Telusur Sempu, Bale Kambang, dan Bromo

Teman menulis saya yang bernama Mayang, akrab dipanggil Mae, memberi tahu bahwa ia akan ke Bromo dan Sempu di catatan Facebook-nya. Tanggalnya tertulis 10-15 Juli 2011. Bagus--pikir saya dalam hati. Selain liburan sekolah sudah usai, saya mau merayakan liburan di hari kerja. Lagipula, sudah lama saya ingin mengunjungi kedua tempat itu.

Tidak hanya saya, tapi teman-temannya Mae juga ikut. Teman-temannya Mae juga bawa teman-teman. Belum lagi satu orang dari CouchSurfing. Jadi, kesimpulannya, saya pergi tanpa mengenal dengan siapa saya akan pergi. Lalu Mae menitipkan nomer kontak mereka semua dan saya menghubungi mereka untuk memberi tahu bagaimana teknis ketemuannya nanti.

Di stasiun saya bertemu di Mimi, Fiersa, Andi, Bogel, Caesar, Prisi, Agung, Roni, dan Wisnu. Total jendral ada 10 orang, belum lagi teman-teman CouchSurfing yang kami temui di Malang. Kami naik kereta Malabar jurusan Bandung-Malang seharga Rp135.000,- Kami berangkat pukul setengah empat sore hingga delapan pagi. Selama di kereta, kami saling mengenal, main kartu, tidur, makan, tes IQ, tebak-tebakan garing, lalu tidur lagi sampai berminyak.

Destinasi pertama adalah Pulau Sempu. Kami diturunkan di Teluk Semut dan harus berjalan melalui pantai yang berlumpur. Dari sekian banyak spot di Pulau Sempu, kami menuju ke Segara Anakan. Di sana terdapat air laut yang dikepung oleh daratan dan karang. Sedikit mengingatkan pada Phi Phi Island--tempat syutingnya Leonardo Di Caprio dalam film The Beach. Selain itu karena sulitnya medan menuju tempat Segara Anakan, membuat tempat ini seperti pantai pribadi.


Menyusuri pantai yang berlumur sambil membawa barang. Foto oleh Mimi.

Jalanan yang berlumpur, licin, penuh dengan akar dan bebatuan harus dilalui selama dua jam dengan jalan kaki. Kalau musim hujan, jalanan ini bisa dilalui selama empat jam! Belum lagi jalan setapak yang curam dan terjal di pinggir pantai. Selain itu Sempu masih berupa hutan yang penuh dengan monyet karena ini adalah cagar alam, bukan tempat wisata yang berisikan warung, jalanan beraspal, penginapan, atau wc umum.

Omong-omong tentang penginapan dan wc umum, kami mendirikan tiga tenda. Kalau mau BAB atau BAK, silahkan memilih semak-semak terdekat untuk menggali lubang. Kalau mau makan, silahkan bakar ikan yang dibeli dari pelabuhan Sendang Biru di Pulau Jawa dengan menggunakan api unggun. Ini betul-betul sebuah petualangan.


Mae beli ikan di pasar ikan Sendang Biru. Harga mulai Rp10.000,-/kg


Bakar ikan di atas api yang tidak kunjung menyala. Foto oleh Mimi.

Saya, Mimi, Mae, Agung, Roni, Wisnu, Fiersa, dan Caesar memberanikan diri untuk naik ke atas karang yang paling tinggi untuk mendapatkan gambaran Segara Anakan secara keseluruhan. Di atas sana, kami bisa melihat liarnya deru ombak Samudra Hindia yang memecah karang. Jalan menuju atas sangat sulit, terutama saat bagian jalan tertutup dengan batu. Salut dengan teman-teman yang membawa tripod dan kamera.


Two personalities of Sempu. I bet she's a Geminian ;)


Gambar aslinya harusnya lebih bagus. Ini kameranya yang jelek.


Tempat kemah dari puncak karang. Foto oleh Mimi.

Sempu adalah surga yang tersembunyi sekaligus si cantik yang berbahaya.

