Garis Batas (2011)

"Menemui" Agustinus Wibowo merupakan sebuah perjalanan panjang bagi saya. Diawali dari topik tentang Perjalanan Agustinus Wibowo di forum National Geographic Indonesia (NGI), saya membaca sedikit resensi bukunya dan profilnya. Di sana dipaparkan ia melakukan perjalanan berbagai negara di Asia Tengah. Bukankah negara-negara di Asia Tengah terkenal sebagai negara "panas"? Bagaimana ia bisa melenggang bebas atau bahkan nekat melakukan perjalanan di sana?

Agustinus Wibowo--akrab disapa Gus Weng--menjawab pertanyaan dan pernyataan teman-teman NGI di forum. Respon yang ia berikan membuat saya merasa penulisnya betul-betul ada. Menurut saya, ada beberapa penulis atau orang penting yang tidak tersentuh, yang jika dikontak atau dihubungi tidak pernah membalas sehingga kita berhubungan dengan cangkang yang tidak ada isinya. Berhubungan dengan penggemar itu penting, malah sambutan hangat dapat meningkatkan loyalitas para penggemar.

Lalu beberapa hari setelah itu, saya menerima kabar bahwa Tobucil mendatangkan Gus Weng. Letak Tobucil ini hanya beberapa ratus meter dari rumah. Saya lupa saat itu ada kegiatan apa, yang pasti saya tidak bisa datang. Sangat disayangkan, saya tidak bisa bertemu dengannya.

Jauh setelah itu, dalam jeda sesi pengobatan ibu saya, akhirnya kami bertemu di sebuah toko buku di Jalan Supratman. Ia sedang duduk di dekat rak, memakai jaket hitam--kontras dengan warna kulitnya yang kekuningan. Di kakinya, terlihat sepasang sepatu bot yang sudah usang. Di sebelah kanannya, tersimpan ransel besar yang tidak terbayangkan beratnya. Di kepalanya, bertengger sebuah topi kecil bersudut empat, dengan sulaman yang terbuat dari emas. Saya menyapa, ia membalas dengan ramah.


Ia bercerita tentang kunjungannya ke lima negara yang ada di Asia Tengah: Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Saya melongo mendengar ia mengunjungi negara-negara yang bahkan mungkin tidak terpikirkan bagi turis untuk berkunjung. Betul saja, ternyata ia tidak melenggang bebas seperti yang sebelumnya saya duga. Ia membutuhkan perjuangan, perjalanan di bawah ketakutan, juga kecemasan saat berada di kelima negara yang terkenal dengan korupsi dan birokrasi berbelit.

Gus Weng menceritakan kesemua negaranya dengan perlahan, cermat, dan memperhatikan detil suasana dan perasaan--menunjukkan ciri khas setiap negara yang terpisah oleh sebuah garis batas imajiner yang nyata dalam bentuk tentara perbatasan, pos penjagaan, kawat berduri, atau tembok kokoh yang menjulang tinggi. Lalu garis batas--yang menjadi judul dan juga sulaman benang merah yang mengkaitkan cerita kelima negara bak kain perca dengan kuat--tidak melulu perbatasan antar negara. Gus Weng memperlebar makna garis batas kepada zona nyaman, hambatan interaksi dua ras yang berbeda seperti 'aku Uzbek, kau Kirgiz' , 'aku Jawa, kamu Sunda', bahkan warna kulit. Ia berkata, "Kulit membungkus manusia. Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir."

Banyak sentuhan personal yang ia paparkan saat ia bercerita berkaitan dengan identitas diri saat ia berada di Kirgiztan. Di sana ia merefleksikan pengalamannya sebagai warga yang memiliki garis Tionghoa yang mengalir dalam darahnya dan menjadi batas berinteraksi dengan tempat dimana ia lahir, tumbuh, dan mengenyam pendidikan di dalamnya: Indonesia. Diskriminasi birokrasi terhadap minoritas Tionghoa misalnya harus menunggu dua puluh tahun untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Gus Weng sendiri baru mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) setelah mendaftar di universitas negeri.

"Perpindahan itu mengubah nasib dan takdir, mengubah jati diri dan impian. Ada beberapa saudara yang saya kenal, lahir di Indonesia, besar di Indonesia, hidup di Indonesia, belum pernah menginjakkan kaki ke negeri Cina, tetapi selalu merindukan Cina, mendambakan Cina, menganggap diri sebagai orang Cina. Di kampung saya, "pulang ke negeri leluhur" atau huiguo adalah impian banyak orang Tionghoa. ... Pulang, ke rumah yang tidak pernah dikunjungi, tetapi terasa kerinduannya. Tanah leluhur itu laksana Mekkah. Negeri itu menjadi sebuah tanah suci, tanah air fantasi, tumpah darah imajiner, kecintaan yang dipenuhi romansa dan mitos ... indah, begitu indah." (2011:217-218)

Masalah identitas negara pun menjadi sorotan Gus Weng. Misalnya Kirgiztan yang mencoba terlepas dari jeratan budaya Rusia namun tidak bisa. Kirgiztan harus kembali lagi menggunakan bahasa Rusia di negaranya.

