Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2011

Meminta Maaf

Pada suatu hari, teman saya bertanya, "Nia, apakah kalau orang sudah memaafkan tapi masih teringat terus dengan kejadiannya itu sama dengan memaafkan atau tidak?"

Saya bingung. Saya pikir dia salah bertanya kepada saya karena saya tidak ahli dalam bidang akhlak begini. Maka, dengan kitab Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya meminta dia bersama-sama mengurai permasalahannya (baca: mikir bareng).
Secara definisi, maaf berarti pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Jika kita sudah meminta maaf tapi masih teringat-ingat dengan kejadiannya dan muncul amarah dalam benak kita, maka kita belum memaafkan. Maka orang itu tidak bebas karena masih terikat dengan perasaan negatif kita. Namun jika tidak muncul amarah atau hanya muncul perasaan biasa-biasa saja, artinya kita sudah memaafkan. Sehingga memberi maaf tidak sama dengan melupakan. Boleh ingat, tapi perasaan sudah netral.
Misalnya saya memaafkan seorang teman yang pernah melempar batu sehingg…

Perempuan Seperti Saya

Memangnya saya seperti apa? Saya juga tidak tahu. Tapi teman-teman saya punya pendapat tersendiri tentang saya. Dari perilaku, sifat, dan tampilan fisik--mereka ragu kalau saya bisa melakukan tugas domestik. Mungkin saya semacam tidak memiliki potongan calon ibu rumah tangga.
Misalnya saat saya bilang mau menyetrika, teman saya komentar, "Suka ngelakuin juga?" Atau misalnya teman kantor yang kaget ketika saya mengaku saya bisa masak, teman main yang kaget saya bisa membuat kue, dan lainnya. Memangnya dalam situasi kantor atau permainan, saya harus membicarakan saya bisa masak atau bisa melakukan pekerjaan domestik seperti, "Haaai. Aku bisa masak lhoo"? Agaknya saya tidak perlu memakai 'celemek' kemana-mana.
Saya tidak tersinggung. Justru lucu saja. Perlukah saya beri tahu ke semua teman bahwa saya sangat diajarkan untuk bisa melakukan kegiatan domestik? Di rumah saya memang ada tiga orang pembantu, namun ketika mereka libur seperti menjelang lebaran, semua or…

Garis Batas (2011)

"Menemui" Agustinus Wibowo merupakan sebuah perjalanan panjang bagi saya. Diawali dari topik tentang Perjalanan Agustinus Wibowo di forum National Geographic Indonesia (NGI), saya membaca sedikit resensi bukunya dan profilnya. Di sana dipaparkan ia melakukan perjalanan berbagai negara di Asia Tengah. Bukankah negara-negara di Asia Tengah terkenal sebagai negara "panas"? Bagaimana ia bisa melenggang bebas atau bahkan nekat melakukan perjalanan di sana?
Agustinus Wibowo--akrab disapa Gus Weng--menjawab pertanyaan dan pernyataan teman-teman NGI di forum. Respon yang ia berikan membuat saya merasa penulisnya betul-betul ada. Menurut saya, ada beberapa penulis atau orang penting yang tidak tersentuh, yang jika dikontak atau dihubungi tidak pernah membalas sehingga kita berhubungan dengan cangkang yang tidak ada isinya. Berhubungan dengan penggemar itu penting, malah sambutan hangat dapat meningkatkan loyalitas para penggemar.
Lalu beberapa hari setelah itu, saya menerima…

Menjadi Diri Sendiri

Beberapa hari ini, saya memikirkan kalimat 'just be yourself' atau 'menjadi diri sendiri'. Pertama, kemarin ini saya bercerita kepada teman tentang saat saya remaja, saya ingin seperti kakak sepupu saya yang cantik dan pintar adanya. Namun semakin dewasa, saya malah ingin menjadi diri saya--yang tidak cantik dan tidak pintar namun saya bersyukur. Kedua, ada teman saya yang bilang, "Stupid people says 'just be yourself', smart people says 'just be better yourself'"
Memangnya sedosa apa menjadi diri sendiri?
Menjadi diri sendiri bukan berarti kebal dikritik. Misalnya, "Nia, kamu terlalu berisik." lalu saya menjawab, "Ini diri saya. Terima saja." Jika keberisikan saya memang menganggu hikayat orang banyak, kritik itu harus saya dengar. Ini namanya kritik membangun agar kita just be better ourselves. Namun jika kritik diberikan kepada kita itu terlalu banyak, bahkan untuk sesuatu yang tidak penting, dan sebetulnya hikayat orang b…

Ransum

Ini adalah tulisan lanjutan dari Menghitung Mundur.
Seperti yang sudah diprediksi, jalan meninggalkan pekerjaan demi cita-cita tidaklah mudah. Alhamdulillah tulis menulis saya lancar sekali. Tulisan saya dimuat di beberapa media, jejaring dengan para penulis semakin luas, mendapatkan umpan balik yang positif dari skala yang luas, dan lainnya. Namun yang membikin susah adalah lingkungan saya. Seperti yang sudah saya duga, mereka akan menyesali kenapa saya keluar, menyinggung soal penghasilan tanpa memperhatikan kemajuan kualitatif yang saya dapat. Quantity is number one while quality doesn't count.
Bibir-bibir tidak mau berhenti menyinyir dan pandangan mata tidak mau berhenti meremehkan. Kuping saya panas, darah saya bergejolak. Hati sesak hanya bisa memendam karena kata-kata itu luber dari orang-orang yang membesarkan saya, yang memiliki andil dalam kehidupan saya, dan merasa andil itu harus dibayar dengan diamnya saya. Tidak boleh melawan, tidak boleh berargumen karena nanti diangg…

Akrostik

Nanar mata memandangIngkari, Aku
Jelaga seketika Amarah menyesakkan dada Nadi berdenyut kencang
Ingkar Adalah yang kau lakukan Resap dalam setiap inci tubuhmu
----
Hasil latihan menulis writers' circle tentang puisi akrostik. Saat itu kata-kata yang diharuskan adalah nama panjang kita sendiri. Maka saya menuliskan NIA JANIAR di setiap awal kata.

