Skip to main content

Masa Lalu

Foto diambil dari sini

Dalam sesi obrol, Sapta--teman saya--seringkali bercerita tentang ayahnya yang sudah lama meninggal. Tidak jarang ia juga memetik penggalan kata sang ayah yang Sapta sisipkan ke dalam ucapannya. Di sana, walaupun saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan ayahnya, saya merasa seolah-olah 'kenal' karakter ayahnya. Sapta membawanya dan menghidupkannya melalui ingatan, terselip dalam obrolan.

Begitu pula dengan masa lalu yang kembali dihidupkan oleh keluarga saya saat kumpul lebaran. Mayoritas mereka tidak berbicara tentang aktivitas sekarang ini, tetapi terseret kembali ke masa lampau yang mendulang kejayaan serta keterpurukan. Saya jadi mengenal aki papih, nini mamih, kesengsaraan buyut dalam menghidupkan 10 orang anaknya, kejayaan kakek dalam membangun kerajaan kecilnya, dan lainnya.

Masa lalu itu nyata dan terus hidup. Melalui kenangan, melalui cerita yang terus berulang.

Dalam psikologi, masa lalu memegang peranan penting dalam perkembangan seseorang. Namun saya pribadi tidak memberi porsi besar dan khusus terhadap masa lalu--terutama yang tidak mengenakkan. Dia bukan jadi kambing hitam 'lihat aku sekarang. Aku hancur karena masa laluku!' namun ia menjadi motivasi agar individu bangkit kembali. Ya, mungkin seseorang pernah dipukuli oleh kedua orang tuanya dan itu menyakitkan, namun jadikan itu sebagai pelajaran agar seseorang tidak menyakiti anaknya.

Saya rasa masa lalu baik untuk ingatan, untuk media refleksi diri dan juga untuk pembelajaran. Namun jangan sampai kita hidup di dalamnya. Apalagi sampai dihantui pula.

Comments

Neni said…
masalalu oh masalalu...
like this post, Nia... :)
Nia Janiar said…
Apa sih, Neniiii? Hahaha..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…