Perempuan Seperti Saya

Memangnya saya seperti apa? Saya juga tidak tahu. Tapi teman-teman saya punya pendapat tersendiri tentang saya. Dari perilaku, sifat, dan tampilan fisik--mereka ragu kalau saya bisa melakukan tugas domestik. Mungkin saya semacam tidak memiliki potongan calon ibu rumah tangga.

Misalnya saat saya bilang mau menyetrika, teman saya komentar, "Suka ngelakuin juga?" Atau misalnya teman kantor yang kaget ketika saya mengaku saya bisa masak, teman main yang kaget saya bisa membuat kue, dan lainnya. Memangnya dalam situasi kantor atau permainan, saya harus membicarakan saya bisa masak atau bisa melakukan pekerjaan domestik seperti, "Haaai. Aku bisa masak lhoo"? Agaknya saya tidak perlu memakai 'celemek' kemana-mana.

Saya tidak tersinggung. Justru lucu saja. Perlukah saya beri tahu ke semua teman bahwa saya sangat diajarkan untuk bisa melakukan kegiatan domestik? Di rumah saya memang ada tiga orang pembantu, namun ketika mereka libur seperti menjelang lebaran, semua orang di rumah--tanpa melihat jenis kelamin--harus bangun pagi untuk melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci pakaian dan piring, menyapu, mengepel, dan lainnya. Kami mencuci piring kami sendiri.

(Jadi tidak usah kaget jika saya datang ke rumah teman yang tidak ada pembantu lalu saya inisiatif mencuci piring saya sendiri.)

Perlukah saya beri tahu bahwa setiap menjelang lebaran saya selalu membuat kue kering sendiri atau bisa membuat kue basah seperti brownies sendiri?

Perlukah saya beri tahu bahwa kami juga menguras kamar mandi setiap minggu?

Apakah tangan harus kasar dan kaki harus pecah-pecah untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan itu melakukan pekerjaan domestik?

Bagi saya hal-hal di atas itu tidak penting dibicarakan. Namun sekarang saya sudah memberi tahu. Saya bisa melakukan tugas domestik. Saya bisa masak. Ya--kecuali jika kau menginginkan masakan kelas hotel bintang lima.

2 comments:

Sundea said...

Asiiiik ... masakin, dong, gue kan ga bisa masak, Ni ... =D

Nia Janiar said...

Ayoooo!