Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2011

Orang Tua VS Passion

Terinspirasi dari Reza--salah satu teman ngaleut saya--mengenai twitnya yang berkisah tentang orang tua yang mengarahkan masa depan anak namun berlawanan arah dengan passion anak. Tampak seperti permasalahan keseharian semua orang.

Saya juga dulu begitu, kok. Saya harus masuk IPA agar rentang pilihan jurusan saat kuliah bisa luas, harus masuk universitas yang berdiri di Jalan Ganesha, harus meneruskan skill piano saya padahal saya tidak suka, harus bergerak dibidang psikologi anak karena banyak anak yang error. Tapi saya tidak suka kesemuanya. Saya hobi main piano bukan sebagai profesi, saya cinta psikologi tapi bukan dibidang psikologi anak.

Sampai saya lulus kuliah, saya memutuskan mau menolak segala arahan. Maka saya bekerja sebagai pengajar ABK (yang belakangan diketahui  ini bukan passion saya) lalu ditengah segala kestabilan dan kenyamanan, saya memutuskan untuk keluar dan mengejar passion saya yaitu menulis.

Tentu ya tentu, keluarga saya sulit menerima keputusan tersebut pada a…

Sejarah Stasiun Kereta Api Bandung

Foto oleh Yandi Dephol
Coba kalau kamu pergi ke stasiun kereta lalu menemukan angka di bawah ini, kira-kira itu menandakan apa ya?

Itu tandanya stasiun ini berada 709 meter di atas permukaan laut. Saya baru tahu dan baru memperhatikan. Untung ikut Aleut!
Minggu (25/08) rute Aleut adalah menyusuri sejarah rel kereta api stasiun Bandung. Kami tidak menyusuri secara harfiah jalur rel kereta api tapi kami masuk ke stasiun lewat pintu baru, lihat-lihat dan diberi penjelasan sebentar, lalu keluar lewat pintu lama. Saat berada di depan pintu lama, terdapat sebuah replika kereta bernama Monumen Purwa Aswa Purba yang dijadikan tempat bagi Indra Pratama dan M. Ryzki bercerita bahwa jalur kereta yang pertama kali masuk ke Bandung berasal dari jalur Cianjur pada tahun 1884. Awalnya pintu depan stasiun kereta ini letaknya di sekitar Jalan Setasiun Barat terus diperbesar dari tahun 1916 karena posisi Bandung yang semakin sentral dan signifikan.
Sebelumnya Belanda mencari jalan yang cocok di Hind…

Pemancar Radio Tua

Sekitar seminggu yang lalu (18/09), saya ke kawasan Buah Batu bersama Aleutians untuk melihat menara pemancar radio yang letaknya di belakang kampus IT Telkom. Mengenai sejarah tentang menara ini, sudah diarsipkan dalam blog Aleut yang ditulis oleh M. Ryzki W. dengan judul Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II. Jadi, jurnal saya ini semacam melengkapi apa yang sudah lengkap.
Jika saya tidak ikut Aleut, pasti saya tidak tahu bahwa sebongkah besi berwarna merah putih yang menjulang tinggi itu adalah cikal bakal dan telekomunikasi Hindia Belanda. Pasti saya juga tidak tahu bahwa menara ini adalah salah satu dari 13 sisa menara yang dihancurkan untuk memutuskan telekomunikasi pada masa penjajah Jepang. Dan pasti saya hanya akan menganggap menara pemancar ini hanya berupa tempat sakral orang-orang stress yang mau meregang nyawa.
Lanjut ke belakang IT Telkom, terdapat sebuah jalan bernama Jalan Radio dan perkampungan namanya Kampung Radio. Di sana juga terdapat stasiun radio tua yang ki…

Rumah

Jadi, kemarin itu, kita laksana dua orang yang sedang main. Yang ketika tawa sudah berderai, berpeluh oleh keringat, dan sudah puas, lalu kita saling berpamitan; saling mengecup pipi, lalu mengambil jalan yang berbeda. Kamu berjalan memunggungiku lalu hilang di hiruk pikuk. Kamu pulang ke rumah.
Tetapi aku tidak. Aku masih di sini, berpura-pura mencari jalan pulang, padahal tidak. Menunggu kamu mengajak main lagi.

Nayang Wulan [Alter Ego]

Namanya Nayang Wulan. Ia berdiri di pojok ruangan bersama meteran yang terpatri di tembok. Badannya yang kecil itu hanya setinggi 155 cm, sangat kurus, dan berambut sepinggang jatuh nan lurus. Ia dilahirkan ketika bulan sabit melengkung di pekatnya langit malam, di salah satu sudut kampung di Jawa, saat angin sedang berhembus kencang. Dengan beberapa kali mengejan, lahirnya Nayang Wulan. Dilahirkan di bawah bulan dengan sebuah tanda lahir seperempat lingkaran di bahu kanan.
Kali ini dia terkikik, sibuk memainkan bayangan. Umurnya sudah menginjak pubertas, tapi Nayang Wulang tidak menyibukkan dirinya memikirkan tentang hubungan lawan jenis. Ia malah sibuk dengan pikiran-pikiran primodial masa lalu. "Aku bukan Nayang, Ibu. Aku Janus. Si Dewa bermuka dua yang bisa melihat masa depan dan masa lalu," ujarnya berkali-kali kepada ibunya, Sati. Sementara mendengarkan anaknya berkata-kata, Sati selalu menyisir rambut anaknya, sebagaimana yang ia lakukan setiap malam. Diberi kemiri da…