"Di antara negara-negara baru yang berkoar tentang nasionalisme, Kirgiztan masih sulit melepaskan diri dari masa lalunya di bawah Uni Soviet. Di ibu kota negeri ini, bahasa nasional Kirgiz nyaris tak terdengar. Semua orang--termasuk bangsa Kirgiz--bicara bahasa Rusia, yang bari mereka terdengar lebih intelek daripada bertutur dalam bahasa kaum nomad.

Bahasa nasional adalah perjuangan besar untuk mempertahankan eksistensi dan jati diri. Sementara di belahan lain Asia, pemimpin dan rakyatnya malah bangga bisa menyelipkan kata dan kalimat bahasa asing, sebagai lambang dan kecerdasan kemajuan berpikir, tertimbun oleh kekaguman dan pemujaan peradaban asing--secuil superioritas dari sindrom inferioritas bangsa terjajah." (2011:177-179)

Lalu bagaimana dengan identitas kita sendiri? Sudah betulkah nasionalisme yang tergugah dalam bentuk teriakan-teriakan, amarah, dan ajakan perang terhadap negara tetangga yang dianggap merebut kebudayaan Indonesia karena klaim salah satu produknya? Ozoda Kosimova--perempuan yang Gus Weng kenal di Uzbekistan--yang berdarah campuran Uzbek dan Tajik, berbahasa Indonesia lancar hasil mempelajari sendiri dari buku, membuka kelas tarian di Samarkand dan jago menarikan Badinding, Sekaria, Piring, Batik, Puspito, dan Yapong. Kita sebagai nasionalis Indonesia, tahukah kita tentang tarian itu semua? Bisakah kita menarikannya? Saya tidak. Klaim akan menjadi sah jika bangsanya sendiri tidak melestarikan kebudayannya.

"Mungkin ada benarnya teori ini, untuk membunuh sebuah bangsa, bunuhlah dulu bahasanya. Bangsa yang kehilangan bahasa adalah bangsa yang kehilangan identitas. Bangsa itu kemudian melebur dalam diri budaya bangsa lain yang lebih besar." (2011:286-287)

Dalam ceritanya, Gus Weng mengajak saya untuk berimajinasi dan merasa berinteraksi dengan masyarakat Asia Tengah, bergerak dalam dinamikanya. Menyatu. Melebur. Menghilang di tengah pada salju putih yang berkilauan ditempa matahari, terkepung oleh gunung-gunung sebagai atap dunia di Tajikistan, lunglai dalam vodka di Kirgiztan, melihat dua orang yang beradu kasih di atas salju di Kazakhstan, takzim dalam seni Persia di Uzbekistan, melihat keindahan yang megah namun kosong dan artifisial di Turkmenistan.

Setelah selesai mendengarnya bercerita, saya merasa lelah. Persis kelelahan yang saya rasakan sehabis jalan-jalan. Perasaan berkecamuk, terutama saat membayangkan bahwa saya tidak memiliki kewarganegaraan seperti orang-orang di Kazakhstan dan Uzbekistan, membayangkan identitas saya tidak lebih dari tumpukan dokumen. Tanpa dokumen, bisakah Nia tetap menjadi seorang "Nia"? Juga Gus Weng menyisakan pertanyaan di benak saya: Bagaimana jika ia bukan WNI lalu ia berkunjung ke Indonesia? Apa yang kira-kira akan ditulisnya?

Saat itu, handphone saya berdering. Ibu saya mengabarkan kalau sesi berobatnya sudah selesai. Saya pamitan dengan Gus Weng. Dalam hati, saya pasti akan bertemu dengannya lagi. Entah di toko buku mana, atau di ruang diskusi mana.

Sambil tersenyum, ia menjawab, "Spasibo. Rahmat."

Comments

Andika said…
elu suka banget bukunya, ya? biasanya gw ga tertarik baca2 catatan perjalanan, tapi penggambaran lu tentang buku ini bikin gw pengen baca..
Nia Janiar said…
Iya, Dika. Karena menurut gue ini buku adalah paket lengkap. Engga hanya keadaan alam, tapi situasi sosial yang digambarin bikin buku ini khas. Udah gitu jangkauannya luas: negara2 di Asia Tengah lalu direfleksikan di kehidupan Indonesia.

Gue rasa Gus Weng ini melakukan kontemplasi yang mendalam. Soalnya gue berkaca dari catper lainnya yang 'duh-kasihan-tapi-lanjut-jalan2'.
Anonymous said…
kamu ketemu dia langsung??kalo ketemu lagi,ajak aku dong!!plisssssssss.................:)D

-bolehliat
Nia Janiar said…
errrr.. maksud ketemunya di sini sebetulnya analogi saat aku ketemu bukunya dan baca bukunya..

Popular Posts