Skip to main content

Orang Tua VS Passion

Terinspirasi dari Reza--salah satu teman ngaleut saya--mengenai twitnya yang berkisah tentang orang tua yang mengarahkan masa depan anak namun berlawanan arah dengan passion anak. Tampak seperti permasalahan keseharian semua orang.

Saya juga dulu begitu, kok. Saya harus masuk IPA agar rentang pilihan jurusan saat kuliah bisa luas, harus masuk universitas yang berdiri di Jalan Ganesha, harus meneruskan skill piano saya padahal saya tidak suka, harus bergerak dibidang psikologi anak karena banyak anak yang error. Tapi saya tidak suka kesemuanya. Saya hobi main piano bukan sebagai profesi, saya cinta psikologi tapi bukan dibidang psikologi anak.

Sampai saya lulus kuliah, saya memutuskan mau menolak segala arahan. Maka saya bekerja sebagai pengajar ABK (yang belakangan diketahui  ini bukan passion saya) lalu ditengah segala kestabilan dan kenyamanan, saya memutuskan untuk keluar dan mengejar passion saya yaitu menulis.

Tentu ya tentu, keluarga saya sulit menerima keputusan tersebut pada awalnya. Namun setelah dijelaskan tentang passion saya, diperlihatkan langkah-langkahnya seperti apa, dan juga ditunjukkan hasilnya, mereka mengerti. Justru kalau ada yang tanya saya ini kegiatannya apa, mereka menjawab saya ini seorang penulis.

Saya pikir justru wajar jika orang tua banyak mengarahkan kalau kita sendiri terlihat gamang dan tidak yakin dengan keputusan kita. Jadinya, kita memang perlu diarahkan ke hal yang terbaik. Namun selain keinginan, harus juga diketahui cara-caranya dan menuju sana.

Orang tua bukan kardus. Selain itu juga ada yang namanya komunikasi. Utarakan, lakukan, dan perjuangkan.

Comments

Ladyonthemirror said…
Aku bersyukur ortuku memberiku kebebasan untuk memilih apa yang kusukai, mereka hanya memberikan arahan dan masukan, selain itu mereka tak melarang mengembangkan hobbyku menulis dan dunia seni lainnya, kayaknya apa yg dilakukan orang tuaku akan kulakukan juga pada anak-anakku.
Budi Krisnadi said…
ahaha, iya.. orang tua bukan kardus ^^;
Nia Janiar said…
@ladyonthemirror: Wah, enak tuh. Tapi saya juga bersyukur nih sempat diarahkan. Mungkin kalau dulu jalannya beda, sekarang pun pasti berbeda. :D

@Budi: Hehe :D
Vendy said…
Repot, karena kita semua tinggal di dalam kardus X))
Nia Janiar said…
Waaahh.. jangan sampai deh. Sekali-kali perlu out of the box.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…