Setelah dari Sempu, kami istirahat di rumah makan dan mandi di kamar mandi umum. Setelah itu, kami langsung menuju Bale Kambang--pantai yang jaraknya sangat jauh dari Pulau Sempu. Jalannya beraspal namun berkelok dan kiri kanan jalan dipenuhi dengan ladang jagung atau rimbun pepohonan. Sampai pukul lima sore, kami mendapatkan pantai wisata yang sepi, cuaca mendung, dan tidak mendapatkan sunset.

Bale Kambang rupanya sama seperti pantai-pantai selatan lainnya: ombak besar sehingga tidak bisa berenang. Mungkin bedanya adalah di sini ada pura di atas karang yang harus ditempuh dengan menggunakan jembatan. Sedikit mengingatkan pada Tanah Lot-nya Bali. Selain itu pantai ini beraroma mistis yang sangat kental sehingga Mae berkali-kali mengingatkan agar kami tidak berbicara sembarangan.

Misalnya saat kami menuju pura, Fiersa bersumpah serapah karena blitz kameranya tidak menyala. Langsung setelah bersumpah serapah, blitz kamera langsung menyala dan memotret orbs yang ada dikisaran pura. Setelah ia mencoba blitznya di rumah makan, alatnya berfungsi seperti biasa.

Setelah makan, beberapa orang teman ingin ke kamar mandi. Pemilik warung makan memberikan kami lampu minyak. Ternyata kamar mandi umumnya tidak ada lampu dan gelap gulita. Ditemani oleh teman laki-laki, saya mengurungkan niat untuk ke kamar mandi. Entah kenapa, suasana terasa spooky. Bale Kambang rasanya seperti pantai mati. Selain tidak ada lampu jalan dan suasana sepi, warung-warung di sana pun tutup. Apa karena bukan musim liburan? Beruntung, kami hanya sebentar di sini.

Pukul setengah dua pagi, kami dibangunkan untuk pergi ke Bromo. Agung, Wisnu, dan Roni tidak ikut karena mereka akan lanjut ke Rinjani. Beberapa teman sudah panik karena kami baru berangkat pukul setengah tiga dan takut ketinggalan sunrise. Belum lagi supir mobil sewaan sempat tersesat di dalam kompleks perumahan yang terlalu banyak diportal.

Sekitar pukul setengah lima, kami sampai di Bromo. Begitu keluar dari mobil, udara dingin langsung menggigit. Saya dan teman-teman sudah menyiapkan jaket tebal. Beberapa ada yang membawa sarung tangan dan topi rajutan (kupluk). Saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang bekerja di sekitaran gunung ini karena suasanya dingin sekali.

Kabar burung memberi tahu kalau suhu gunung ini adalah 5 derajat. Tapi, begitu matahari sudah muncul, udara panas adanya (lepas jaket sangat memungkinkan). Jadi, kalau ada yang menawarkan sarung tangan atau kupluk, tidak usah panik untuk membeli karena nanti udaranya akan panas sendiri.

Dua mobil Jeep datang bergantian. Kloter pertama adalah para fotografer yang mengejar sunset. Kloter kedua adalah tim penggembira yang senang-senang saja melihat sunset dari dalam mobil yaitu saya, Mimi, Prisi, dan Andi. Di perjalanan, kami melihat sekumpulan anak yang mau sekolah hanya memakai baju seragam saja dan berdiri di atas mobil sambil berpegangan. Apa? Mereka sudah terbiasa kali ya.


Tim penggembira. Foto oleh Mimi.

Bromo sungguh indah luar biasa. Melihatnya saja seolah-olah Bromo bukanlah pemandangan yang nyata tapi seperti tempelan wallpaper. Padang pasir di sekitar Bromo itu berkabut, membuat ilusi bahwa Bromo dikelilingi lautan air yang sangat putih. Selain itu semburat warna kuning dan oranye muncul di timur, membawa kesan hangat pada Bromo yang terus mengeluarkan asap.


Bromo bermandikan cahaya mentari pagi

God do exist and God is truly artist.

Karena terlalu lama santai-santai di atas, kami disusul oleh supir Jeep untuk segera ke padang pasir karena kalau terlalu siang, pasirnya akan naik (oleh angin). Sampai di sana banyak orang yang menawarkan jasa berkuda hingga tangga menuju kawah Bromo. Melihat para penunggang kuda ini sungguh keren. Padang pasir, sarung yang menyerupai jubah, pasir yang membuat mereka samar, membuat para penunggang kuda ini seperti orang-orang misterius dari antah berantah.

