Muallaf (2008)


Saya baru tahu kalau muallaf itu bukan melulu konversi dari satu agama ke agama lain. Muallaf bisa juga berarti kembali ke (makna) asal. Sekiranya itu yang disampaikan di film drama Malaysia berjudul Muallaf (1998) yang disutradarai oleh Yasmin Ahmad. Film ini diputar di Museum Asia Afrika (8/8) dalam rangka memperingati 44 tahun berdirinya organisasi ASEAN.

Bercerita tentang perempuan muslim yang bernama Rohani dan Rohana--dua orang muslim taat--yang kabur dari rumah untuk menyelamatkan diri dari perilaku kasar ayahnya. Rohana memiliki kebiasaan yang jika kesal, ia akan mengucapkan nomer ayat-ayat Quran dan membuat guru di sekolahnya takut. Keunikan Rohana ini membuat Brian--guru sejarahnya yang beragama Kristen--tertarik. Dari interaksi bersama Rohana dan Rohani, Brian menjadi tertarik mempelajari agamnya. Selain itu Rohani banyak memberikan nasihat agar Brian berhubungan baik dengan ibunya.

Melihat judul serta interaksi Brian dan Rohani mungkin membuat penonton berburuk sangka bahwa akhirnya Brian akan pindah agama ke Islam. Nyatanya tidak. Brian, yang semula selalu menolak ajakan ibunya pergi ke gereja, akhirnya mau ikut apa kata ibunya. Rohani yang semula berhubungan buruk dengan ayahnya, diakhiri dengan pulang ke rumah ayahnya dan merawat ayahnya yang terkena stroke. Jadi, inilah konsep muallaf dimana orang tua adalah analogi Tuhan. Kembali ke "orang tua". Kembali ke asal.

Dalam film Muallaf, terlihat tolerasi keberagamaan. Ketika Rohani berinteraksi dengan Brian, ia tidak pernah memaksakan Brian untuk memeluk agamanya. Semua berlangsung sesuai dengan jalan yang dipilih masing-masing (agama) untuk menuju yang satu. Dan ini dikuatkan dengan pernyataan kepala sekolahnya bahwa untuk menuju Tuhan, jalan orang itu berbeda-beda. Uniknya Yasmin Ahmad sendiri mengakui--dalam tautan Wikipedia--bahwa ia mencari Tuhan melalui film-film yang ia ciptakan.

Dlihat dari trailer di atas, ada adegan dimana tokoh Rohani digunduli. Bagian ini sempat dipotong di Malaysia karena Islam melarang perempuan dipotong menyerupai laki-laki. Baru satu tahun kemudian, film ini boleh beredar di Malaysia dengan beberapa dialog yang suaranya dipadamkan.

6 comments:

Andika said...

Jurnal Sapta ttg pemutaran Mukhsin yang juga disutradarai Yasmin Ahmad: http://rlwriterscircle.blogspot.com/2010/05/movie-week-mukhsin.html . Gw jadi pengen nonton film2nya yang lain.

Nia Janiar said...

Aaah yaaa.. yaa... gue inget. Inget edit jurnalnya, maksudnya. Haha.

cassia vera said...

film2 yasmin ahmad memang bagus2.. :) aku suka banget! bukan cuma filmnya aja, tvc2 yang ia buat pun, baik untuk malaysia maupun singapur, bagus2 :D pengen banget ngumpulin semua karyanya...

Nia Janiar said...

Waaah, iya ya? Jujur, aku sih gak ngikutin karya-karyanya, jadi gak tau deh. Kalau ada yang oke, boleh dong direkomendasiin. Hehe..

Wita said...

Teh Nia.. filmnya ada subtitle bhs Indonesianya kah? Sepertinya menarik :)

Nia Janiar said...

Kalau enggak salah, dalam bahasa Melayu deh.. Awak nak tengok-tengok sikit laahh.. *gak tau apaan artinya. hehe*