Muallaf (2008)

Saya baru tahu kalau muallaf itu bukan melulu konversi dari satu agama ke agama lain. Muallaf bisa juga berarti kembali ke (makna) asal. Sekiranya itu yang disampaikan di film drama Malaysia berjudul Muallaf (1998) yang disutradarai oleh Yasmin Ahmad. Film ini diputar di Museum Asia Afrika (8/8) dalam rangka memperingati 44 tahun berdirinya organisasi ASEAN.
Bercerita tentang perempuan muslim yang bernama Rohani dan Rohana--dua orang muslim taat--yang kabur dari rumah untuk menyelamatkan diri dari perilaku kasar ayahnya. Rohana memiliki kebiasaan yang jika kesal, ia akan mengucapkan nomer ayat-ayat Quran dan membuat guru di sekolahnya takut. Keunikan Rohana ini membuat Brian--guru sejarahnya yang beragama Kristen--tertarik. Dari interaksi bersama Rohana dan Rohani, Brian menjadi tertarik mempelajari agamnya. Selain itu Rohani banyak memberikan nasihat agar Brian berhubungan baik dengan ibunya.
Melihat judul serta interaksi Brian dan Rohani mungkin membuat penonton berburuk sangka bahwa …

The White Balloon (1995)

Setelah sekian lama tidak menonton film non-Hollywood, siang tadi (7/8) ceritanya saya nonton The White Balloon (1995) bareng Aleutians. Jika ada para pembaca yang mengikuti blog Reading Lights Writer's Circle dan tahu kegiatan movie week, maka pengetahuan perfilman saya terputus semenjak teman saya yang mengelola movie week hengkang dari RLWC.
The White Balloon adalah film drama keluarga dari Iran yang berkisah tentang Razieh (7 tahun) yang merengek ke ibunya minta dibelikan ikan mas yang banyak siripnya dan chubby. Saat sedang meratapi kolam ikan yang ada di rumahnya, kakaknya Razieh mempersuasi ibunya agar membelikan ikan mas. Lalu, diberilah ia 500 toman--400 lebihnya dari harga satu ekor ikan mas.
Singkat cerita, untuk mendapatkan ikan mas, anak yang memiliki karakter cerdas dan cerewet ini mengalami beberapa hambatan. Ia harus dikerjai oleh snake charmers (pertunjukkan di jalanan dimana orang memainkan instrumen untuk menghipnotis ular) serta uangnya masuk ke dalam gorong-goro…

Madre (2011)

Madre. Aku lapar, aku ingin nasi. Tapi karena tidak ada nasi, lalu aku pergi ke sebuah warung yang sudah terkenal. Tidak ada lontong, hanya ada gado-gado yang menjadikan ini distraksi. Ah, tidak mengapa, mengganjal sedikit. Tapi tetap nanti aku akan makan nasi.
Gado-gadonya isinya banyak dan beragam. Ada sayur, ada telur, dan saus kacang. Tapi--bleerghh--aku enggak suka sayur kacangnya. Terlalu hambar. Sejujurnya sudah terlihat dari warna saus yang pucat. Juga rasanya terlalu bingung; kadar gula merah, bawang putih, dan cabainya tidak pas.
Kulihat lagi nama penjual gado-gadonya di spanduk yang menutupi warung. Tempat makan ini sudah terkenal sehingga banyak orang yang datang. Aku jauhkan sepiring gado-gado yang belum habis. Kubayar, lalu beranjak pergi, mencari nasi.
Biasanya aku enggak masalah dengan gado-gado. Sepertinya ini masalah selera.

Guratan Sejarah Melalui Cihapit

Mungkin keluarga Simangunsong--yang mencetak Dewi Lestari, Arina Mocca, atau Imelda Rosalin--pernah memiliki kesan tersendiri pada pasar tradisional Cihapit karena menghabiskan masa kecilnya di sana. Ada keluarga lain yang juga makan nasi rames Cihapit, lotek di gang dekat masjid, atau juga makan kupat tahu Galunggung yang masih berkiprah hingga sekarang. Lorong-lorong bisu yang bertahun-tahun terbangun ini menjadi saksi bisu orang-orang Bandung yang tumbuh dan berkembang.



Sejarah Bandung tidak hanya kawasan Braga atau Asia-Afrika yang ramai diceritakan karena penuh bangunan tua. Kawasan Cihapit dan rumah saya (Taman Pramuka) juga memiliki nilai sejarah. Bangunan tuanya berupa rumah-rumah, bukan gedung megah layaknya di daerah Alun-Alun Bandung. Namun siapa sangka rumah-rumah itu juga menyimpan cerita yang lebih mengerikan.
Bang Ridwan--si pencerita sejarah Bandung dari Komunitas Aleut!-- mengatakan bahwa Cihapit dulu dikenal sebagai Bloemenkamp. Saat penjajahan Jepang, wilayah ini d…