Skip to main content

Nayang Wulan [Alter Ego]

Namanya Nayang Wulan. Ia berdiri di pojok ruangan bersama meteran yang terpatri di tembok. Badannya yang kecil itu hanya setinggi 155 cm, sangat kurus, dan berambut sepinggang jatuh nan lurus. Ia dilahirkan ketika bulan sabit melengkung di pekatnya langit malam, di salah satu sudut kampung di Jawa, saat angin sedang berhembus kencang. Dengan beberapa kali mengejan, lahirnya Nayang Wulan. Dilahirkan di bawah bulan dengan sebuah tanda lahir seperempat lingkaran di bahu kanan.

Kali ini dia terkikik, sibuk memainkan bayangan. Umurnya sudah menginjak pubertas, tapi Nayang Wulang tidak menyibukkan dirinya memikirkan tentang hubungan lawan jenis. Ia malah sibuk dengan pikiran-pikiran primodial masa lalu. "Aku bukan Nayang, Ibu. Aku Janus. Si Dewa bermuka dua yang bisa melihat masa depan dan masa lalu," ujarnya berkali-kali kepada ibunya, Sati. Sementara mendengarkan anaknya berkata-kata, Sati selalu menyisir rambut anaknya, sebagaimana yang ia lakukan setiap malam. Diberi kemiri dan lidah buaya, diurusnya Nayang Wulan dengan telaten. "Aku juga tahu kapan ibu nanti diambil Tuhan. Saat purnama berwarna merah!" seru Nayang.

Ibunya sempat terhenti sebentar, lalu ia melanjutkan proses pensisiran.

Lima tahun yang lalu, saat Nayang masih berusia 7 tahun, ia juga pernah mengatakan hal yang sama tentang ayahnya. Bulan sabit yang rasanya menggigit, menandai sebuah celurit yang menyambit leher ayahnya karena sebuah perampokan suatu yang tidak pantas dipertaruhkan: sepetak sawah di balik gunung Merapi karena sengketa dari tuan tanah.

Nayang tidak punya teman. Ia seringkali disebut gila oleh warga. Beraninya mencemooh jika Nayang Wulan berada jauh, tapi lari terbirit-birit jika ia mendekat. Bagaimana tidak, kata-kata cercauan yang tampak acak itu sering kali benar. Kalau bagus, orang boleh senang. Jika buruk, orang takut tak terbayang. Jadi, dia hanya tinggal bersama ibunya, Sati, yang selalu memakai kebaya dan mengonde rambutnya dekat telinga. Sati tidak pernah gentar dengan apa yang diucapkan anaknya, ia hanya takut jika purnama merah betulan datang lalu meninggalkan Nayang sendirian. Siapa yang mau mengurusnya?

“Bu, aku nanti mau main gamelan. Kayak anak kampong seberang sehabis sekolah. Musiknya syahdu, Bu,” ibunya hanya mengiyakan lalu mengantarkan putrinya ke tempat tidur beralasakan batik lukis, hadiah ayah saat pernikahan 15 tahun yang lalu, yang warnanya merah, sepekat warna darah ayah, juga sepekat bulan purnama yang merah merekah.


----------------------
Hasil latihan RLWC. Simak prompt-nya di: http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/09/alter-ego.html

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…