Melihat medan menuju kawah Bromo yang juga melelahkan, beberapa orang teman memutuskan untuk tidak ikut. Saya bersikukuh ingin ke atas karena sayang rasanya jika sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak sampai puncak Bromo. Mimi, Mae, Caesar, dan Prisi juga ikut ke atas. Kami berjalan kaki kemudian menaiki tangga Bromo yang tertutup pasir pasca erupsi di bulan Januari.

Menuju ke puncak Bromo, kami diiringi oleh angin yang membawa pasir. Kacamata dan masker sungguh membantu agar tidak banyak kelilipan atau menghisap pasir. Karena banyaknya pasir, terkadang pengelihatan di depan menjadi begitu samar dan jarak pandang hanya tersisa beberapa meter saja. Tangga yang dipenuhi pasir yang rentan longsor pun membuat kami harus merangkak.

Sampai di bibir kawah yang penuh dengan asap dan lautan pasir yang membutakan jarak pandang mata, saya hanya bisa mengintip sebentar karena jarak pijak di bibir kawah hanya sedikit. Kalau terlalu dekat, alih-alih tanah bisa longsor dan kita bisa masuk ke kawah. Belum lagi pegangan yang sudah hilang karena tertutup pasir. Tidak ada waktu untuk foto-foto pula karena sibuk pegangan tanah agar tidak terjatuh.

Saat turun pun cukup mengerikan karena kami berada 2392 meter di atas permukaan laut. Prisi sempat menangis karena ia takut dengan ketinggian. Beruntung Caesar bisa menenangkannya. Tangga yang penuh pasir dan tidak memungkinkan untuk dipijak juga harus dilalui dengan cara serodotan. Saya membuka jalan, Mae berada di belakang saya, Mimi berikutnya, lalu Caesar dan Prisi.

Ketinggian dan anginnya membuat kami mati gaya. Foto oleh Mimi.


Perjuangan menuju bibir kawah. Foto oleh Mimi.


Foto oleh Mimi.

Foto oleh Mimi.


Mae di antara debu. Kesulitan menuju bawah.

Sampai di bawah, kami ditertawakan oleh penduduk sekitar karena wajah kami yang sudah tidak karuan: rambut keabuan karena pasir dan acak-acakkan, wajah yang menghitam dan hanya putih di sekitar mata. Kami membalasnya dengan tawa karena saat saling melihat wajah kami, memang terlihat bodoh adanya. Tapi kami bangga karena ini adalah bukti dari pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Di Malang, kami menginap di rumah teman Couch Surfingnya Mae. Rumahnya di daerah Singosari, jauh dari kota Malang. Saat malam, kami mencari makan ke daerah kota dan makan di ayam goreng Mbok Jayus (kalau tidak salah). Agaknya teman-teman sedikit bete karena sempat salah angkutan dan harus jalan kaki jauh sekali. Belum lagi tempat duduk yang dioper kesana kemari.

Malang ini mirip Bandung. Udaranya dingin, tidak panas seperti Probolinggo atau Surabaya. Saya juga suka suasananya. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi pula. Ini mengingatkan pada Solo dan Jogja. Saya pikir saya tidak akan masalah jika saya harus tinggal lama-lama di sana.

Berbeda dengan kereta yang kami naiki saat menuju Malang, pulangnya kami memutuskan naik kereta ekonomi dari Kediri seharga Rp17.000,-. Bis antar kota dari Malang ke Kediri ini dijejalkan banyak orang sampai mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Beruntung saya dan teman-teman dapat tempat duduk. Caesar bahkan sempat memangku anak kecil yang digendong ibunya sambil berdiri karena tidak dapat tempat duduk.

Di Blitar, kami menemukan daerah seperti Puncak. Jalanan berkelok, pepohonan, dan udara yang segar. Bahkan Mae dan Prisi sempat melihat laut dibalik rimbunnya pepohonan. Katanya lautnya tenang dan tidak berombak. Saya sendiri tidak lihat karena sibuk tertidur.

