Skip to main content

Menjadi Diri Sendiri

Beberapa hari ini, saya memikirkan kalimat 'just be yourself' atau 'menjadi diri sendiri'. Pertama, kemarin ini saya bercerita kepada teman tentang saat saya remaja, saya ingin seperti kakak sepupu saya yang cantik dan pintar adanya. Namun semakin dewasa, saya malah ingin menjadi diri saya--yang tidak cantik dan tidak pintar namun saya bersyukur. Kedua, ada teman saya yang bilang, "Stupid people says 'just be yourself', smart people says 'just be better yourself'"

Memangnya sedosa apa menjadi diri sendiri?

Menjadi diri sendiri bukan berarti kebal dikritik. Misalnya, "Nia, kamu terlalu berisik." lalu saya menjawab, "Ini diri saya. Terima saja." Jika keberisikan saya memang menganggu hikayat orang banyak, kritik itu harus saya dengar. Ini namanya kritik membangun agar kita just be better ourselves. Namun jika kritik diberikan kepada kita itu terlalu banyak, bahkan untuk sesuatu yang tidak penting, dan sebetulnya hikayat orang banyak tidak bermasalah (demi kepuasan satu orang) rasanya perlu dipertimbangkan.

Tidak semua ucapan orang perlu didengar. Dan diri tidak bisa memuaskan semua kepala.

Saya tidak mau mengidap Stockholm Syndrome atau masokis dimana saya merasa semua kritikan itu bentuk kasih sayang kepada saya. Banyak cara untuk menunjukkan perhatian, bukan dalam bentuk kritik kebanyakan yang membikin self-esteem jatuh. Saya rasa sekuat apapun orang tersebut, pasti mengalami fase turunnya self-esteem.

Tidak menjadi diri sendiri itu seperti mengganti rumput gajah dengan rumput peking akibat melihat halaman tetangga, lalu saat tetangga mengganti halamannya dengan paving block, masih mau mengganti rumput peking yang telah ada, dan seterusnya. Jangan-jangan maksud dari menjadi diri sendiri adalah puas menjadi diri sendiri.

Bisa jadi kalimatnya begini, "Oke, saya Nia. Mungkin ada banyak kekurangan dalam diri saya yang perlu kritik membangun, namun jika tidak menganggu diri dan lingkungan, biarkan saya menjadi diri saya. Menjadi pribadi unik yang tidak mengikuti standar dan kemauan orang lain. Kalaupun saya gagal, diri pribadi saya yang menanggungnya."


Ya, mungkin begitu.

Comments

permata said…
Buni,,,Suka banget gw...
I wanna be me.. Just be me :P

Balik ngebahas yg kmrn ya...
Ladyonthemirror said…
Menjadi diri sendiri dan terus memperbaiki diri, begitukan seharusnya?
Nia Janiar said…
@intan: emang yang kemaren bahas apa gitu, Ntan? >> short term memory. Hehe.

@ladyonthemirror: Lebih setuju.
Vendy said…
Bisa berujung antara definisi baik/buruk nih :))
Nia Janiar said…
Haha, coba jelaskan, Vendy, maksud dari berujung baik dan buruk..

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…