Ransum

Ini adalah tulisan lanjutan dari Menghitung Mundur.

Seperti yang sudah diprediksi, jalan meninggalkan pekerjaan demi cita-cita tidaklah mudah. Alhamdulillah tulis menulis saya lancar sekali. Tulisan saya dimuat di beberapa media, jejaring dengan para penulis semakin luas, mendapatkan umpan balik yang positif dari skala yang luas, dan lainnya. Namun yang membikin susah adalah lingkungan saya. Seperti yang sudah saya duga, mereka akan menyesali kenapa saya keluar, menyinggung soal penghasilan tanpa memperhatikan kemajuan kualitatif yang saya dapat. Quantity is number one while quality doesn't count.

Bibir-bibir tidak mau berhenti menyinyir dan pandangan mata tidak mau berhenti meremehkan. Kuping saya panas, darah saya bergejolak. Hati sesak hanya bisa memendam karena kata-kata itu luber dari orang-orang yang membesarkan saya, yang memiliki andil dalam kehidupan saya, dan merasa andil itu harus dibayar dengan diamnya saya. Tidak boleh melawan, tidak boleh berargumen karena nanti dianggap tidak sopan, harus tetap berada di dalam jalur yang sudah ditentukan.

Mengapa ketimbang berandai-andai di masa lalu, mulut-mulut itu tidak memberikan saya saran apa yang harus saya kerjakan selanjutnya?

Saya sempat bertanya-tanya kepada diri, "Apakah saya membuat keputusan yang salah? Apakah keputusan saya terlalu dini? Jika iya, bagaimana memperbaikinya? Jika iya, kapan saya akan merealisasikannya? Apakah perlu tua dan mapan dulu untuk mengejar cita-cita?" Hidup itu adalah pilihan dan manusia harus bertanggung jawab pada pilihannya. Ingatkan saya pada Roma yang tidak dibangun dalam satu malam. Cita-cita tidak akan tercapai dalam hitungan bulan. Ibarat emas, proses pembuatannya perlu peleburan dan perlu pemurnian.

Mulut-mulut akan terus mengepak seperti kupu-kupu, mengeluarkan kata-kata setajam pisau. Apakah orang-orang sukses hari ini akan dilihat saat ia masih berjibaku dengan usaha kecilnya? Tidakkah mereka baru diakui dan dipuja-puja saat mereka sudah ternama?

Saya perlu jalan tengah. Salah satu dosen saya memberikan saran bahwa saya harus tetap berpenghasilan tetap sementara terus menulis atau melakukan kegiatan yang saya suka. Saya rasa ucapannya betul. Saya harus realistis. Saya tidak gila sepenuhnya.

Ini jadi permasalahan mental, bukan keterampilan. Saat kalian juga akan mengejar impian, ingatlah bahwa hal ini perlu diperhitungkan. Ingatlah bahwa selain kita sendiri yang beradaptasi, lingkungan pun perlu beradaptasi dengan perubahan kita. Inikah yang banyak kalian takutkan? Meski lingkungan ada yang tidak mendukung, harus tetap ingat bahwa pasti ada juga yang mendukung. Mereka yang terus mengingatkan ketika kalian gamang di persimpangan.

Seperti yang diucapkan teman saya yang sama-sama sedang berjuang menuju cita-cita, Rizal Affif, di status Facebooknya: I may start very small. It is okay. Even a giant sequoia starts off as a seed.

Saya akan terus memperjuangkannya.

Comments

alavya-shofa said…
agaknya samaaa..semangat ya kita Nia, meraih impian dan cita-cita, semoga Dia memeluk kita dan mimpi2 kita. aamin. Umm..jadi, kapan #certwit lagi? bahahaha :D
Nia Janiar said…
Amiiin. #certwit akan terus dilanjutkan jika mood mau dan koneksi internet mendukung. Aaha.. after nine yang pasti.

Popular Posts