Sampai di Kediri, waktu semakin menipis karena sebentar lagi kereta sudah mau berangkat dan angkutan sudah jarang. Apalagi kami belum makan pagi dan makan siang. Akhirnya kami memakai becak. Sampai di stasiun, kami berbagi tugas. Ada yang membeli tiket, ada yang menjaga tas, dan ada yang membeli makanan. Total perjalanan dari Malang-Kediri-Bandung sekitar 70.000, jauh lebih murah dari ongkos keberangkatan :)

Selama perjalanan menuju Bandung, kami bercerita banyak hal. Caesar menceritakan pengalamannya mendaki 8 gunung besar di Indonesia, aktivitasnya sebagai pencinta alam, pengalamannya ditinggal satu minggu di hutan, sampai pengalaman sentimentil dimana ia harus kehilangan temannya saat mendaki tebing di Citatah. Fiersa sibuk menceritakan teori konspirasi Einstein, Prisi sibuk mempraktekkan gaya hantu, Mae banyak tidur. Saya sibuk memberi konsultasi psikologis dengan asumsi tanpa dasar tapi mereka percaya-percaya saja. Mimi sempat terganggu dengan pedagang yang hilir mudik dan menawarkan setiap menit. Saya tidak bohong, betul-betul setiap menit! Karena banyak orang yang hilir mudik dan mencurigakan, kami tidur gantian. Tapi saat saya kebagian shift tidur, tetap saja tidak bisa nyenyak karena bangku kereta yang sangat tegak dan kepala bisa jatuh kapan saja. Phew.

Maka, di pukul lima pagi, sampailah kami di stasiun Kiara Condong. Di sana kami berpisah. Mimi dan Mae naik lagi kereta menuju stasiun Bandung, Fiersa, Caesar, dan Prisi lanjut ke rumah masing-masing, dan saya pulang. Iya, saya pulang. Saya pulang menuju kamar 3x3 meter yang saya tinggal selama lima hari berpetualang bersama teman-teman yang menyenangkan.


Travelmate. Arah jarum jam: Wisnu, Fiersa, Mae, Nana, Arga, Icha, Bogel, Caesar, Prisi, saya, Roni, Mimi, Agung, dan Andi. Foto oleh Mimi.

Dunia ini luas dan ini adalah karunia Tuhan. Eksplorasilah selama kita memiliki usia, rezeki, kesehatan, dan kebebasan. :)

9 comments:

Andika said...

Asyik banget bacanya, Nia! Kayaknya kesenangan elu waktu melakukan perjalanan ini betul-betul meresap ke tulisannya. Foto pas elu cemong pasir itu keren banget! Hahaha... Jarang-jarang...

Anonymous said...

keren!

-bolehliat-

Nia Janiar said...

@Andika: Iya, gue juga asyik nulisnya. Ini kebilangnya tulisan paling panjang dari yang pernah gue buat. He.

Bukan jarang2 kale, tapi gak pernah! Haha.

@Tiwi: Makasiyy..

andhi akbar said...

hahahaha mantab nia... nanti klo ada trip lagi di share yah.. buat berbagi bagi pengalaman.... tapi ceritanya kerennnn.... i like it...

Nia Janiar said...

@Andi: Waaah, temen trip komen disini! Kapan2 kita ngetrip bareng lagi yuk, Ndi!

Agusmiyana Merdekawati said...

moga - moga bisa bertemu lagi kak nia, amin....

Nia Janiar said...

Iyaaaa, mudah-mudahan kita ketemu lagi yaaa. Amin :)

Anissa Indriastuti said...

waktu aku ke bromo, belon punya kamera digital bun. jadi ga bisa dipamerin di fesbuk. hehehe.

Pengalaman yang tak terlupakan. dibangunin jam 3, solat subuh di puncak, liat pura ditengah gurun, dan selalu pegang idung pas difoto (karena saat itu muka dan tangan sama2 beku, jadi ga bisa ngerasain apa2).

di hari yang sama, sorenya kami liat sunset di bali. hehehe.

makasih ya bun, pas ngebaca postingan yang ini, aku berasa diingetin lagi senengnya liburan waktu itu, dan liburan2 bareng keluarga lainnya =D

-ceu2-

Nia Janiar said...

Gyaaa... ceu-ceu. My pleasure!

Wah, seru pisan eta solat subuh di puncak. Terus langsung ke Bali gitu. Wiiihh..