya capek bekerja di bawah visi dan misi orang lain,” ujar Pitra kepada saya pada 23 Juni 2011 di Tobucil. Saat itu Pitra habis mengikuti kursus penulisan feature bersama para anggota Aliansi Jurnalis Independent.

Wanita yang lahir di Bandung, 13 Desember 1979 ini mengenyam pendidikan Planologi di Institut Teknologi Bandung. Sulung dari dua bersaudara ini hijrah ke Jakarta untuk bekerja di berbagai bidang seperti medical assistant, account executive di sebuah perusahaan iklan, dan bekerja di bidang politik dengan bergabung bersama LSM Bung Hatta Anti Corruption Award untuk menyebarkan sikap positif terhadap anti korupsi tanpa kekerasan.

Bekerja di Jakarta yang memiliki ritme kerja yang cepat cukup menghabiskan waktunya. Ia seringkali harus bekerja dari pagi hingga malam. Setelah menikah dan memiliki anak, Pitra merasa terbebani untuk bekerja dengan pekerjaan yang terjadwal. Maka ia memutuskan untuk pulang ke Bandung dan bekerja untuk visinya: mengurus dan mendidik anak.

Keputusan Pitra untuk menjadi wanita yang tidak bekerja tidak mudah terutama hilangnya kemandirian finansial. “Kalau sudah berkeluarga, jadi harus serba hemat. Tidak boleh langsung belanja seperti dulu.” Namun keinginan agar kedua buah hatinya, Aleefa (2.5 tahun) dan Areta (7 bulan), mendapatkan pendidikan terbaik lebih besar.

“Waktu saya sekolah dulu, ada perasaan takut berpendapat. Pengetahuan terbatas dan kreativitas kurang tereksplor. Saya tidak ingin itu terjadi pada anak saya,” ujarnya wanita lulusan 2003 ini. Pitra merasa pengalaman-pengalamannya sekolah merasa semua seolah-olah diluruskan, menghilangkan mimpi-mimpi. “Saya ingin anak saya sudah tahu mau apa ketika ia besar nanti, memiliki perkembangan yang baik dalam kognisi.”

Sambil menjalankan aktivitas keseharian seperti belajar menulis, kini Pitra sibuk mencari-cari sekolah yang cocok untuk kedua buah hatinya dan kursus menulis. Wanita yang memakai kacamata ini bercita-cita menjadi travel writer. “Saya suka jalan-jalan dan banyak orang yang jarang menulis hasil jalan-jalannya. Saya tidak ingin menulis bagaimana cara menuju suatu tempat saja, tapi ingin cerita yang lebih bermakna agar lebih inspiratif.”

Sebelum di Tobucil, ia pernah belajar menulis di PANTAU, Jakarta.

---------------------------------------------------------------

Tulisan di atas adalah revisi dari hasil latihan menulis feature profile yang mana kurang data dan dikerjakan dalam waktu yang mepet. Foto juga diambil dari Facebook Mbak Pitra tanpa izin. Jangan ditiru ya ... :)

Comments

mbak dan said…
wahh, ada pitra di sini!! she's good friend of mine! :)
Nia Janiar said…
Waaah.. nanti akan saya sampaikan salamnya (eh, emang siapa yang nitip salam? Hehe)

Popular Posts