The White Balloon (1995)

Setelah sekian lama tidak menonton film non-Hollywood, siang tadi (7/8) ceritanya saya nonton The White Balloon (1995) bareng Aleutians. Jika ada para pembaca yang mengikuti blog Reading Lights Writer's Circle dan tahu kegiatan movie week, maka pengetahuan perfilman saya terputus semenjak teman saya yang mengelola movie week hengkang dari RLWC.

The White Balloon adalah film drama keluarga dari Iran yang berkisah tentang Razieh (7 tahun) yang merengek ke ibunya minta dibelikan ikan mas yang banyak siripnya dan chubby. Saat sedang meratapi kolam ikan yang ada di rumahnya, kakaknya Razieh mempersuasi ibunya agar membelikan ikan mas. Lalu, diberilah ia 500 toman--400 lebihnya dari harga satu ekor ikan mas.

Singkat cerita, untuk mendapatkan ikan mas, anak yang memiliki karakter cerdas dan cerewet ini mengalami beberapa hambatan. Ia harus dikerjai oleh snake charmers (pertunjukkan di jalanan dimana orang memainkan instrumen untuk menghipnotis ular) serta uangnya masuk ke dalam gorong-gorong. Hingga akhirnya ia ditolong dengan tongkat milik penjual balon yang saat itu di ujung tongkatnya ada balon berwarna putih.

Inti ceritanya ya sesederhana itu. Ingin ikan-terhambat-dapat ikan pada akhirnya. Kesederhanaan cerita yang ditarik selama 85 menit tentunya menghasilkan cerita yang bertele-tele, memiliki banyak dialog, atau ada bagian yang terlihat tidak berpengaruh langsung pada cerita. Jika dinilai secara plot, saya tidak menyukai film ini karena plotnya sangat lambat sehingga terasa capek menontonnya. Contohnya saat mau mengambil uang digorong-gorong, kakaknya Razieh harus berlari kesana-sini dulu untuk mendapatkan bantuan. Ngomong-ngomong tentang plot, beberapa kali Andika pernah merekomendasikan film-film berjalan cerita lambat, tapi tetap saya tidak suka.

Jika dinilai secara setting film, saya juga tidak puas. Ibaratnya saya sedang melihat ke dalam akuarium, hanya melihat ikan-ikan di dalamnya, tanpa mengetahui pemandangan apa saja yang ada di luar kaca. Detail seperti keadaan rumah, keadaan lingkungan rumah, keadaan jalanan pun sepertinya sengaja dilewatkan sehingga pandangan difokuskan kepada interaksi tokoh dengan tokoh lainnya. Ikan dengan ikan lainnya.


Tapi jika berbicara karakter tokoh, saya apresiasi sekali. Dari karakter tokoh utama--Razieh--saya sudah menduga bahwa anak ini pasti berkisah 7 atau 8 tahun. Kepolosan, penggunaan tata bahasa yang berbelit-belit, serta gaya bertutur saat berbicara sangatlah menjelaskan bahwa ia adalah anak-anak di usia itu. Ekspresi sedih yang ditampilkan juga alamiah. Saya sendiri merasa gemas melihatnya dan ikut senang jika ia tersenyum saat mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Selain itu karakter yang kuat terlihat pada kakak laki-lakinya yaitu menjaga dan sayang pada adiknya, bapak Razieh yang pemarah (disini saya berasumsi kalau ini merupakan simbolisasi budaya di Iran dan sekitarnya bahwa pria dewasa menduduki urutan pertama setelah perempuan dan anak-anak--pernah ditunjukkan oleh Khaled Hosseini dalam A Thousand Splendid Suns dan Marjane Satrapi dalam Persepolis), dinamika masyarakat Iran tentang para wanita yang mengurus urusan anak dan rumah tangga sementara para pria sibuk dengan urusan politik bisnisnya.

Tentu ada hikmah dari film ini seperti yang disebut teman-teman Aleut. Misalnya ketika kedua tokoh tersebut mengalami masalah, para orang dewasa yang ada didalamnya tidak memberikan jalan keluar secara langsung, melainkan anak harus menyelesaikan masalah sendiri. Trial and error (mencoba, salah, lalu mencoba lagi hingga benar) yang dilakukan kedua tokoh juga menjadi fokus karakter pada tokoh anak.

Tidak wajib, namun menonton film ini lebih enak jika kita memiliki prior knowledge atau pengetahuan sebelumnya tentang Iran. Bersama Neni, saya bertanya-tanya jangan-jangan dibalik kesederhanaan film ini, banyak simbol yang dimunculkan namun tidak saya ketahui? Misalnya pegawai militer yang ada di tengah-tengah film, warna putih pada balon, atau bahkan ikan mas itu sendiri. Atau jangan-jangan saya hanya melihat kulit dari filmnya saja--seperti Razieh yang tertipu pada gemuknya ikan karena hanya melihat dari balik kaca akuarium?

2 comments:

Neni said...

Keren ini, Nia... I enjoyed reading it!

Ngomong2 soal kesederhanaan yang mungkin menjebak itu atau menyimpan sesuatu yang lebih itu, kenapa judulnya ga ikan mas aja??? Hahahhaaha....teteup! :)

Nia Janiar said...

Tengkiu.. tengkiu..

Haha iya, kenapa judulnya gak Goldfish aja yaa?