Catatan Perjalanan: Kendan dan Kamojang

09.10.11 adalah tanggal yang cantik, tanggal yang cocok untuk jadian atau menikah. Tapi saya (sayangnya) tidak jadian dan tidak pula menikah. Alih-alih keduanya, saya bersama Geotrek Indonesia pergi ke Situs Kendan dan Kawah Kamojang yang berada di Cicalengka dan Garut.

--setelah dibaca ulang, ternyata dilakukan di hari Sabtu (08/10) tapi lead di atas tampak menarik dan sangat curcol, maka saya biarkan saja--

Kepergian saya ke dua tempat tersebut sebenarnya sangat mendadak. Sudah jauh hari Bang Ridwan, teman saya di Aleut sekaligus panitia dari Geotrek, memberitahukan tentang geotravel ini. Karena seminggu sebelumnya saya mengalami minggu yang berat, maka saya memutuskan di Jumat sore untuk ikut bersenang-senang keesokan harinya. Maaf, curhat.

Destinasi pertama kami adalah Situs Kendan yang berada di Cicalengka. Pak Awang, staf dari BPMIGAS yang menjadi pemandu kami, menjelaskan keadaan situs Kendan ini dari sisi geologis.  Situs Kendan ini terbuat dari bebatuan tuf (batuan dari debu vulkanik) yang isinya mengandung batu obsidian (volcanic glass). Karena batu obsidian terbuat dari magma yang sangat asam serta mengalami pembekuan yang cepat, maka terjadi kristalisasi dan menimbulkan efek tajam ala kaca/gelas di tekstur batunya.

Batu obsidian
Pak Awang, dengan pakaian yang senada dengan batu tuf, sedang menerangkan.
Saya tidak kenal dengan bebatuan. Tapi perkenalan ini memberikan saya pencerahan melalui  tuf yang rapuh dan merasakan tekstur tajam obsidian. Dulu manusia purba menggunakan batu ini untuk perkakas dan senjata. Tiba-tiba di sana saya jadi galau memikirkan bahwa manusia purba itu 'kan tidak sekolah, tapi kok tahu sih mereka harus memotong dan berburu dengan benda tajam? Apakah ini tanda-tanda kearifan yang dimiliki manusia purba yang membedakan mereka dari binatang?


Konon dulu tempat ini merupakan tempat pemujaan. Pernah ditemukan patung Durga yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Selain itu, Kendan ini dulu diperintah oleh Resiguru Manikmaya. Dia adalah keturunan India yang mengembara hingga Indonesia dan menikahi Tirtakencana, putri dari penguasa raja Tarumanegara yaitu Raja Suryawarman. Bahkan Resiguru Manikmaya ini diberi kekuasaan penuh saat Raja Suryawarman mengumumkan semua orang harus tunduk dan patuh terhadap perintah Resiguru Manikmaya.

Wogh! Saya juga mau!

Saat kami mau meneruskan perjalanan, kami bertemu dengan serombongan mobil yang menanyakan apa tujuan kami di sana. Rupanya mereka adalah para pengembang daerah sini yang katanya akan membuat real estate di bukit Kendan. Dan sepertinya mereka takut dengan kamera-kamera besar yang kami bawa. Mungkin kami disangka mata-mata. Mungkin.

Perjalanan selanjutnya adalah ke Kawah Kamojang. Sayangnya diperjalanan saya tertidur sehingga tidak tahu jalur menuju Kamojang. Sebelum ke kawah, kami masuk dulu ke PLTP Kamojang yang dioperasikan oleh PT Indonesia Power. Di antara cuaca dingin, mendung, dan sendu, kami disambut dengan hangat oleh para staf di sana. Belum lagi kami diberikan makanan yang sangaaattt enak.


Setelah masuk ke kantornya dan diterangkan bagaimana kendali mesin terhadap pembangkit listrik se-Jawa, Madura, dan Bali oleh Pak Anen, kami pergi ke kawah Kamojang. Cuaca di luar terlihat mau hujan, apalagi uap sisa pengolahan yang memenuhi area luar gedung layaknya kabut, membuat saya agak harap-harap cemas agar tidak hujan dan kami bisa main ke kawah Kamojang.

Lalu, berangkatlah kami ke area kawah Kamojang. Sebelum pintu gerbang, Pak Awang menjelaskan tentang energi panasbumi yang ada di sini. Saat Pak Awang menjelaskan, satu persatu 'siswa'-nya mundur teratur dan mulai melahap jagung, kentang, ubi rebus, serta bajigur. Siapa yang mampu menolak makanan sehangat ini ditengah cuaca sedingin itu? Untungnya Pak Awang mengerti.

Sebelum pintu gerbang juga terdapat kolam lumpur panas Kawah Manuk dan Kawah Berecek. Melihatnya mengingatkan pada Lapindo. Sisi lumpurnya bisa diinjak. Saat berjalan di atas lumpur yang agak keras, harus hati-hati karena di sana ada lubang air panas.


Di dalam area Kamojang, terdapat sebuah sumur Kamojang-3 buatan Belanda yang mengeluarkan gas dan suara yang sangat kencang. Kencang dalam artian yang sebenarnya yaitu memekakkan telinga. Lalu Abah Omo, penduduk sekitar yang juga pelaku atraksi uap panas, masuk ke area sumur sambil membawa sebilah bambu dan rokok. Dengan teknik tertentu, dia meletakkan bilah bambu dan mengembuskan rokok sehingga terdengar bunyi kereta api. Ternyata, ini adalah Kawah Kereta Api karena suara dan asapnya seperti transportasi umum zaman dulu.

Abah Omo dengan bambu dan rokok.


Jeritan teman-teman hanya membikin Pak Koko tersenyum maklum.
Melalui jembatan kecil yang disampingnya ada sumber mata air panas (fumarol), kami menuju sebuah sauna alam dimana kami akan mandi uap panas di sana. Pak Koko, pemandu serta juru kunci Kamojang, siap 'mengatur' suhu serta arah uap melalui indera keenamnya. Semua peserta pria yang bertelanjang dada itu kadang jerit-jeritan saat uap panas berhembus ke arahnya. Saya dan peserta wanita lain berkomentar sambil terkikik, "Memangnya harus seperti itu ya?" dan saat kami mencoba, justru dua kali lebih heboh.

Di sisi lain juga ada mata air panas yang gejolaknya membuat cipratan-cipratan yang kalau terkenal kulit bisa menimbulkan efek akupuntur. Kebanyakan para pria yang heboh saat cipratan tersebut mengenai kulitnya. Tentu para wanita tidak karena mereka bertelanjang dada. Enak saja. Kami semua memakai baju. Walaupun basah, tenang saja, di sana ada kamar mandi umum yang bisa dipakai untuk ganti pakaian.

Setelah selesai, kami istirahat dan sharing di warung Pak Koko. Sambil sharing, saya disuguhkan sebuah minuman jamu yang terbuat dari kayu lame. Tentu, saya selaku orang yang memiliki kadar penasaran tinggi, saya mencobanya. Saat tegukan pertama, lidah saya terjulur, mata menutup, alis mengkerut. Rasanya pahit sekali!!


Medan menuju Kendan dan Kamojang ini tidak sulit. Selain itu fasilitas di Kamojang sangat baik untuk tempat wisata. Kedua tempat ini saya rekomendasikan untuk orang yang tidak terlalu suka adventure namun tetap ingin merasakan pesona alam Jawa Barat.

Comments

Popular Posts