Skip to main content

Cerita Sebuah Foto: Sayap di Tembok

Foto oleh Boryana Katsarova

Sudah 50 tahun Berto Tukan mengelilingi kota kelahirannya, Papuma, di siang hingga sore hari dengan sekaleng cat cokelat dan sebuah amplas. Biasanya ia mondar-mandir keliling kota mencari gambar atau tulisan yang terlukis tidak beraturan di tembok lalu dicat ulang olehnya.

Berto Tukan mencintai Papuma yang diselimuti oleh bangunan cokelat tua dengan segala kesemerawutan kabel telepn dan parabola dengan apa adanya. Bagaimana harus mencintai apa adanya karena jelas ia tidak bisa menghentikan masuknya teknologi ke kota kecil di sebelah selatan kota Jember. Tapi dia bisa menghentikan ini: warna-warni cat atau pilox yang merusak bangunan-bangunan yang umurnya jauh lebih tua dari Berto Tukan.

Kecuali itu--cetakan tangan-tangan kecil yang membentuk sebuah sayap yang terletak di salah satu sudut pusat kota Papuma. Sayap itu tentunya bukan sayap biasa karena anaknya, Rani, yang mencetus pembuatan sayap itu.

Setiap melihat lukisan sayap, pikiran Berto Tukan terbawa ke saat 25 tahun yang lalu dimana Papuma tak ubahnya kota merah yang penuh dengan bangunan terbakar akibat protes warga. Papuma meminta Jember memberikan mereka ruang untuk membangun daerahnya sendiri. Makanan, teknologi, dan kebutuhan pernah dihentikan sehingga Papuma layaknya kota mati. Digawangi oleh aktivis muda yaitu putri Berto Tukan, semangat untuk bebas dari belenggu kekuasaan otonomi pusat membuat rakyatnya bergerak. Maka sayap itu adalah simbol kebebasan. Simbol harapan.

Hingga Rani ditembak mati. Papuma mulai menurun layaknya kota kumuh yang penuh dengan kejahatan karena setiap orangnya berebut kebutuhan.

Berto Tukan masih memandangi sayap yang kini tidak lebih dari lukisan biasa. Putihnya mulai pudar, rasanya sudah tidak mau mengepak.

Meski Papuma sudah jauh dari harapan, Berto Tukan menghapus lukisan-lukisan tidak penting agar sang sayap tetap bersinar di antara kumuhnya kota Papuma.


--------------------------------------------------
Cerita di atas dibuat dalam sesi Reading Lights Writer's Circle (10/09) tentang interpretasi sebuah foto. Rizal bilang cerita saya ini lebih terdengar essay ketimbang cerpen, Ryan bilang dia merindukan kata-kata puitis yang biasa suka berada di dalam cerpen saya. Agaknya frekuensi menulis non fiksi mau tidak mau mempengaruhi gaya tulisan saya. Sempitnya waktu dan ruang juga membuat cerita ini terlalu banyak tell dan terlalu terang benderang.

Comments

KecoaMerah said…
wah nama tokonya mantap benar dah... hahahahahahaha
Nia Janiar said…
Haha, nama kamu ya? Pinjem ya.. Hehe.
Sundea said…
Gue suka, kok =)
Nia Janiar said…
Hehe, makasih, Deaa.. :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…