Esensi Bahagia

Agaknya kemarin-kemarin ini saya melakukan sebuah kesalahan: saya mencari dan menggantungkan kebahagiaan saya pada orang lain. Bukankah--seperti kata Einstein-- jika ingin bahagia, gantungkan itu pada tujuan, bukan pada orang atau barang?

Misalnya begini. Jika saya kecewa dengan satu orang yang tidak bisa memberi kebahagiaan, maka saya akan mencari orang lain (sebagai distraksi) agar saya bisa mendapatkan kebahagiaan. Lantas, kenapa saya harus mencari esensi bahagia pada orang ketimbang membikin sendiri? Bukankah bahagia dan tidak itu kita yang memutuskan?

Salah satu tujuan dari tulisan ini juga untuk mengamini perkataan teman saya bahwa jangan pernah bergantung atau bersandar pada orang lain, karena pada akhirnya kita semua harus bisa berdiri di kaki sendiri.

Bukan berarti tidak butuh orang lain, tapi kita harus mandiri.

Jadi jika saya ingin bahagia dengan cara yang saya sebutkan di contoh atas lagi dan lagi, maka saya layaknya orang bodoh yang menggunakan cara yang sama tapi berharap hasil yang berbeda.

Maka dengan ini saya taubat, saya tidak akan menggunakan orang untuk mencari kebahagiaan.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Comments

Sundea said…
Biarpun lu nggak mau ngegantungin kebahagiaan ke orang lain, gua mau jadi orang lain yg menghadiahkan kebahagiaan.

*menghibur sambil menari2* =D

Terhibur nggak ? =p
Nia Janiar said…
Haha, Deaa .. terhiburr. Menghadiahkan kebahagiaan itu tentu jauh lebih baik daripada menghadiahkan keburukan. He.

Popular Posts