Liputan Event: Menyelami Dunia Tanpa Ikan

Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Sudarmanto Edris

Ratusan orang dari beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan sudah berkumpul di ruang auditorium Museum Geologi sebelum acara dimulai. Mereka menempati kursi-kursi kosong yang telah sediakan. Di depannya, terdapat layar putih yang siap memantulkan film dokumenter dari proyektor. Mereka semua dalam tujuan yang sama yaitu mengikuti diskusi film The End of the Line dan Shark Water pada hari Minggu (21/08). Kegiatan kemudian disusul acara buka bersama komunitas forum National Geographic Indonesia Regional Bandung, WWF Indonesia, dan Museum Care.


Kegiatan dibuka oleh Sinung Baskoro—kepala Museum Geologi. Beliau memberi sambutan dan memaparkan keterbukaannya kepada komunitas-komunitas untuk mengadakan acara di museum yang letaknya di Jalan Diponegoro Bandung ini. Setelah pembukaan, pemutaran film dan diskusi dimulai yaitu mengenai populasi penghuni laut yang jumlahnya semakin berkurang karena penangkapan ikan yang dilakukan secara massif (over fishing)—misalnya perburuan ikan bluefin tuna dan hiu. Bayangkan jika laut hanya diisi ubur-ubur dan plankton pada tahun 2048. Bayangkan jika dunia tanpa ikan. Bayangkan juga dampak terhadap manusia yang mengantungkan hidupnya pada hasil tangkapan laut.


Aulia Rahman, Public Campaigner for Marine & Marine Species Programme WWF-Indonesia, membuka diskusi dengan menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke pelelangan ikan terbesar se-Asia Tenggara yang berada di Pekalongan dan Cilacap. Selain tempat pelelangan ikan, di sini juga merupakan perkampungan nelayan yang sudah bergenerasi. Jika dilihat dari data yang diberikan film The End of the Line, para nelayan di Pekalongan dan Cilacap tidak menyadari bahwa turunnya populasi ikan sedang terjadi meski tanda-tandanya jelas: penangkapan ikan sudah tidak bisa dilakukan di pesisir sehingga harus menjauh 3-4 km ke tengah laut, ukuran ikan yang lebih kecil, serta sudah berbulan-bulan kesulitan menangkap ikan.

Permintaan konsumen akan hidangan laut dan sushi berdampak terhadap akitifitas penangkapan secara massif ini. Penangkapan dilakukan oleh teknologi canggih seperti kapal besar, sonar, dan jaring ikan yang sangat luas ini masih memiliki kekurangan karena belum dapat melakukan pemancingan selektif. Akibatnya ikan-ikan atau benda-benda laut yang tidak dibutuhkan ikut terjaring. Saat ditarik ke darat, dalam keadaan menggelepar dan kehabisan nafas, ikan-ikan yang tidak dibutuhkan dibuang kembali ke laut dan berakhir sebagai bangkai.

Selain menangkap ikan dengan jaring, ada juga teknik ribuan kail yang disebarkan di belakang kapal. Itu juga tidak selektif dalam memilih hasil tangkapan. Alih-alih mendapatkan tuna; penyu, burung, hiu, atau paus lain pun bisa terkait oleh kail.

Untuk masalah yang spesifik seperti hiu, populasinya juga menurun seiring dengan permintaan makanan sup sirip hiu. Untuk menyajikan sebuah sirip, satu ekor hiu diambil lalu dipotong siripnya dan dibuang kembali ke laut dengan alasan daging hiu tidak enak dimakan karena banyak mengandung kadar amoniak yang tinggi. Hiu yang dibuang ke laut dalam keadaan hidup itu tidak bisa berenang. Mereka mati tenggelam dan tidak bisa bernafas karena hiu perlu mengekstrasi oksigen dari air melewati insang saat mereka bergerak.

Di Britania Raya, setelah film The End of the Line ditayangkan di Juni 2009, dipaparkan bahwa terdapat kenaikan 15% dalam pemilihan pembelian ikan yang berkelanjutan hingga tahun 2010. Setelah ditanya apa alasan mereka membeli ikan yang dipilih, mereka menjawab setelah menonton film tersebut. Bahkan salah satu chef ternama, Jamie Oliver, mengeluarkan tuna dari daftar menunya.


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah negeri bahari ini mengalami penurunan populasi yang sama? Adakah data yang menunjang untuk mengetahui kondisi perikanan ini negara ini? Juga bagaimana solusi dari masalah di atas?

Tujuan WWF-Indonesia dalam kampanye Seafood Care adalah, selain mengedukasi masyarakat, mereka menyadari masyarakat Indonesia terhadap hidangan laut yang dinikmati dengan cara memahami lebih jauh bagaimana ikan ditangkap dan dihasilkan. Dengan memahami seperti ini, masyarakat telah berkontribusi pada pelestarian sumber daya laut untuk masa depan.

Data-data yang dijaring dunia tentang penurunan populasi ikan begitu yang menyesakkan dada, membuat dunia ini seolah-olah berada di labirin yang gelap dan menyesatkan kapan saja. Namun hasil membuktikan bahwa harapan masih ada, membawa secercah cahaya di ujung labirin sana.




Sumber:

Consumer behavior changed by ‘highly influential’ End of The Line, research shows: http://endoftheline.com/blog/archives/1337

Fish Facts: http://endoftheline.com/campaign/fish_facts

Comments

Popular Posts