Gendut

Mungkin boleh ditanya kepada saudara atau teman kantor saya bahwa dulu saya tidak peduli dengan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang menunjukkan femininitas akan semakin tidak puas dengan tubuhnya. Jika saya menggunakan rok adalah indikator feminin, berarti anggap berat badan sebagai salah satu bentuk ketidakpuasan.
Saya. Gendut.
Halo, selamat datang di konstruksi sosial tentang kecantikan ideal, selamat dan sentosa kepada Twiggy karena telah membuat trend bahwa kurus adalah segalanya. Juga selamat datang kepada teman-teman saya yang riweuh selalu mengkomentari tentang berat badan saya. Juga slimming tea. Juga DVD Cardio, Pilates, dan Yoga. Juga timbangan berat badan yang akhir-akhir sering dimonitoring pergerakan jarumnya.
Jadi anggaplah saya mulai menjaga asupan makanan yang masuk ke mulut. Diet. Saat puasa pun saya mencoba tidak kalap saat berbuka. Hasilnya ya lumayan, dua kilo turun. Lalu saya bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, lalu--alih…

Cerita Sebuah Foto: Sayap di Tembok

Foto oleh Boryana Katsarova
Sudah 50 tahun Berto Tukan mengelilingi kota kelahirannya, Papuma, di siang hingga sore hari dengan sekaleng cat cokelat dan sebuah amplas. Biasanya ia mondar-mandir keliling kota mencari gambar atau tulisan yang terlukis tidak beraturan di tembok lalu dicat ulang olehnya.
Berto Tukan mencintai Papuma yang diselimuti oleh bangunan cokelat tua dengan segala kesemerawutan kabel telepn dan parabola dengan apa adanya. Bagaimana harus mencintai apa adanya karena jelas ia tidak bisa menghentikan masuknya teknologi ke kota kecil di sebelah selatan kota Jember. Tapi dia bisa menghentikan ini: warna-warni cat atau pilox yang merusak bangunan-bangunan yang umurnya jauh lebih tua dari Berto Tukan.
Kecuali itu--cetakan tangan-tangan kecil yang membentuk sebuah sayap yang terletak di salah satu sudut pusat kota Papuma. Sayap itu tentunya bukan sayap biasa karena anaknya, Rani, yang mencetus pembuatan sayap itu.
Setiap melihat lukisan sayap, pikiran Berto Tukan terbawa ke sa…

Liputan Event: Menyelami Dunia Tanpa Ikan

Tulisan oleh Nia Janiar Foto oleh Sudarmanto Edris
Ratusan orang dari beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan sudah berkumpul di ruang auditorium Museum Geologi sebelum acara dimulai. Mereka menempati kursi-kursi kosong yang telah sediakan. Di depannya, terdapat layar putih yang siap memantulkan film dokumenter dari proyektor. Mereka semua dalam tujuan yang sama yaitu mengikuti diskusi film The End of the Line dan Shark Water pada hari Minggu (21/08). Kegiatan kemudian disusul acara buka bersama komunitas forum National Geographic Indonesia Regional Bandung, WWF Indonesia, dan Museum Care.

Kegiatan dibuka oleh Sinung Baskoro—kepala Museum Geologi. Beliau memberi sambutan dan memaparkan keterbukaannya kepada komunitas-komunitas untuk mengadakan acara di museum yang letaknya di Jalan Diponegoro Bandung ini. Setelah pembukaan, pemutaran film dan diskusi dimulai yaitu mengenai populasi penghuni laut yang jumlahnya semakin berkurang karena penangkapan ikan yang dilakukan secara m…

Masa Lalu

Dalam sesi obrol, Sapta--teman saya--seringkali bercerita tentang ayahnya yang sudah lama meninggal. Tidak jarang ia juga memetik penggalan kata sang ayah yang Sapta sisipkan ke dalam ucapannya. Di sana, walaupun saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan ayahnya, saya merasa seolah-olah 'kenal' karakter ayahnya. Sapta membawanya dan menghidupkannya melalui ingatan, terselip dalam obrolan.

Begitu pula dengan masa lalu yang kembali dihidupkan oleh keluarga saya saat kumpul lebaran. Mayoritas mereka tidak berbicara tentang aktivitas sekarang ini, tetapi terseret kembali ke masa lampau yang mendulang kejayaan serta keterpurukan. Saya jadi mengenal aki papih, nini mamih, kesengsaraan buyut dalam menghidupkan 10 orang anaknya, kejayaan kakek dalam membangun kerajaan kecilnya, dan lainnya.

Masa lalu itu nyata dan terus hidup. Melalui kenangan, melalui cerita yang terus berulang.

Dalam psikologi, masa lalu memegang peranan penting dalam perkembangan seseorang. Namun saya pribad…